Senin, 01 Oktober 2012

Liburan Plus


Pertama-tama perkenalkan saya Andy (bukan nama sebenarnya). Saat ini saya menginjak 17tahun, dan kisah ini terjadi kira-kira 2 bulan yang lalu, saat aku liburan akhir semester. Waktu itu aku sedang libur sekolah. Aku berencana pergi ke villa tanteku di kota M. Tanteku ini namanya Sofi, orangnya cantik, tubuhnya-pun sangat padat berisi, dan sangat terawat walaupun usia nya memasuki 38 tahun. Aku ingat betul, pagi itu, hari sabtu, aku berangkat dari kota S menuju kota M.

Sesampainya di sana, aku pun disambut dengan ramah. Setelah saling tanya-menanya kabar, aku pun diantarkan ke kamar oleh pembantu tanteku, sebut saja Bi Sum, orangnya mirip penyanyi keroncong Sundari Soekotjo, tubuhnya yang indah tak kalah dengan tanteku, Bi Sum ini orangnya sangat polos, dan usianya hampir sama dengan tante Sofi, yang membuatku tak berkedip saat mengikutinya dari belakang adalah bongkahan pantat nya yang nampak sangat seksi bergerak Kiri-kanan, kiri-kanan, kiri-kanan saat ia berjalan, seeakan menantangku untuk meremas nya.

Setelah sampai dikamar aku tertegun sejenak, mengamati apa yang kulihat, kamar yang luas dengan interior yang ber-kelas di dalamnya. sedang asyik-asyik nya melamun aku dikagetkan oleh suara Bi sum.
"Den, ini kamarnya."
"Eh iya Bi." jawabku setengah tergagap.
Aku segera menghempaskan ranselku begitu saja di tempat tidur.
"Den, nanti kalau ada perlu apa-apa panggil Bibi aja ya?" ucapnya sambil berlalu.
"Eh, tunggu Bi, Bibi bisa mijit kan? badanku pegel nih." Kataku setengah memelas.
"Kalau sekedar mijit sih bisa den, tapi Bibi ambil balsem dulu ya den?"
"Cepetan ya Bi, jangan lama-lama lo?"
"Wah kesempatan nih, aku bisa merasakan tangan lembut Bi Sum memijit badanku." ucapku dalam hati.
Tak lama kemudian Bi Sum datang dengan balsem di tangan.
"Den, coba Aden tiduran gih." suruh Bi Sum.
"Eh, iya Bi." lalu aku telungkup di kasur yang empuk itu, sambil mencopot bajuku. Bi Sum pun mulai memijit punggungku, sangat terasa olehku tangan lembut Bi Sum memijit-mijit.
"Eh, Bi, tangan Bibi kok lembut sih?" tanyaku memecah keheningan.
Bi Sum diam saja sambil meneruskan pijatannya, aku hanya bisa diam, sambil menikmati pijitan tangan Bi Sum, otak kotorku mulai berangan-angan yang tidak-tidak.
"Seandainya, tangan lembut ini mengocok-ngocok penisku, pasti enak sekali." kataku dalam hati, diikuti oleh mulai bangunnya "Adik" kecilku.

Aku mencoba memecah keheningan di dalam kamar yang luas itu.
"Bi, dari tadi aku nggak melihat om susilo dan Dik rico sih."
"Lho, apa aden belum dibilangin nyonya, Pak Susilo kan sekarang pindah ke kota B, sedang den Rico ikut neneknya di kota L." tuturnya.
"Oo.., jadi tante sendirian dong Bi?" tanyaku
"Iya den, kadang Bibi juga kasihan melihat nyonya, nggak ada yang nemenin." kata Bi Sum, sambil pijatannya diturunkan ke paha kiriku. Lalu spontan aku menggelinjang keenakan.
"Ada apa den?" tanyanya polos.
"Anu Bi, itu yang pegel." jawabku sekenanya.
"Mm.. Bibi udah punya suami?" kataku lagi.
"Anu den, suami Bibi sudah meninggal 6bulan yang lalu." jawabnya. Seolah berlagak prihatin aku berkata.
"Maaf Bi, aku tidak tahu, trus anak Bibi bagaimana?"
"Bibi titipkan pada adik Bibi" katanya, sambil pijitannya beralih ke paha kananku.
"Mm.. Bibi nggak pingin menikah lagi?" tanyaku lagi.
"Buat apa den, orang Bibi udah tua kok, lagian mana ada yang mau den?" ucapnya.
"Lho, itu kan kata Bibi, menurutku Bibi masih keliatan cantik kok." pujiku, sambil mengamati wajahnya yang bersemu merah.
"Ah.., den andy ini bisa saja" katanya, sambil tersipu malu.
"Eh bener loh Bi, Bibi masih cantik, udah gitu seksi lagi, pasti Bibi rajin merawat tubuh." Godaku lagi.
"Udah ah, den ini bikin Bibi malu aja, dari tadi dipuji terus."

Lalu aku bangkit, dan duduk berhadapan dengan dia.
"Bi.., siapa sih yang nggak mau sama Bibi, sudah cantik, seksi lagi, tuh lihat tubuh Bibi indahkan?, apalagi ini masih indah loh.." kataku, sambil memberanikan menunjuk kearah gundukan yang sekal di dadanya itu. Secara reflek dia langsung menutupinya, dan menundukkan wajahnya.
"Aden ini bisa saja, orang ini sudah kendur kok dibilang bagus." katanya polos.
Seperti mendapat angin aku mulai memancingnya lagi.
"Bibi ini aneh, orang payudara Bibi masih inah kok bilangnya kendur, tuh lihat aja sendiri" kataku, sambil menyingkapkan kedua tangannya yang menutupi payudaranya.
"Jangan ah den, Bibi malu."
"Bi.. kalau nggak percaya, tuh ada cermin, coba Bibi buka baju Bibi, dan ngaca." Lalu aku mulai membantu membuka baju kebaya yang dikenakannya, sepertinya ia pasrah saja. Setelah baju kebaya nya lepas, dan ia hanya memakai Bh yang nampak sangat kecil, seakan payudaranya hendak mencuat keluar. Aku pun mulai menuntunnya ke depan cermin besar yang ada di ujung ruangan.
"Jangan den, Bibi malu nanti nyonya tahu bagaimana?" tanyanya polos.
"Tenang aja Bi, tante Sofi nggak bakal tahu kok" Aku yang ada dibelakang nya mulai mencopot tali BH nya, dan wow.. tampak olehku didepan cermin, sepasang bukit kembar yang sangat sekal dan padat berisi, melihat itu "Adik" kecilku langsung mengacung keras sekali.

Aku pun tak menyia-nyiakan kesempatan emas ini. Aku langsung meremas nya dari belakang, sambil ciumanku kudaratkan ke lehernya yang jenjang tersebut. Bi Sum yang telah setengah telanjang itu, hanya bisa mendesah dan matanya "Merem-melek".
"Oh.. den jangan den, uhh.. den, Bibi diapain, den"
Aku tak menggubris pertanyaannya malahan aku meningkatkan seranganku. Kini ia kubopong ke ranjang, sambil menciumi putingnya yang merah mencuat itu, ia pun kelihatan mulai menikmati permainanku, dan Bi Sum telah kurebahkan diranjang, lalu aku mulai lagi menciumi putingnya, sambil menarik jarik yang dipakainya.
"Uhh.. den shh.. Bibi enak den uh.. shh.. teruus den"
Aku pun mulai membuka seluruh pakaianku dan ciumanku terus turun keperutnya, dan dengan ganasnya ku pelorotkan CD yang dipakainya, aku terdiam sesaat seraya mengamati gundukan yang ada dibawah perutnya itu.
"Den, punya aden besar sekali" katanya sambil meremas penisku, lalu kusodorkan penisku kemulutnya.
"Bi, jilatin ya.. punya Andy." Bibir mungil Bi Sum mulai menjilati penisku. uuhh.., sungguh nikmat sekali rasanya.
"Mmhh.. ohh.. Bi terus, kulum penisku Bi.., tak lama kemudian Bi Sum mulai menyedot-nyedot penisku, dan rasanya ada yang akan keluar di ujung penisku.
"Bi.. teruuss, Bi.. aku mmaauu keeluuar, oohh" jeritku panjang dan tiba-tiba, serr maniku muncrat dalam mulut Bi Sum, Bi Sum pun langsung menelannya.

Aku pun mulai pindah posisi, kini aku mulai menjilati memek Bi Sum, tampak didepan mataku, memek Bi Sum yang bersih, dengan seikit rambut. Rupanya Bi Sum sudah tidak sabar, ia menekan kepalaku agar mulai menjilati memeknya dan sluurpp.. memek Bi Sum kujilati sampai kutenukan sesuatu yang mencuat kecil, lalu kuhisap, dan gigit kecil, gerakan tubuh Bi Sum mulai tak karuan, tanganku pun tidak tinggal diam, ku pilin-pilin putingnya dengan tangan kiriku sedangkan, tangan kananku ku gunakan menusuk memeknya sambil lidahku kumasukkan sedalam-dalamnya.

"Ohh.. den.. teruuss den jilat teruss.. memek Bibi den.. mmhh" katanya sambil menggeliat seperti cacing kepanasan.
"Ouhh den.. Bibi mau.. keluarr.. den ohh, ahh, den, Bibi keeluuaarr, akhh." Bi Sum menggelinjang hebat dan serr cairan kewanitaannya kutelan tanpa sisa. Tampak Bi Sum masih menikmati sisa-sisa orgasme nya. Lalu aku mencium bibirnya lidahku kumasukkan kedalam mulutnya, ia pun sangat agresif lalu membalas ciumanku dengan hot.
Aku pun mulai menciumi telinganya, dan dadanya yang besar menempel ketat di dadaku, aku yang sudah sangat horny langsung berkata, "Bi aku masukkan sekarang ya..". ia hanya bisa mengangguk pelan.

aku pun mengambil posisi, kukangkangkan pahanya lebar-lebar, kutusukkan penisku ke memek nya yang sudah sangat becek. Bless.. separuh penisku amblas kedalam memeknya, terasa olehku memeknya menyedo-nyedot kepala penisku. kusodokkan kembali penisku, bless.. peniskupun amblas kedalam memeknya, aku pun mulai memaju-mundurkan pantatku, memeknya terasa sangat sempit.

"Den.. ouhh.. teruuss.. denn.. mmhh..sshh." desahan erotis itu keluar dari mulut Bi Sum, aku pun tambah horny dan kupercepat sodokkanku di memeknya.
"Oh.. Bii memek kamu sempit banget, ohh enak Bii, goyang teruuss Bii.. ouhh.."
"Den.. cepatt.. den.. goyang yang cepat.. Bibi.. mauu.. keluar.. den.."
aku mulai mengocok penisku dengan kecepatan penuh, tampak Bi Sum menggelinjang hebat.
"Den.. Bibi.. mau keluuaarr.. ouhh.. shhshshshh.."
"Tahan Bii.. aku.. juga mau keluuarr.."

Lalu beberapa detik kemudian terasa penisku di guyur cairan yang sangat deras.. serr.. penisku pun berdenyut hebat dan, serr.. terasa sangat nikmat sekali, rasanya tulang-tulang ku copot semua. aku pun rubuh diatas wanita setengah baya yang tengah menikmati orgasmenya.

"Bi.. terima kasih ya.. memek Bibi enak" kataku sambil mencupang buah dadanya.
"Den kapan-kapan Bibi dikasih lagi yaa."

akhirnya kami tertidur dengan penisku menancap di memek Bi Sum, tanpa aku sadari permainan ku tadi dilihat semua oleh tanteku, sambil dia mempermainkan memeknya dengan jarinya. sekian pengalaman saya dengan Bi Sum, pembantu tante saya yang sangat menggiurkan. lain kali akan saya ceritakan pengalaman saya dengan tante saya yang mengintip permainan saya dengan Bi Sum, yang tentunya lebih menghebohkan, karena tante saya ini orang yang hipersex, jadi nafsunya sangat besar, dan meledak-ledak.

*****

Bagi para pembaca, khususnya ibu-ibu, tante-tante, pokoknya wanita yang stw-stw, bila anda punya saran atau ingin berkenalan dengan saya, kirim saja lewat email, pasti saya balas. Dan jika ada yang mau tukar pikiran saya tunggu suratnya di email saya.

E N D

Mbak Dewi, Motivator Birahiku


Dari mana saya mau mulai, yang jelas saya sangat menyukai tulisan 17Tahun.com walaupun tidak semuanya, tapi sudah cukup menghibur. Di bawah ini merupakan kisah dari beberapa kisah kehidupan seksual saya yang selama ini saya tidak pernah menceritakan kepada siapapun, saya orangnya tertutup untuk soal-soal rahasia sangat saya jaga, itu komitmen saya.

*****

Saya adalah seorang pegawai swasta yang bergerak dalam bidang komputer. Beberapa minggu yang lalu saya ditelpon melalui HP untuk memperbaiki komputer pada salah satu pelanggan yang belum saya kenal yang jelas suaranya seorang wanita, saya perkirakan berumur 25 tahunan karena suaranya sangat manja dan dewasa.

Pada waktu yang ditentukan saya datangi, rumahnya tak terlalu luas tapi cukup apik penataan taman, saya pencet bel, yang keluar seorang wanita setengah tua dengan penampilan yang mempesona, dengan kulit bersih tanpa make up dan bibirnya yang sensual hingga membuat buyar konsentrasi. Setelah beberapa saat menunggu di ruang tamu saya dipersilakan masuk ke ruang kerja, dimana komputer tersebut berada. Beberapa waktu berselang selesai pekerjaan saya, sebelum pamit saya menyuruh mencoba komputer tersebut apa sudah baik atau masih ada yang tertinggal.

Berawal dari coba mencoba akhirnya saya jadi akrab untuk berbincang-bincang dengan wanita setengah baya, yang mengaku bernama Dewi (nama samaran). Yang ternyata seorang istri yang selalu ditinggal oleh suaminya yang gila kerja. Waktu suaminya hanya tersita oleh pekerjaan, memang soal materi selalu diberikan dengan sangat cukup tapi soal batin yang tak pernah terpikirkan oleh suaminya terhadap istrinya, saya pikir hal ini persoalan klise belaka, tetapi dampaknya sangat berarti bagi kehidupan berumah tangga.

Tak terasa waktu berjalan terus seiring dengan konsultasi Dewi terhadap saya tentang persoalan rumah tangganya, katanya saya dapat berbicara seperti konsultan rumah tangga, hal ini memang saya akui suatu kelebihan saya bila menghadapi wanita yang sedang dirundung musibah, tapi bukan sebagai kedok untuk berbuat yang tidak-tidak.

Setelah selesai saya pamit dan memberikan No. HP saya dengan pesan bila terjadi sesuatu dan memerlukan saya hubungi saya.
Beberapa hari kemudian saya ditelpon untuk bertemu disuatu tempat yang menurut saya sebagai tempat yang sangat romantis bagi dua insan yang sedang kasmaran namanya (ada aja).
"Mas, saya sangat berterima kasih atas konsultasinya waktu lalu", ujar Dewi dengan mata yang sendu dan bibir tergetar halus.
"Saya hanya orang biasa yang hanya dapat berbicara untuk mencari jalan keluar", jawab saya sebisanya karena dengan tatapan matanya saya dapat merasakan getaran birahi yang sangat besar.
"Saya ingin Mas temani saya untuk berbagi rasa dengan perasaan Mas yang sebenarnya"
Wah mati aku, akhirnya saya bimbing kedalam tempat yang nyaman dan privacy. Bagaikan seorang kekasih saya berkasi-kasihan diatas sebuah ranjang empuk dan berudara nyaman.

Saya lumat bibirnya dengan penuh perasaan dan saya genggam kedua telapak tangannya sehingga kami merasakan kebersamaan yang bergelora. Lidahnya terus bergoyang didalam rongga mulut seirama dengan alunan musik bossas. Lama kami ber ciuman mesra, kurengkuh lehernya dengan jilatan halus yang merindingkan bulu kuduknya, Dewi melenguh.
"Mas terus Mas jangan kecewakan saya" sebentar-bentar tangannya bergreliya ke dada dan selangkangan saya, tak tinggal diam dengan gaya yang meyakinkan saya kecup putingnya dengan sedotan-sedotan kecil dan gigitan mesra, bibir saya meluncur kebawah menuju pusar, saya mainkan lidah saya dibundaran pusarnya wah wangi farfumnya menyentuh birahi saya. Tangannya merengkuh alat pitas saya yang sudah tegang, Dewi kaget, mass kok besar sekali, saya bisikan, jangan takut pasti muat. Memang Dewi belum dikaruniai anak, jadi masih seperti perawan, apalagi punya suaminya tak terlalu besar.

Saya jilat permukaan vaginanya, Dewi bergelinjang menarik pantatnya hingga menjauhi bibir saya, saya terperanjat, kenapa?
"Mass saya belum pernah seperti itu, maaf yah", saya hanya tersenyum dan meneruskan permainan bibir kebagian betis dan seluruh paha.
Beberapa waktu berselang tangannya mendekap kepala saya dengan sangat kencang seolah-olah tak mau dilepaskan, sesak napas saya. saya tau Dewi sudah klimaks tapi dalam dalam benak saya ini baru permulaan. Setelah dekapannya melemah saya baringkan celentang, terhamparlah padang rumput dan pegunungan yang indah seindah tubuhnya tanpa sehelai benangpun. Dengan gaya konpensional saya mulai melaksanakan tugas saya sebagai seorang lelaki, saya selipkan punya saya disela-sela bibir kemaluannya hingga ambles kepalanya, Dewi menjerit kecil.
"Mass, tahan Mass ngiluu Mas terlalu besar".

Memang saya sadar dan tak langsung main tancap, saya tarik dan tekan secara perlahan-lahan, setelah vaginanya teradaptasi Dewi berubah dengan gaya yang agresip ditekan pantatnya ke atas hingga punya saya ambles semua, saya imbangi dengan gerak-gerakan yang atraktif, saya balikkan tubuhnya, saya dibawah dan Dewi di atas dengan demikian Dewi lebih leluasa untuk mengekspresikan birahinya yang selama ini tertahan. Benar adanya dengan gerakan yang dahsyat Dewi bergerak naik turun sambil berdesis-desis hingga saya bingung membedakan antara desisan bibir bawah dengan bibir atas. Beberapa saat kemudian Dewi mengejan dan menegang sambil menggigit dada saya, setelah itu saya tak mau kehilangan momen saya lakukan penyerangan dengan gaya profesional atas, bawah, depan, belakan, kiri dan kanan, hanya satu yang tak mau saya paksakan yaitu mengoral punya saya, karna saya tau Dewi nanti stress, saya pikir bila nanti pada satnya tiba mungkin bukan batangnya yang dilumat tapi sekalian bijinya dan sangkarnya.
"Dewwii saya mau sampai nihh. saya keluarin dimanaa?"
"Mas di luar saja dulu yah".

Dengan secepat kilat saya tarik kemaluan saya dan saya keluarkan di dadanya hingga beberapa semprotan protein meleleh diantara dua bukit dan sedikit terciprat ke dagu. Setelah semprotan terakhir keluar, matanya terbuka dan tangannya menggenggam kemaluan saya, tanpa saya sadari dikulumnya kemaluan saya, hingga saya terperajat dan tak yakin, yah mungkin inilah yang dinamakan puncak dari birahi kaum hawa yang sudah mencapai batas ambang sehingga tak berlaku lagi rasa malu, jijik, dan kotor yang ada hanya nafsu dan nafsu.

Tanpa istirahat kemaluan saya bangun kembali sehingga menegang sampai kuluman mulut Dewi terasa sempit dan rongga mulutnyapun membesar. Gerakan maju mundur mengakibatkan saya bergelinjang kekanan dan kekiri sambil sesekali mencengram rambutnya yang terurai lepas. Konsentrasiku hampir terganggu dengan gerakannya yang cepat hampir klimaks saya dibuatnya, tapi sebelum itu saya lepaskan untuk mengurangi ketegangan saya, saya balik menyerang dengan jari jemari menari-nari diseputar liang vaginanya dan sesekali menggesekkan ke area G-Spot wanitanya sehingga Dewi merancau tak karuan, tangannya menarik sprei hingga terlepas dari sangkutannya. semakin lama semakin dahsyat pergolakan birahi saya dan Dewi, saya rasakan aliran cairan hanggat membasahi jari saya dan tak mau ketinggalan moment yang indah ini saya balikan tubuhnya sehingga tengkurap dan saya tekan dengan kemaluan saya dari arah belakang, Dewi meringis.
"Mas pelan-pelan, ngilu"

Saya atur irama sehingga lama kelamaan menjadi asyik dan Dewipun melakukan gerakan yang membuatnya bertambah assyik dan masyukk. Dadaku bergetar ketika hasrat itu akan mencapai puncak, ku tarik kemaluanku dan kusemprotkan ke atas punggungnya dangan kedua tangan ku mencengram kedua bongkah pantatnya yang masih kencang untuk ukuran Dewi. Dan lubang anusnya masih bersih tak ada tanda-tanda bekas gesekan atau luka atau penyakit wasir, nafsu saya melihatnya tapi hasrat itu saya pendam, mungkin (dalam benak saya) lain waktu Dewi meminta untuk di setubuhi anusnya karena memang bila nafsu sudah datang birahipun memuncak yang pada akhirnya dunia terasa sangat-sangat indah melayang-layang dan sukar diutarakan yang ada hanya dirasakan. Pikiran ngeres saya ternyata terbaca oleh Dewi, dengan sedikit mesra tangannya menarik kepalaku dan membisikan sesuatu.
"Mas, coba dong masukin dari belakang, Dewi ingin coba sekali aja tapi pelan-pelan yah".

Antara sadar dan tak sadar saya anggukan kepala tanda setuju. Karena badan saya sangat lelah saya istirahat sebentar dan membersikan sisa-sisa mani yang menempel pada kaki dan perut. Saya minum beberapa teguk minuman yang dihidangkan dikamar tamu, setelah rilek saya kembali kekamar, ternyata Dewi masih tergolek diatas tempat tidur dalam posisi tengkurap, wah inilah yang dinamakan lubang surga, terletak hanya kurang lebih tujuh centimeter antara lubang vagina dengan lubang anus. Saya berfikir mana yang lebih sempit, wah yang pasti lubang anus yang lebih sempit, tanpa basa-basi saya mainkan jari saya dengan sedikit ludah untuk pelicin kesekitar permukaan anusnya, Dewi terbangun dan merasakan adanya sesuatu yang lain dari pada yang lain, dan jariku terus menusuk nusuk lubang anusnya, saya tidak merasa jijik karena memang anus Dewi bersih dan terawat.

Dengan hati-hati saya masukkan kejantanan saya kedalam anusnya, susah sekali masukinnya karena memang punya saya besar dibagian kepalanya sedang Dewi anusnya masih sangat rapat, saya nggak abis akan saya ludahin agar licin, lama-lama kepala kemaluan saya masuk kedalam anusnya, Dewi menjerit kecil, saya tahan beberapa saat kemudia dengan rileks saya tekan setengah dan tarik kembali, begitu terus-enerus sehingga Dewi merasakan sensasi yang luar biasa.
"Mas kok enak sih, lain gitu dengan melalui vagina".
Saya pun waktu itu baru merasakan lubang anus tuh seperti itu, menyedot dan hangat, hampir-hampir saya tidak kontrol untuk cepat-cepat keluar, dengan tarik nafas secara perlahan saya bisa kendalikan emosi saya sehingga permainan berjalan dengan waktu yang panjang, Dewi meringis dan bola matanya sebentar-bentar putih semua menandakan birahi yang sangat dahsyat.

Kemaluan saya semakin tegang dan berdenyut tanpa memberi tahu kepada Dewi saya semprotkan mani saya kedalam liang anusnya, Dewi kaget dan mengejan sehingga kemaluan saya seakan-akan disedot oleh jetpump kekuatan besar. saya tergeletak diatas punggungnya sambil memeluk perutnya yang indah, walaupun ada sedikir kerutan, karena memabg umur tidak bisa dikelabui, saya dan Dewi tertidur sejenak seakan melayang-layang di dunia lain. Kami bersetubuh dengan kemesraan hingga dua jam setengah sebanyak tiga ronde dipihak saya.

Saya lihat tatapan matanya mengandung kepuasan yang sangat dahsyat begitu pula saya sehingga membuat motivasi saya untuk bersetubuh dengan wanita-wanita setengah baya yang memang membutuhkan siraman biologis, karena wanita setengah baya secara teori sedang dalam puncak-puncaknya mengidamkan kepuasan birahi yang tinggi, istilahnya sedang mengalami fase puber kedua, apalagi bila sang suami tak memberikannya. Saya memang lebih menyukai wanita setengah baya dari pada ABG, karena wanita setengah baya mempunyai naluri kewanitaan yang besar sehingga dalam bersetubuh dapat saling memberikan respon yang sangat artistik bila dilakukan dengan mesra.

Setelah kami mandi kamipun bergegas untuk kembali pada tugas masing-masing, dari akhir pembicaraan saya dengannya, saya dipesankan agar merahasiakan hubungan ini, setelah itu saya diselipkan sehelai cek untuk konsultasi katanya. tanpa kwitansi dan tanda terima seperti biasanya bila terjadi transaksi. Sebenarnya saya tak tega mengambil cek tersebut, karena apa yang saya lakukan dengannya adalah sama-sama iklas sehingga hubungan menjadi sangat sangat sangat asyik masyuk, tapi saya pikir uang buat Dewi nggak masalah karena memang untuk biaya pengeluaran lebih kecil dari pada yang diterima dari suaminya, selain itu saya juga sedang memerlukan biaya untuk memperbaiki kendaraan saya yang secara kebetulan pada waktu itu sedang mengalami perbaikan mesin.

Setelah peristiwa itu saya masih terus dihubungi bila Dewi perlu, dan pernah saya dikenalkan dengan rekan-rekan yang senasib dan saya pernah dihubungi oleh teman-temanya dengan saling menjaga rahasia satu sama lain, tapi ceritanya tak jauh beda, yang jelas saya akan rahasiakan sampai akhir hayat.

*****

Oke saya pikir cerita ini bukanlah membuka rahasia tapi hanya membagi pengalaman dalam dunia maya, dan lagi nama dan tempat adalah fiktif belaka, bila ada rekan-rekan yang berminat konsultasi dengan saya saya siapkan waktu, hubungi email saya gadingpratama@yahoo.com, selanjutnya terserah anda. Dan motto saya, kerahasiaan adalah segalanya buat hidup saya.

E N D

Mbakku Sayang, Mbakku Milik Orang


Bermula kenalan yang tidak sengaja di atas bus patas AC, setiap pagi aku naik bus dari terminal di kawasan Jakarta Timur. Sampai suatu hari ada seorang wanita yang naik bersamaan denganku. Kalau diperhatikan wanita ini tampak biasa saja usianya, kuperkirakan sekitar 35-an, tetapi dengan setelan blazer dan rok mini yang ketat warna biru tua, sangat kontras dengan warna kulitnya yang putih. Hari itu dia naik bersamaku dan di luar dugaanku dia duduk di sampingku, padahal ada bangku lain yang kosong, tapi okelah kuanggap itu adalah wajar. Tapi sungguh aku tidak berani menegur, kadang kala aku melirik ke arah pahanya yang putih dan sedikit di tumbuhi bulu-bulu halus dipermukaannya. Hal ini membuatku betah duduk bersamanya selain juga wanginya membuatku sangat bangga bisa duduk berdampingan dengannya.

Begitulah hingga hari ketiga hal yang sama terjadi lagi dan kali ini kucoba, mau iseng-iseng berhadiah, maka kutegur dia, "Selamat pagi Mbak..!" "Pagi juga.." si Mbak menjawab dengan senyum yang cantik di mataku, lalu kubuka pembicaraan "Kayaknya sudah 3 hari berturut-turut kita sama-sama terus.. ya? Mbak mau turun dimana sih..?" dia jawab "Di Sarinah Mas.." dan aku bertanya, "Apa Mbak kerja disana..?" lalu dijawab, "Oh tidak, aku kerjanya dekat Sarinah.." Lalu terjadilah percakapan biasa meliputi kemacetan lalu lintas sampai dia tanya balik, aku bekerja dimana, lalu kubilang di komputer, dan dia bilang bahwa kantornya banyak pakai komputer. Lalu dia berkata, "Boleh dong minta kartu nama", maka kuberikan sebuah kartu nama, tapi waktu kuminta kartu namanya, dia tidak kasih dengan alasan tidak punya. Rupanya hari ini hari baikku dan segera kutahu namanya "YULI" (bukan sebenarnya), selanjutnya kami selalu bersama-sama setiap pagi dan telepon pun mulai berdering dengan segala basa basi.

Suatu ketika aku tidak melihat dia selama 5 hari berturut-turut. Aku sempat menunggu, sampai telat tiba di kantor. Kuhubungi telepon di kantornya juga tidak masuk, akhirnya dia telepon juga, katanya sakit. Tepatnya hari Senin aku kembali bertemu, kali ini tanpa mengenakan seragam hanya memakai celana jean's dan kaos T-shirt sehingga dadanya yang montok itu tampak jelas membuat perhatian orang-orang di sekitar kami, kali ini dia mengajakku untuk bolos, "Mas aku butuh bantuan nih", katanya.
Lalu aku tanya, "Apa yang bisa aku bantu..?"
"Mas, kalau bisa hari ini nggak usah ke kantor temenin aku ke Bogor yuk.. kalau Mas nggak keberatan lho..?"
Aku berpikir sejenak, lalu aku tanya lagi, "Memang kamu mau nggak kerja hari ini?"
"Aku sedang ada masalah nih, ya.. agak pribadi sih, kira-kira bisa nggak Mas."
Aku nggak pikir lagi lalu kujawab, "Ya.. dech aku temenin..", dalam hati sih, wah kasihan ini customer aku yang sudah pada janjian.

Dengan alasan keperluan keluarga aku ijin tidak masuk, aku jalan-jalan sama Yuli ke rumah temannya di kota Bogor. Setiba disana aku dikenalkan sama temannya namanya Nia, mereka bicara berdua di belakang, sementara aku di ruang depan seorang diri, setelah itu mereka kembali lagi dan kita mengobrol bersama-sama. Rupanya si Nia punya janji dengan temannya kalau mau pergi jadi kita tinggal berdua saja di rumah itu. Sambil mengobrol di karpet dan nonton TV, dengan manja Yuli tiduran di pahaku, sambil bercerita macam-macam dan aku menjadi pendengar yang baik, sampai dia bertanya,
"Capek nggak Mas ditidurin pahanya gini..?"
Lalu aku jawab, "Ah nggak apa-apa kok Mbak!" dalam hati sih pegel juga nih sudah itu batang kemaluan aku agak sedikit bangun gara-gara aku mengintip dadanya yang montok dan putih. Dia pakai BH yang cuma separuh (atas lebih terbuka) jadi gundukan daging di dadanya agak menonjol, di luar dugaan dia tanya lagi. Tapi kali ini tanyanya nggak tahu lagi, iseng barangkali,
"Burungnya nggak keganggu kan ditidurin sama aku?" lalu aku jawab sekenanya saja,
"Keganggu sih nggak, cuman agak bangun", eh dia tersenyum, sambil memegang batang kemaluanku,
"Biarin deh bangunin saja, pengen tahu, kayak apa sih!"
"Ya sudah bangunin saja", jawabku pasrah sambil berharap hal itu beneran,
"Ah yang benar Mas? kalau gitu buka dong biar aku bangunin",
"Jangan di sini Mbak, nanti kalau Mbak Nia datang gimana kita",
"Oh tenang saja si Nia pulangnya baru ntar sore, dia teman baik aku, aku sering nginap disini, dia juga suka nginap dirumah aku", terus aku diam saja.
"Ayo dong di buka, katanya burungnya pengen dibangunin!"

Dalam keadaan duduk dan menyandar di dinding di tambah lagi Yuli yang tiduran tengkurap di kakiku, jadi agak repot juga aku buka jeansku, cuma aku ploroti sampai batas paha saja. Begitu dia lihat batang kemaluanku, langsung di genggamnya sambil berkata,
"Ini sih masih tidur, ya? biar aku bangunin!"
Lalu mulai dikocok dan tangan yang sebelah lagi mengelus bagian kepala, membuatku merasa geli tapi nikmat. Lalu ketika batang kemaluanku mulai mengeras, dia semakin mendekatkan wajahnya dan mulai menjilat dengan ujung lidahnya di sekitar bagian bawah kepala kemaluanku. Sekali-kali dia gigit-gigit kecil, hal ini membuat aku merem melek, akhirnya kukatakan,
"Mbak buka T-shirnya dong!"
"Lho kenapa Mas?" katanya. Aku menjawab,
"Pengen lihat saja!"

Lalu sambil tersenyum dia bangun dan mulai membuka ikat pinggang, kancing celana dan retsleting celana jeansnya, sehingga perut bagian bawahnya tampak putih dan sedikit tampak batas celana dalamnya, lalu dia tarik T-shirt ke atas dan dilepaskan, sehingga dengan jelas aku lihat pemandangan indah dari dadanya yang montok (BH no 36), dan selanjutnya dia mulai menurunkan celana jeansnya, sekarang tinggal pakai BH dan celana dalam saja. Oh.. CD-nya yang mini sekali, betapa indah tubuh wanita ini montok dan sekel setelah itu kembali dia tiduran ke posisi semula. Tapi kali ini dia tidak hanya memainkan batang kemaluan aku tetapi sudah mulai dimasukkan ke dalam mulutnya. Terasa lidahnya bermain di atas kepala kemaluan aku dan oh.. nikmatnya. Sambil membuka baju, aku mencoba mengangkat pantatku agar lebih masuk, rupanya dia tahu maksudku, dia masukan full sampai ke tenggorokannya, aku tidak pernah mengukur batang kemaluanku sendiri tapi di dalam mulutnya batang kemaluanku terasa sudah mentok dan masih tersisa di luar kira kira 2 ruas jari orang dewasa, sampai Yuli sempat tersendak sesa'at. aku pun segera berputar lalu merebahkan badan sehingga posisi sekarang seperti 69.

Kubiarkan dia mempermainkan kemaluanku, sementara aku ciumi paha bagian dalam Yuli yang mulus dan putih, sambil meremas bagian pantatnya yang masih tertutup celana dalam. Pelan pelan kutarik celana dalamnya, sampai terlihat dengan jelas bulu lebat di sekitar kemaluannya sehingga kontras dengan warna kulitnya yang putih, begitu lebatnya sampai ada bulu yang tumbuh di sekitar lubang duburnya. Oh, indah sekali panorama yang ada di depanku, dan aku pun mulai menjilat vaginanya yang wangi sebab kelihatannya dia rajin pakai shampo khusus untuk vagina. Pada sa'at itu terdengar suara merintih yang lirih. "Oh Mas aku nggak tahan nih.. ah", dan dia tampak bersemangat. Lubang kemaluannya mulai berlendir, buah dadanya mengeras, akhirnya aku bangun dan kubalikkan tubuhnya dan kulepas BH-nya, sehingga tampak tubuhnya yang montok dalam keadaan bugil. Kuperhatikan dari atas sampai bawah tampak sempurna sekali, putih, mulus, bulu kemaluannya tampak lebat. Waktu kuperhatikan itu, tangannya terus memegang batang kemaluanku, akhirnya kurenggangkan kedua pahanya dan kuangkat sehingga tampak jelas lubang vagina dan anusnya.

Lalu kutarik pelan-pelan batang kemaluanku dari mulutnya dan merubah posisi. Kupeluk dia sambil menciumi bibir, leher, serta telinganya. Hal ini membuat dia terangsang sambil berkata lirih, "Mas masukin saja Mas..!" lalu aku bangun dan aku pandang dia, dan kuatur posisi kedua kakinya dilipat sehingga pahanya menempel di dadanya. Lalu aku berjongkok dan kupegang batanganku dan kuarahkan ke vaginanya lalu kutempelkan kepala kemaluanku. Kutekan sedikit demi sedikit, dan dia mulai merintih, tangannya mencekram tanganku dengan kuat, matanya memejam, kepalanya bergoyang kiri dan kanan dan vaginanya basah hebat. Ini membuat kepala kemaluanku basah, dan aku mulai berirama keluar masuk, tetapi hanya sebatas kepalanya saja. Kini ia mulai mencoba menggoyangkan pinggangnya dan mencoba menekan agar batang kemaluanku masuk total tapi aku pertahankan posisi semula dan mempermainkannya terus. Akhirnya karena tidak tahan dia pun memohon, "Mas.. oh.. masukin saja Mas, nggak kuat nih.. ohh.. Mas", pintanya. Akhirnya aku mulai mendorong batang kemaluanku perlahan tapi pasti. Dengan posisi jongkok dan kedua kakinya berada di atas pundakku, aku mulai menciumi dengkulnya yang halus itu, Mbak Yuli pun mulai menggoyangkan pinggangnya ke atas dan ke bawah, kira-kira 10 menit kemudian dia mulai merenggang dan gerakannya tidak stabil sambil merintih.
"Mas.. ooh.. Sstt", dadanya dibusungkan, tampak putingnya menonojol.
"Ayo Mas.. akhh.. terus.. Mas.." aku pun mulai memompa dengan irama lebih cepat, sesekali dengan putaran sehingga bulu kemaluanku mengenai bagian klitorisnya. Hal ini yang menyebabkan Mbak Yuli "Orgasme" atau klimaks, dan terasa cairan hangat menyiram batang kemaluanku, tubuhnya merenggang hebat.

"Mas Ohh.. psstt.. akh.." nafasnya memburu, sesa'at kemudian dia terdiam dan aku pun menghentikan goyanganku. Kutarik pelan-pelan batang kemaluanku dan setelah dicabut tampak ada bekas cairan yang meleleh membasahi permukaan vaginanya. Nafasnya tampak ngos-ngosan seperti orang habis lari. Aku pun duduk terdiam dengan kemaluan masih tegang berdiri, Mbak Yuli pun tersenyum. Sambil tiduran kembali di atas kedua pahaku dan rambutnya terurai sambil dia pandangi batang kemaluanku yang masih berdiri. Tangannya memegang sambil berkata,
"Mas ini nikmat sekali, diapaiin sih kok bisa segede begini." Lali kujawab,

"Ah ini sih ukuran normal orang asia", dan dia bilang,
"Tapi ini termasuk besar juga lho Mas." aku hanya terdiam sambil mengambil sebatang rokok, lalu menyulutnya, dan kulihat Mbak Yuli tetap mempermainkan batang kemaluanku dan berkata,

"Kasih kesempatan 5 sampai 10 menit lagi ya Mas, biar aku bisa nafsu lagi", aku terdiam hanya menganggukan kepala. Ronde kedua dimulai, di rebahkan badanku lalu dia ambil posisi di atas badanku, dia kangkangin kedua pahanya, dipegangnya batang kemaluanku yang masih keras dan tegang lalu dimasukan ke dalam lubang vaginanya, dan dia pun mulai melakukan gerakan naik dan turun, seperti penunggang kuda. Kedua buah dadanya berayun-ayun lalu secara reflek kupegang kedua putingnya dan kupilin pilin, membuat Mbak Yuli terangsang hebat. Kira-kira hampir setengah jam kemudian aku merasakan spermaku akan segera keluar. Segera aku balikkan tubuhnya dan kupompa kembali vaginanya dengan nafsu, Mbak Yuli merasakan aku akan melepaskan spermaku, dia segera berkata,
"Mas keluarin di luar saja, aku ingin lihat", aku diam saja sesa'at kemudian Mbak Yuli mulai merintih,
"Aduh Mas ohh.. nikmat.. Mas.. akhh.. mass", akhirnya Mbak Yuli kembali orgasme membuat vaginanya basah. Hal ini membuat aku semakin nikmat. Akhirnya aku tak mau menahan lebih lama spermaku, terasa sudah di ujung tak dapat kutahan lagi. Segera kutarik batang kemaluanku, tangan kananku mengocok batang kemaluanku sendiri dan tangan kiri menekan pangkal batang kemaluanku sendiri. Pada sa'at itu Mbak Yuli memasukan salah satu jarinya kelubang anusku membuat spermaku muncrat banyak sekali berhamburan di atas dada, perut, dan diatas rambut kemaluannya. Akupun segera berbaring di sampingnya, istirahat sebentar, lalu kekamar mandi untuk mandi bersama.

Dikamar mandi kami saling menyabuni, sambil kuremas kedua buah dadanya yang basah oleh sabun. Mbak Yuli pun memainkan batang kemaluanku yang masih setengah tidur tapi masih saja mengeras. Lama-lama aku tegang lagi karena permainan tangan Mbak Yuli dengan sabunnya, waktu aku tanya,
"Mbak tadi kok minta dikeluarin di luar kenapa?" dia hanya bilang senang melihat kemaluan laki laki lagi keluar spermanya.
"Mas ini bangun lagi ya?" Aku hanya mengangguk sambil tanya,
"Boleh dimasukin lagi nggak?" Dia mengangguk sambil berkata,
"Dari belakang ya Mas!" sambil membalikan badan yang masih penuh sabun dan posisi setengah membungkuk. Kedua tangannya berpegang di sisi bak kamar mandi dan kedua kakinya direnggangkan sehingga tampak jelas sekali lubang vaginanya, juga lubang anusnya. aku jongkok dibelakangnya sambil mempermainkan lidahku di sekitar vagina dan kedua pantatnya, lamat-lamat kudengar desahan suara diantara gemericik air yang mengalir ke bak mandi. Segera kuambil sabun sebanyak mungkin kugosok di batang kemaluanku, lalu kugenggam batang kemaluanku dan kepala kemaluanku kutempel di permukaan lubang vaginanya.

Terdengar desahan dan aku mulai menggerakkan batang kemaluanku maju mundur, nikmat sekali dan Mbak Yuli pun tampak menikmati dengan menggerakkan pinggulnya ke kanan dan ke kiri. Kurang lebih 10 menit Mbak Yuli kembali ke puncak kenikmatan. Lendir hangat kembali membasahi batang kemaluanku. Aku bertanya,
"Keluar lagi Mbak?" ia hanya menganggukkan kepalanya, lalu pelan-pelan kembali kugerakkan batang kemaluanku maju mundur sambil menunggu Mbak Yuli terangsang lagi, kulihat lubang duburnya yang agak mencuat keluar, lalu kucoba masukan jari telunjukku ke dalam duburnya setelah aku beri sedikit sabun, terdengar sedikit rintihan,
"Sstt.. ah Mas pelan-pelan", rintihan yang membuat aku semakin nafsu, tiba tiba aku ingin sekali mencoba untuk menikmati lubang duburnya yang kelihatannya masih "Perawan" itu, kutarik pelan batang kemaluanku yang masih basah dan licin itu akibat lendir dari lubang kemaluan Mbak Yuli.

Kutempelkan kepala kemaluanku yang mengeras di permukaan duburnya, kupegang batang kemaluaku sehingga kepalanya mengeras. Aku mencoba menekan batang kemaluanku, karena licin oleh sabun maka kepala kemaluanku segera melesak ke dalam, dia pun mengeluh,
"Akhh aduh mass.. sstt ohh!" aku berhenti sea'at, dan dia bertanya,
"Kok dimasukin di situ Mas?" lalu kujawab dengan pertanyaan,
"Sakit nggak Mbak?" Mbak Yuli diam saja, dan aku melanjutkan sambil berdiri agak membungkukkan badan, tangan kiriku melingkar di perutnya menahan badannya yang mau maju, dan tangan kananku berusaha memegang vaginanya mencari klitorisnya. Hal ini membuat dia terangsang hebat, dan kutekan terus sampai masuk penuh. Terasa olehku otot anusnya menjepit batang kemaluanku, permainan ini berlangsung 1/2 jam lamanya, dan kembali aku tak mampu menahan spermaku di dalam duburnya sambil kupeluk tubuhnya dari belakang, kutekan batang kemaluanku sedalam mungkin, tubuhku bergetar dan mengeluarkan cairan sperma dalam duburnya, kubiarkan sesaat batang kemaluanku di dalam anusnya sambil tetap memeluk tubuhnya dari belakang, dan tubuh kami masih berlumuran dengan sabun., Kami melepaskan nafas karena kecapaian lalu kami selesaikan dengan saling menyirami tubuh kami, lalu berpakaian dan duduk kembali menunggu Mbak Nia pulang, Mbak Yuli pun tertidur di sofa karena kecapaian.

Ketika mulai senja kulihat Mbak Nia pulang dan aku membukakan pintu, dia bertanya,
"Mana si Yuli?" aku tunjukan dan dia berkata,
"Oh lagi tidur, capek kali ya?" aku hanya diam saja dan Mbak Nia masuk kamarnya, tiba-tiba aku ingin pipis dan aku ke kamar mandi melewati kamar Mbak Nia. Secara nggak sengaja aku melihat dari antara daun pintu yang tidak rapat, Mbak Nia sedang ganti baju, kulihat dia hanya mengenakan celana dalam saja. Tubuhnya bagus, putih bersih dan sangat berbentuk. Sesa'at aku terpana dan ketika ia mengenakan baju aku buru-buru ke kamar kecil untuk pipis, dan waktu keluar dari kamar mandi, Mbak Nia tengah menunggu di depan pintu, sambil tersenyum dia bilang,
"Tadi ngintip ya?" aku hanya tersenyum dan berkata,
"Boleh lihat semuanya nggak?" dia menjawab,
"Boleh saja tapi nggak sekarang, nggak enak sama.." sambil menunjukkan tangannya ke arah ruang tamu. Aku paham maksudnya, lalu dia masuk kamar mandi sambil tangannya menyempatkan meremas kemaluanku, aku segera kembali ke ruang tamu dan membangunkan Mbak Yuli.

Akhirnya aku dan Mbak Yuli sering melakukan hubungan seks dengan berbagai style di motel, villa kadang-kadang di rumahku sendiri, dan ketika aku ingin ke rumahnya beliau selalu melarang dengan berbagai alasan. Ternyata Mbak Yuli ini sudah bersuami dan memiliki seorang anak, ini membuatku sangat kecewa. Di sa'at aku mulai benar benar mencintainya, dan Mbak Yuli pun sebenarnya menginginkan hal yang sama, tapi beliau sudah terikat oleh tali perkawinan. Hanya saja dia tidak pernah merasakan nikmatnya hubungan seks dengan sang suami, dan sa'at jumpa dengan diriku dia cukup lama mengambil keputusan untuk menjadikan diriku sebagai kekasihnya (PIL), katanya bersamaku dia menemukan apa yang dia inginkan (kata dia lho). Hubungan kami berlangsung setahun lebih sampai dia pindah bersama suaminya ke Surabaya. Tapi aku yakin suatu hari aku pasti ketemu lagi. Oh Mbak Yuli sayangku, ternyata kamu milik orang lain. Hingga sa'at ini aku masih berharap ketemu lagi, setiap pagi aku masih setia menunggu kamu, walau tidak ketemu tapi kenanganmu masih tersisa dalam hatiku.

TAMAT

Mbak Lisa yang Seksi


Aku seorang mahasiswa tingkat akhir sebuah PTS di Depok Jurusan Ilmu Komputer. Aku mempunyai pengalaman yang tidak dapat kulupakan sampai sekarang. Aku mempunyai teman wanita yang dulu adalah temanku semasa SMU. Tidak terasa aku tidak pernah bertemu dengannya sudah 4 tahun. Hingga akhirnya dalam suatu acara reuni aku bertemu dengannya. Temanku sebut saja Vina, adalah seorang wanita karier yang lumayan mapan.

Berbeda dengan keadaanku yang belum mapan, sebenarnya aku merupakan anak dari keluarga yang berada. Tetapi aku pernah mengecewakan orangtuaku dalam hal prestasi semasa SMU dulu, sehingga aku diusir secara halus oleh orangtuaku. Aku tidak pernah lagi ditegur dan diberikan biaya hidup maupun kuliah. Tetapi dengan kegigihanku, aku berhasi melanjuntukan kuliah dengan biaya sendiri. Dan sampai saat ini aku mendapatkan penghasilan dari hasil kerja sambilan.

Sampai suatu ketika, aku mulai merintis usaha dan aku cuti kuliah 2 semester, pada mulanya usahaku lancar hingga suatu ketika aku ditipu oleh teman baik kakakku. Akhirnya aku bangkrut dengan dililit hutang yang lumayan besar. Hingga akhirnya aku memutuskan kuliah kembali sambil mencari pinjaman untuk membayar hutang-hutangku.

Aku juga menceritakan kesulitan hidupku kepada Vina, ia bejanji akan membantu kesulitanku jika ada kesempatan. Aku sangat terharu mendengar ketulusan hatinya yang mau membantuku. Hingga pada suatu kesempatan, ia meminta bantuanku dan jika bantuanku berhasil maka Vina pun akan memberikan bantuan untuk membayar hutang-hutangku. Maka aku pun mencoba untuk melaksanakan apapun yang ia inginkan.

Vina memberitahukan kepadaku bahwa ia dipercaya oleh perusahaannya untuk memenangkan tender. Kesulitan Vina, orang yang ingin di-loby-nya adalah seorang wanita paruh baya kira-kira umur 30-an, tetapi ia sangat dingin dan tegas. Setelah Vina mempelajari kelemahan wanita tersebut, akhirnya ia menemukan penyebab keangkuhan wanita tersebut. Ternyata ia belum berumah tangga, padahal ketika aku melihat foto wanita yang dimaksud, aku memberikan penilan bahwa wanita tersebut sangat cantik.

Bila dibandingkan dengan artis lokal, wajahnya mirip dengan Sofia Lacuba. Entah kenapa wanita secantik dia belum mempunyai suami. Kemudian aku bertanya kepada Vina, bantuan apa yang dapat kuberikan untuknya. Vina memintaku untuk merayu wanita tersebut agar luluh hatinya, sehingga ia mau memenangkan tender untuk perusahaan Vina. Aku berperan seolah-olah aku adalah partner Vina dalam mengurus tender tersebut. Aku pun menyanggupinya, walaupun aku belum tahu bagaimana caranya untuk meluluhkan hati wanita tersebut.

Pada suatu kesempatan, aku dikenalkan kepada wanita tersebut oleh Vina. Ia bernama Ibu Lisa. Tetapi entah kenapa, sejak pertama berkenalan hingga kami sedang makan siang, ia selalu menatapku dengan pandangan yang dalam. Sebagai laki-laki aku jadi gugup, apalagi dipandangi terus menerus oleh wanita secantik Ibu Lisa.

Setelah pertemuan tersebut aku sering berusaha mendekati Ibu Lisa untuk me-loby, hingga akhirnya kami bertemu untuk lunch. Aku mendapatkan cara, agar lebih familiar aku memanggilnya dengan sebutan Mbak Lisa. Aku menganggapnya sebagai kakakku, ternyata ia menyukai panggilan tersebut. Setelah beberapa kali aku sering bertemu denganya, akhirnya ia memintaku untuk bertemu malam Sabtu pada jam dinner di suatu restoran elite di Jakarta. Pada kesempatan ini ia yang mentraktirku.

Pada malam yang telah ditentukan, aku pergi sendiri menemuinya di restoran yang telah ditentukan. Aku mencari meja yang telah dipesan atas nama Lisa. Ketika aku menemukan meja tersebut dengan dibantu oleh pelayan restoran, aku sempat terdiam sejenak karena aku tidak menyangka bahwa Mbak Lisa yang biasanya kulihat dengan pakaian dan gaya yang selalu formal, pada malam itu ia terlihat menakjubkan. Ia mengenakan gaun hitam terusan ketat tanpa lengan dengan belahan dada yang sangat rendah, sehingga terlihat payudaranya yang sangat montok dan kencang. Aku jadi gugup melihat pemandangan yang sangat indah tersebut, sampai akhirnya kegugupanku buyar setelah ia menegurku dan mempersilakanku untuk duduk. Ia tersenyum ramah dan sedikit menggoda.

Dengan penerangan beberapa lilin dan sorotan lampu yang tepat mengenai seluruh tubuh Mbak Lisa, aku dapat melihat jelas lekukan tubuh di balik gaun malam yang ternyata tipis yang dikenakan oleh Mbak Lisa. Setelah aku dapat menguasai diri, aku mulai membuka percakapan dengan memuji keadaan Mbak Lisa yang sangat cantik dan menggoda. Sambil menyantap hidangan kami membicarakan hal-hal ringan. Tetapi ketika aku membicarakan mengenai pekerjaan, ia menyuruhku untuk melupakan sejenak mengenai pekerjaan. Mbak Lisa memberikan alasan bahwa pada malam ini ia ingin santai. Setelah selesai dinner, Mbak Lisa mengajakku pergi ke beberapa cafe di Jakarta.

Aku memperhatikan pada malam itu Mbak Lisa terlihat sangat enerjik dan seringkali berbuat manja kepadaku. Hingga pada pukul 12.30 malam, Mbak Lisa memintaku untuk mengantarnya pulang. Aku mengendarai kendaraan BMW terbaru milik Mbak Lisa menuju ke apartemennya di kawasan Selatan Jakarta. Setelah sampai di apartemennya dan berbincang sejenak, aku hendak pamitan untuk pulang. Tetapi Mbak Lisa menahanku dengan alasan ia ingin mandi dulu.

Kira-kira setengah jam kemudian ia selesai mandi dan telah mengenakan pakaian tidur dari sutra yang sangat tipis sekali. Ia menghampiriku dan memintaku untuk bermalam di apartemennya dengan alasan ia tidak dapat tidur dan ingin membicarakan mengenai pekerjaan. Aku menyetujui ajakannya karena aku berpikir ini demi kelancaran rencanaku. Kemudian ia menyuruhku mandi dengan air hangat dan memberikan kaos dan training untuk pakaian tidurku.

Setelah aku mandi, kira-kira pukul 2 malam kami mulai membicarakan mengenai pekerjaan. Tetapi aku tidak konsentrasi karena pikiranku terganggu pandangan indah di depanku. Hingga pada suatu kesempatan, ketika ia sedikit menunduk untuk merapihkan berkas-berkas kerja, aku melihat sepasang payudaranya yang putih mulus serta montok tergantung tanpa ada yang menyangganya. Hal itu berlangsung cukup lama, dan terasa olehku kemaluanku berdiri tegak karena pemandangan indah tersebut.

Tanpa kuduga, ternyata Mbak Lisa memperhatikan perbuatanku dan ia menegurku, "Sony kamu kenapa, kok melongo..?"
Sontak saja aku terkejut dan dengan spontan aku jawab dengan tidak sadar, "Mbak Lisa body-nya sexy sekali.."
Mendengar jawabanku Mbak Lisa bukannya marah, malahan ia mendekatiku dan menarik tanganku untuk diletakkan di atas payudaranya. Karena aku sudah bernafsu, kemudian kuremas-remas payudaranya dengan kedua tangannku, dan aku dekatkan bibir untuk melumat bibir Mbak Lisa yang merekah merah menantang. Dengan sigap ia menarik kepalaku. Kami berciuman dan saling meremas dengan penuh gairah.

Kemudian Mbak Lisa menarikku menuju tempat tidurnya, dan membuka seluruh celanaku. Ia sangat antusias sekali melihat rudalku yang sudah siap terbang.
"Sony, punyamu besar sekali, sudah lama aku nggak pernah lihat kemaluan laki-laki."
Aku bertanya balik, "Memangnya Mbak Lisa nggak punya pacar..?"
Ia menjawab, "Aku sudah lima tahun tidak punya pacar, dan pacarku tidak mempunyai rudal panjang dan besar seperti milikmu. Sony boleh nggak aku mengulum rudalmu..?"
"Oh.., terserah Mbak aja deh..," jawabku dengan penuh gairah.

Mbak Lisa mulai menjilat dan mengulum rudalku dengan posisi ia duduk di tepi ranjang, sedangkan aku berdiri di hadapannya. Setelah puas, kemudian ia membuka seluruh pakainnya, dan aku pun berbuat sama. Kini kami sama-sama telanjang bulat.

Kini giliranku yang menjilat dan menciumi payudaranya yang montok. Ia mengerang pelan menahan geli dan nikmat. Tidak ada satu sentipun tubuh Mbak Lisa yang kulewati. Ketika aku mulai memasukan jari-jari tanganku, ia mulai kelojotan. Apalagi waktu aku menciumi vaginanya dan menjilati bagian klitorisnya, ia mulai mengerang keenakan, sampai-sampai bulu-bulu halus di tubuhnya merinding.

Setelah cukup lama kami foreplay, ia memintaku untuk segera memasukkan rudalku ke dalam vaginanya.
"Sony.., cepetan masukin barangmu..! Aku sudah nggak tahan nih.. sshh.." kembali ia memohon kepadaku.
Aku pun mengambil ancang-ancang untuk menembakkan 'rudal scud' ke dalam 'bunker' milik Mbak Lisa. Mba Lisa membuka kedua pahanya lebar-lebar, sehingga aku dapat melihat pemandangan yang membuat jantungku serasa mau copot. Tidak menunggu lama, aku mulai mengarahkan rudalku ke dalam vagina Mbak Lisa. Begitu masuk dengan susah payah, Mbak Lisa menarik pantatku agar seluruh rudalku amblas ke dalam 'bunker'-nya.

Aku menaik-turunkan pantatku dengan irama tidak terlalu cepat, sedangkan Mbak Lisa menggoyang pinggulnya sehingga kami merasakan kenikmatan yang tiada taranya. Sambil memainkan rudalku, aku juga mengulum dan menjilat-jilat payudara serta puting susu Mbak Lisa. Sesekali bibir kami saling berpagutan, dan diselingi ciumanku ke arah lehernya yang putih.

Setelah kira-kira 20 menit kami saling melancarkan serangan yang bertubi-tubi, akhirnya aku menembakkan spermaku dengan muncratan yang kencang. Mbak Lisa yang merasakan tembakan air mani yang panas di dalam vagina, menjerit puas. Kemudian aku pun merasakan lubang vagina Mbak Lisa mengeluarkan cairan lengket yang membasahi rudalku. Aku perhatikan Mbak Lisa sampai mendongakkan kepalanya dan melengkungkan punggungnya ke belakang sambil menekan erat-erat pantatku, karena ia menikmati permainan seks yang sudah lama tidak ia rasakan. Kami melakukan seks tersebut berulang-ulang sampai tubuh kami lemas, dan kami tertidur saling berpelukan.

Sejak saat itu kami resmi menjadi pacaran dan sering melakukan seks kapanpun kami inginkan. Sedangkan tendernya Vina akhirnya dimenangkan oleh Mbak Lisa. Dan aku sekarang ketagihan ngeseks dengan wanita-wanita cantik yang kesepian yang usianya di atasku. Aku melakukan itu karena aku butuh bantuan wanita-wanita tersebut. Tetapi aku tetap memilih wanita-wanita yang kutiduri.

Karena selain membutuhkan bantuannya, aku juga mempunyai selara tinggi terhadap wanita. Oya, aku juga menjadi sangat akrab dengan Vina, kami sering melakukan hubungan seks yang tentunya tanpa diketahui oleh pacar Vina dan Mbak Lisa. Dan pengalamn ngeseksku dengan Vina tidak kalah hot-nya dengan yang kulakukan bersama Mbak Lisa. Bila nanti ada kesempatan, aku akan menceritakan pengalaman ngeseksku dengan Vina.

Sekarang bila ada wanita cantik kesepian yang butuh bantuanku, mudah-mudahan aku dapat membantu, karena aku juga saat ini sedang butuh bantuan modal untuk merintis usahaku, dan jika berminat, silakan menghubungiku via e-mail dan siapa tahu kita dapat saling membantu.

TAMAT

Malang Indah


Aku segera menekan bel yang ada pada pintu gerbang. Beberapa saat kemudian pintu gerbang dibuka. Seorang satpam berbadan super gemuk mengamatiku, lalu menegurku.
"Cari siapa mas..?" tanyanya.
"Apa betul ini rumah Oom Fadly..?" tanyaku balik.
"Ya betul.. Mas ini siapa?" tanyanya lagi.
"Saya keponakan Oom Fadly dari Jember."
"Kenapa nggak bilang dari tadi, Mas pasti Den Sony, kan..? Tuan sedang keluar kota, tapi Nyonya ada lagi nungguin."

Sekejap aku sudah berada di ruangan dalam rumah mewah yang diisi perabotan yang serba lux. Tak lama kemudian seorang wanita cantik berkulit putih bersih dan bertubuh seksi muncul dari ruang dalam. Kalau kutebak usianya sekitar 30 tahunan, tapi bagikan seorang gadis yang masih perawan.

Dia tersenyum begitu melihatku, "Kok terlambat Son..? Tante pikir kamu nggak jadi datang.." ucap wanita seksi itu sambil terus memandangiku.
"Iya Tante.. ma'afin Sony ya.." jawabku pendek.
"Ya sudah.., kamu datang saja Tante sangat senang.. Pak Lendra.., antarkan Sony ke kamarnya..!" perintah Tante Juliet pada Lendra.

Lalu aku mengikuti Pak Lendra menuju sebuah kamar yang ada di bagian bawah tangga. Aku cukup senang menempati kamar itu, karena aku langsung tertidur sampai sore hari. Ketika bangun aku segera mandi, lalu berganti pakaian. Setelah itu aku keluar kamar hendak jalan-jalan di halamanbelakang yang luas. Ketika sedang asik menghayal, tiba-tiba suara lembut dan manja menegurku. Aku agak kaget dan menoleh ke belakang. Ternyata tanteku yang sore itu mengenakan kimono dengan rokok Marlboro di tangannya, rupanya ia baru bangun tidur.

"Oh Tante.." sapaku kikuk.
Tante tersenyum, dan pandangan yang nakal tertuju pada dadaku yang bidang dan berbulu.
"Kamu sudah mandi ya, Son..? Tampan sekali kamu.." kata tanteku memuji.
Aku kaget bukan main ketika ia mendekatiku, tangannya langsung mengelu-elus bagian penisku, tentu saja aku jadi salah tingkah.

"Saya mau ke kamar dulu Tante.." kataku takut kalau nanti dilihat Oom Fadly.
"Tunggu sebentar Son, Tante ingin minta tolong sama kamu.. Sony mau khan mijitin kaki Tante.., soalnya keseleo waktu main bola tadi.." kata Tante Juliet sambil merengek.
Lalu dia duduk seenaknya, hingga kimono yang tidak dikancing seluruhnya tersingkap, dan bagian dalam tante terlihat olehku. Gila.., ternyata ia tidak memakai CD, sempat juga kulihat bulu-bulu tipis di sekitar kemaluannya seperti habis dicukur.

Aku menahan nafas dan mencoba mengalihkan pandangan, tapi Tante Juliet yang tahu hal itu malah menarik lenganku dan mengangkat kaki kanannya menunjukkan bagian yang sakit. Aku terpaksa melihat betis dan paha tante yang mulus dan padat itu.
"Tolong diurut ya Son.., tapi pelan-pelan aja ya.." ucapnya lembut.
Terpaksa aku memijit betis tanteku, meskipun hatiku cemas dan bingung. Apalagi ketika aku mencuri pandang melihat paha dan selangkanganya, sehingga nampak sekilas bagian yang berwarna merah muda itu. Tanteku melirik ke arahku sambil tersenyum genit, aku semakin bingung dan malu.

Itu pengalamanku di hari pertama di rumah Oom Fadly. Sudah tiga Hari Oom Fadly belum pulang juga, padahal aku ingin bertemu dengannya, sedangkan tiap malam aku diminta oleh tante untuk menemaninya ngobrol, bahkan tidak jarang disuruh menemani menonton VCD porno. Benar-benar gila.Hingga pada suatu malam tanteku merintih kesakitan. Waktu itu tante sedang nonton TV sendirian.

Tiba-tiba wanita itu memekik, "Achh.., aduh.., tolong Son..!" keluhnya sambil memegangi keningnya.
"Kenapa Tante..?" tanyaku kaget dan khawatir.
"Kepala Tante agak pusing.., aduh.. tolong bawa Tante ke kamar Son..!" keluh tante sambil memegangi kepalanya.
Aku jadi kebingungan dan serba salah.
"Saya panggil Pak Lendra dulu ya Tante..?" usulku sambil ingin pergi.
Tapi dengan cepat tanteku melarangnya, "Nggak usah Son, lagi pula Pak Lendra Tante suruh ke Palangkaraya ngawal barang."

Aku jadi bertambah bingung. Terpaksa kutuntun tanteku untuk naik ke ruang atas. Tante merebahkan kepalanya pada pelukanku, aku jadi gemeteran sambil terus menaiki tangga.Sesampainya di dalam kamar, tante merebahkan tubuhnya yang seksi itu dengan telentang. Aku menarik napas lega dan bermaksud meninggalkan kamar. Baru saja kubalikkan tubuh, suara lembut itu melarangku.
"Kamu mau kemana..? Jangan tinggalkan Tante.., tolong pijitin Tante.. Son..!"
Mendengar itu seluruh tubuhku jadi teringat pesan papa agar menuruti perkataan Oom dan Tanteku.

Perlahan kubalikkan badan, ternyata tanteku telah melepas kimononya. Dan kini hanya tinggal CD saja. Tubuhnya yang masih padat membuat nafsuku naik, payudara yang masih montok dan menantang itu membuat penisku mulai tegang, karena aku belum pernah melihat keindahan tubuh wanita dalam keadaan telanjang seperti ini, apalagi tanteku menggeliat perlahan. Desahan bibirnya yang tipis mengundang nafsu dan birahiku, dan penisku semakin dibuatnya tegang. Kuberanikan diri melangkah menuju ranjang.

Begitu sampai, tanteku yang pura-pura pusing itu tiba-tiba bangkit, lalu memelukku dan mencium bibirku dengan penuh nafsu. Wanita yang hipersex itu dengan cepat melucuti seluruh pakaianku.
"Jangan Tante.., jangan, saya takut.." pintaku sambil mau memakai pakaianku kembali.
"Kalo kamu menolak, Tante akan teriak dan mengatakan pada semua orang bahwa kamu mau memperkosa Tante.." ancam tanteku.
Aku hanya terdiam dan pasrah. Wanita itu kembali mencumbuku, diciuminya dan dijilatinya tubuhku. Begitu tangan halusnya mengenggam penisku, aku langsung membalas ciumannya dan mulai menjilati payudaranya, lalu kukulum putingnya yang berwarna merah agak kecoklatan itu. Tanteku mendesah perlahan.

Selanjutnya kami memainkan posisi 69, sehingga penisku dihisap dan dikemutnya. Nikmat sekali, kurenggangkan kedua pahanya sambil kujilat-jilat kemaluannya yang mulai basah itu.
"Ahh.., ayo terus jilat Son..! Jangan berhenti..!" erang tanteku keenakan.
Rupanya tanteku mengeluarkan cairan dari dalam liang kewanitaannya. Cairan itu memuncrat di wajahku, lalu kuhisap dan kutelan semua. Aku semakin terangsang, kujilati lagi kali ini lebih dalam, bahkan sampai ke duburnya. Kemudian kami berganti posisi, kali ini aku berdiri dan tante jongkok sambil mengulum penisku yang sudah sangat tegang.

Ternyata tanteku pandai sekali menjilat penis, tidak sampai 30 menit aku sudah keluar.
"Ahh.., ayo Tante.., terus jilat sayang.., acchh..!" desahku sambil kudorong keluar masuk di mulutnya penisku ini.
"Tante.. Sony mau keluar nih.., achh.. yeahh..!" erangku sambil kumuncratkan maniku di mulutnya.
Tante menelan semua maniku, bahkan masih mengocoknya berharap masih ada sisanya.

Setelah beberapa saat penisku mulai bangun kembali. Setelah tegang dibimbingnya penisku masuk ke liang kewanitaannya. Kali ini aku di atas dan tante di bawah. Agak susah sih, mungkin sudah lama tidak service oleh Oom Fadly. Setelah kepalanya masuk, kudorong perlahan hingga masuk semuanya ke dalam.
"Ayo Son..! Masukin dong Sayang..!" pinta tanteku sambil menggerakkan pantatnya ke atas dan ke bawah karena ia sekarang berada di bawah.
Akhirnya kudorong keluar masuk penisku dengan gerakan yang cepat, sehingga semakin keras erangan tanteku.

Beberapa saat kemudian aku sudah ingin keluar, "Aahh..! Tante.., Sony udah mau keluar.., ahh..!" kataku.
"Sabar Sayang.., Tante sebentar lagi nih..! Yeahh.. ohh.. ahh.., ***** me Son..! Kita barengan ya Sayang..? Oh.. yeah..!"
Rupanya tanteku juga hampir orgasme. Rasanya seperti ada yang memijat-mijat penisku dan kakinya dilingkarkan ke pantatku. Tante bergetar hebat dan memelukku sambil kemaluannya mengeluarkan cairan yang menyemprot penisku. Tidak lama aku juga mengeluarkan air mani dan spermaku di dalam vaginanya. Terasa begitu nikmatnya dunia ini. Akhirnya kami berdua terkapar lemas.

"Hebat bener kamu Son.., Tante nggak nyangka baru kali ini Tante merasakan kenikmatan yang luar biasa..!" tuturnya dengan nafas terengah-engah.
Aku diam tak menjawab, tapi dalam hati aku merasa bersalah telah berhubungan dengan tanteku dan takut ketahuan Oom Fadly. Tante turun dari ranjang tanpa busana, lalu dia menyalakan sebatang rokok.

"Bagaimana kalau Oom Fadly sampai tahu, Tante..? Saya takut.., saya merasa berdosa.." kataku lemah.
Tapi tanteku malah tersenyum dan memelukku dengan mesra.
"Asal kamu tidak memberitahu orang lain, perbuatan kita aman. Lagi pula Oommu itu udah nggak bisa melakukan hubungan badan sejak lama. Dia itu impotent, Son..!" tutur wanita tanpa busana yang penuh daya tarik itu.
"Jadi semua ini Tante lakukan karena Oom Fadly tidak bisa menggauli Tante lagi, ya..?" tanyaku.
"Ya. Bukan sekali ini saja Tante melakukan hal seperti ini.., sebelum sama kamu, Tante pernah melakukannya dengan beberapa teman tante. Terus terang Tante nggak tahan kalau 1 hari tidak disentuh atau dipeluk laki-laki.." tutur Tante.

Aku jadi geleng kepala mendengar penjelasan tanteku. Lalu aku bergerak mau pergi, tapi dengan cepat tante menahanku dan mengusap-usap dadaku yang berbulu.
"Son.., kamu harus bersihkan badanmu dulu.., mandilah supaya segar..!" ucapnya lembut.
Aku tak menjawab hanya menarik nafas panjang, lalu melangkah ke kamar mandi. Tubuhku terasa letih namun puas juga.

TAMAT

Sabtu, 15 September 2012

New Year Encounter


Sehari menjelang tahun baru, aku masih juga sibuk memilih-milih acara untuk bertahun baru. Ini adalah pertama kalinya aku akan melewatkan tahun baru di Singapura, jadi aku ingin melakukan sesuatu yang spesial, sesuatu yang dapat kukenang saat kembali ke Indonesia.

Ada beberapa acara yang sudah masuk dalam daftarku, tetapi yang paling menarik perhatianku adalah acara clubbing bersama teman-teman sekantor ke salah satu diskotik di daerah Mohammed Sultan. Kudengar daerah itu sangat terkenal sebagai daerah hiburan malam, selain itu pergi bersama teman-teman sekantor tentu lebih baik daripada pergi bersama orang-orang yang tidak begitu kukenal. Aku pun memantapkan diri pada pilihan ini dengan menghubungi temanku yang menjadi panitia acara guna mengkonfirmasi kehadiranku.

Singkat kata waktu yang ditunggu pun hampir tiba, kini aku tengah berjalan sepanjang jalan Mohammed Sultan bersama beberapa orang teman. Suasana di sekitar daerah ini benar-benar ramai, sepertinya hampir semua anak muda singapura datang ke daerah ini untuk berpesta. Kemana mata memandang hanya terlihat kerumunan orang dan antrian mobil.

Tak lama kemudian kami bergabung bersama teman-teman lainnya di tempat tujuan. Sambil sedikit bertegur sapa dengan yang lainnya, aku mengambil minuman dan mulai mencari tempat duduk yang strategis untuk menikmati suasana malam ini. Dan aku menemukannya di samping seorang temanku yang sedang asyik dengan teman wanitanya. Kutepuk pundak temanku perlahan sebelum duduk di sampingnya. Ia juga membalas menepuk pundakku sekilas kemudian meneruskan obrolannya kembali.

Untuk sesaat perhatianku terpaku pada lawan bicaranya, kelihatannya cukup manis dan sexy. Aku bisa melihat sedikit bagian atas buah dadanya karena ia mengenakan tanktop berdada rendah dan paha putihnya tampak mengintip dari sisi rok ketatnya. Alangkah indahnya apabila malam ini aku bisa memiliki pasangan seperti dia, pikirku.

Lamunanku buyar saat kurasakan ada tangan yang menepuk pundakku. Aku menoleh mencari sang pemilik tangan itu dan kutemukan seorang gadis manis lain yang sedang tersenyum kepadaku, kemudian kulihat bibirnya mengucapkan sesuatu yang tidak dapat kutangkap dengan jelas. Aku berdiri dengan maksud untuk memperjelas ucapannya saat teman di sebelahku juga berdiri dan berbisik-bisik sebentar di telinga gadis itu.

"Hey, kenalkan ini Corrine, dia roommate-nya pacarku" kata temanku sesaat setelah mereka selesai. Aku pun menjulurkan tangan untuk berkenalan dan langsung disambut oleh Corrine.
"Tadi dia bilang kalau kamu duduk di tempat dia. Aku sudah jelaskan bahwa kamu dari Indonesia dan tidak mengerti bahasa mandarin" kata temanku lagi.
"Oh, maaf sekali kalau begitu" jawabku sambil bergeser ke samping dan mempersilakan Corrine duduk kembali di tempatnya.

Ia pun berjalan melewatiku dan langsung duduk kembali di tempatnya. Sesaat aku tetap berdiri di sampingnya sambil bermaksud mencari tempat lain sampai Corrine kembali menepukku.

"Duduklah di sini saja" katanya sambil menepuk pinggiran sofa.
"Tidak apa-apa kok"
"Ok Thanks" jawabku sambil perlahan menempelkan pantatku ke pinggiran sofa yang cukup tebal itu.

Bermula dari situ obrolan antara kami terus bergulir. Ia banyak bertanya tentang Indonesia, khususnya tentang Jakarta. Rupanya ia juga pernah ke Indonesia tapi hanya ke Bali. Sebaliknya aku pun banyak bertanya tentang Singapura. Ia berkata suatu hari nanti ia bersedia mengajakku melihat-lihat kota Singapura.

Obrolan kami masih terus berlanjut ketika beberapa teman mengajak turun ke dance floor. Corrine pun langsung berdiri dan menarik tanganku untuk ikut turun. Kami bergandengan dengan yang lain membentuk kereta api dan mulai berbaur dengan orang-orang yang sedang asyik bergoyang. Karena dance floor sudah penuh sesak maka kamipun harus bergoyang sambil berdesakan.

Suasana semakin seru saat beberapa gadis berpakaian sexy mulai berani berjoget di atas meja bar. Semakin lama mereka bergoyang semakin sensual, seolah saling bersaing satu sama lain, semakin mengundang applause dan seruan pengunjung lainnya.

"Di indonesia tidak ada yang seperti itu?" tanya Corrine kepadaku saat aku tengah asyik menikmati pertunjukan itu.
"Ada, tetapi kurasa gadis-gadisnya lebih sexy di sini" jawabku tanpa mengalihkan perhatian dari meja bar.
"Pantas mata kamu tidak pernah lepas dari arah sana" katanya lagi sambil jemari lentiknya mencubit halus pinggangku. Aku pun tertawa mendengar sindirannya, kuraih tangannya dari pinggangku lalu kugenggam dengan kedua tanganku.
"Apakah kamu cemburu kalau aku terus memperhatikan mereka?" candaku. Kali ini mataku sudah kembali tertuju pada wajah manisnya, menunggu ekspresi apa yang akan keluar atas perkataanku tadi.
"Tidak, aku hanya takut bola matamu keluar dari tempatnya apabila kau terus seperti itu" balasnya sambil tertawa.
"Baiklah kalau begitu aku akan memperhatikan kamu saja sehingga kamu bisa menangkap bola mataku apabila mereka keluar dari tempatnya".

Ia tertawa semakin lepas kemudian menutup mataku dengan tangan satunya. Kembali kuraih tangannya dan kini kedua tangannya sudah berada dalam genggamanku. Semakin lama genggaman tangan kami semakin kuat seiring tubuh kami yang semakin merapat.

Tak lama kedua tanganku pun pindah ke pinggang rampingnya, mengiringi pinggulnya yang bergoyang dengan sexy, tak kalah sexy dengan yang berada di meja bar. Tanganku terus bergerak ke bawah dan bergerak perlahan meraba kedua belah pantat dibalik celana ketat putihnya. Tak kutemukan adanya garis CD di daerah pantatnya, maka aku pun terus bergerak keatas sampai kutemukan apa yang kucari. Rupanya ia memakai CD model g-string.

"Tangan kamu nakal ya" kata Corrine tiba-tiba. Tertangkap basah dengan aksiku, aku hanya bisa tersenyum manis, semanis mungkin agar ia tidak marah. Otakku bergerak cepat mencari jawaban.
"Maaf, aku tidak bisa melihat kemana tanganku bergerak karena mataku kan terus memperhatikan kamu, sampai mau lepas dari tempatnya nih". Ia tersenyum mendengar jawabanku dan kembali merapatkan tubuh kami.

Selang beberapa saat kami meninggalkan dance floor yang sudah semakin sesak untuk kembali bergabung bersama yang lain di meja. Ternyata meja kami juga sudah penuh sesak, di tempat duduk Corrine semula hanya tersisa tempat yang sempit sekali untuk diduduki. Akhirnya kami duduk bersama di pinggiran sofa, aku duduk agak mundur sementara Corrine duduk bersandar padaku. Kulingkarkan sebelah tanganku memeluk pinggangnya.

"Hey, sebentar lagi hitungan mundur akan dimulai, kita akan segera memasuki tahun baru dengan harapan yang baru dan meninggalkan tahun yang lama bersama semua kenangannya", kudengar suara DJ di antara hingar bingar musik yang memenuhi ruangan.

Hampir serentak semua berdiri, dan bersiap dengan berbagai macam atribut pesta seperti terompet, petasan kecil, topi dan topeng. Dan hitungan mundur pun dimulai, seisi ruangan seakan berteriak seiring dengan suara DJ yang melakukan hitungan mundur.

"3.. 2.. 1.. Happy New Year Semuanya".

Suara terompet dan petasan-petasan kecil segera terdengar dari segala penjuru, kadang diselingi teriakan-teriakan yang sayup-sayup terdengar tertelan suara musik. Banyak pasangan kemudian berciuman dengan mesra, beberapa bahkan terlihat ber-french kiss dengan seru.

Aku dan Corrine tersenyum melihat pasangan-pasangan di sekitar kami. Sesaat kemudian aku memandangnya, menatap tajam ke dalam kedua bola matanya dan perlahan wajahku bergerak maju bermaksud menciumnya. Tetapi sekian centi dari bibirnya yang merah merekah itu Corrine menahan bibirku dengan jari telunjuknya. Ia memandangku sambil tersenyum kemudian memalingkan muka ke arah lain. Aku pun ikut memalingkan muka ke arah lain sambil menahan malu.

Tak lama ia berdiri, merapikan celananya sedikit kemudian menarik tanganku untuk mengikutinya. Ia menuntunku membelah kerumunan orang di dance floor menuju ke bagian lain dari diskotik tersebut. Kami berhenti dekat sisi meja bar yang lain dimana kerumunan orang tidak begitu ramai. Aku tetap terpaku tidak mengerti saat Corrine kembali merapatkan tubuh kami, begitu rapat sampai dapat kurasakan buah dadanya menekan dadaku, kemudian memandangku penuh arti sambil mendekatkan wajah kami. Tanpa berpikir panjang aku kembali mendaratkan ciuman di bibirnya, dan kali ini ia tidak menolak bahkan menerima kecupanku dengan bibir yang terbuka. Hatiku bersorak gembira saat kurasakan ia mulai membalas kecupan-kecupanku.

"Selamat tahun baru cantik" kataku di sela-sela ciuman kami.
"Selamat tahun baru juga ganteng, tangannya jangan suka nakal lagi ya" balasnya.

Cukup lama kami memisahkan diri dari teman-teman yang lain, menikmati kesendirian kami sambil terus berpelukan dan berciuman. Sampai akhirnya ia mengajak kembali ke meja karena hari sudah mulai subuh dan ia harus segera pulang. Tak lupa kami saling bertukar nomor telepon sebelum akhirnya berpisah dan mengakhiri malam tahun baru itu.

Beberapa hari setelahnya, aku bertemu Corrine lagi untuk makan malam bersama sepulang kantor. Ia tampak begitu anggun dengan pakaian kerjanya, tanktop putih dipadu blazer biru dan rok selutut senada. Tampak begitu beda dengan penampilannya di malam tahun baru kemarin.

Acara makan malam berjalan dengan sempurna, dipenuhi dengan canda tawa dan obrolan kami tentang berbagai macam topik, semua obrolan mengalir begitu saja seolah kami tidak pernah akan bisa berhenti. Bahkan setelah makan malam selesai kami melanjutkan obrolan dengan berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Kami berjalan sepanjang Orchard Road, melewati kompleks Esplanade sampai akhirnya ke salah satu cafe di Merlion Park.

Suasana di daerah itu benar-benar romantis, angin yang berhembus lembut, gemerlap lampu kota di kejauhan, dan kelip bintang di langit, semuanya seakan semakin menambah kehangatan di antara kami. Dan kami tidak sendiri, disekitar kami juga banyak pasangan lain yang sedang menikmati suasana romantis daerah ini.

Hari sudah semakin malam saat kami beranjak meninggalkan cafe menuju apartemenku untuk melanjutkan obrolan di sana. Tetapi begitu sampai di apartemenku, kami sudah tidak lagi bisa melanjutkan obrolan karena bibir kami sudah saling beradu, lidah kami saling bertaut, dan tangan kami sibuk saling melepaskan baju pasangannya.

Kudorong Corrine ke sofa setelah berhasil melepaskan baju luar nya, ia kini hanya memakai bra biru berenda dan CD g-string senada. Sesaat aku berdiri terpaku menikmati pemandangan indah di depanku, ia tampak begitu sexy dengan kulit putih mulusnya dan buah dadanya yang membusung.

Corrine pun tak tinggal diam, perlahan tangannya mengelus batangku dari luar CD, menempelkan pipinya dan mengecup ujungnya yang tersembul keluar. Kemudian ia menarik CD-ku ke bawah dan kembali mendaratkan ciuman-ciuman kecil di seluruh sisi batangku. Ia tampak begitu menikmati mainan barunya.

Kenikmatan yang kurasakan semakin bertambah saat kurasakan batangku perlahan memasuki mulutnya. Kupejamkan mataku untuk menikmatinya, terlebih saat ia mulai menghisap dan mengulum kejantananku. Kulingkarkan tanganku di belakang kepalanya, mengikuti gerakan maju mundurnya sambil mengelus lembut rambutnya. Tanganku terus turun ke bawah, yang sebelah bergerak ke depan untuk meremas-remas buah dadanya dan yang sebelah lagi berusaha menggapai kancing bra-nya.

Sekejap saja bra itu sudah terlepas dan kedua tanganku bebas bermain dengan buah dadanya, mengusap, meremas dan memilin putingnya. Kudorong Corrine rebah di sofa agar mulutku juga bisa ikut bermain di dadanya. Kucium lembut bergantian kiri dan kanan, lidahku bergerak menelusuri setiap sisinya dan membelit lembut putingnya yang berwarna pink itu.

Puas bermain di dadanya, mulut dan tanganku turun terus ke bawah, melewati perutnya yang datar dan bermain di sekitar selangkangannya yang tampak sudah basah. Permukaan CD-nya kutekan lembut dengan lidah, bergerak naik turun disepanjang celah basahnya. Kugeser satu sisi CD nya dan kembali mendaratkan lidahku di permukaan vaginanya.

Sesaat ia menahan aksiku dengan menarik kepalaku keatas, kami kembali berciuman sementara tangannya bergerak melepas CD yang telah basah itu. Setelah itu tangannya meraih batangku dan mengocoknya perlahan.

Lalu kami bertukar posisi, aku duduk bersandar di sofa sementara ia duduk di pangkuanku. Dengan perlahan ia menurunkan tubuhnya dan batangku perlahan memasuki liang vaginanya. Liangnya terasa begitu sempit dan hangat menelan batangku. Ia terdiam saat batangku telah masuk sepenuhnya, tersenyum nakal kepadaku kemudian tubuhnya bergerak kedepan dan kamipun kembali berciuman.

Ciuman kami semakin lama semakin bernafsu, seiring semakin cepatnya goyangan pinggul kami menyambut kenikmatan yang timbul di setiap gerakan. Selang beberapa menit ia pun mengejang, mendesah keras dan akhirnya jatuh dipelukanku. Ia telah mencapai orgasme pertamanya.

Kubiarkan ia beristirahat sebentar sebelum kugeser tubuhnya kesamping, kuatur tubuhnya menungging di sofa sementara kuposisikan tubuhku di belakangnya, siap untuk memasuki vaginanya kembali dari belakang. Kepalanya tersentak ke atas saat batangku kembali tertanam di dalam liangnya. Kugerakkan pinggulku makin lama makin cepat memompa liang sempitnya. Seolah tak mau kalah, Corrine juga mulai menggerakan pinggulnya, maju mundur seiring gerakanku dan kadang memutar.

Aku tak bertahan lama dalam posisi ini, kudorong batangku sedalam-dalamnya sambil memuntahkan semua muatanku dan kemudian ambruk ke sampingnya. Kami kembali berciuman sambil berpelukan di sofa.

"Aku lemas sekali, orgasmeku tadi benar-benar membuat seluruh tubuhku lemas" katanya memecah kesunyian diantara kami.
"Kalau begitu istirahatlah dulu, atau mau istirahat di kamar?" tanyaku.
"Baiklah, di kamar saja" lanjutnya sambil berdiri.

Aku menyusul berdiri dan memeluk pinggangnya agar ia bisa bersandar di tubuhku lalu perlahan menuntunnya ke kamar. Kududukan Corrine di tepi ranjangku, kemudian berlutut di depannya dan mulai mendaratkan ciuman-ciuman kecil lagi di wajahnya, perlahan kembali menuju bibir merahnya.

Corrine menyambut bibirku dengan bibirnya dan tak lama lidah kami sudah kembali beradu. Ia menarik kepalaku sambil merebahkan diri ke tempat tidur. Tanpa melepas tautan lidah kami, akupun ikut rebah di sampingnya. Tanganku kembali bergerak merayapi tubuh mulusnya, kembali bermain sejenak dengan buah dadanya, dan akhirnya kembali turun ke lembah liang vaginanya yang tidak ditumbuhi bulu sedikit pun. Kugerakan satu jariku naik turun celahnya yang terasa semakin basah lagi.

Sejenak kemudian mulutku sudah ikut turun ke vaginanya, dan kali ini aku bisa lebih lama bermain disana. Kukeluarkan hampir semua kemampuanku untuk semakin meningkatkan birahinya. Dan tampaknya usahaku berhasil saat kudengar desahan-desahan dari mulutnya semakin keras sambil tangannya terus meremasi rambut dan kepalaku, seolah mendorong agar semakin lekat dengan vaginanya.

Saat kurasakan cairan cintanya semakin banyak mengalir, ia menarik kepalaku dari daerah selangkangannya dan memberi tanda agar aku segera mengantarnya ke puncak yang tinggal sedikit lagi dicapainya. Segera kunaikkan kedua kakinya ke punggungku sambil berlutut di depannya, dan perlahan menuntun batangku kembali memasuki vaginanya. Dengan posisi ini aku bisa melihat bagaimana batangku bergerak keluar masuk liangnya. Rupanya liang vagina Corrine tetap terasa sempit meskipun sudah basah sekali dan sudah ronde kedua.

Kugerakkan pinggulku maju mundur, kadang berputar, berusaha memompa dan mencapai semua sisi bagian dalam dari vagina Corrine. Dan beberapa kali menyodok agak keatas agar menyentuh bagian sensitif g-spotnya. Sebentar saja kurasakan Corrine kembali mengejang sambil mendesah keras. Kurasakan liang vaginanya juga mengejang seakan mencengkeram batangku. Tak lama akupun menyusul mengejang seiring orgasmeku yang kedua. Untuk sepersekian detik kurasakan semua tulangku terlolosi dan aku berada di alam lain.

Aku masih menggerakkan batangku keluar masuk untuk beberapa saat, masih menikmati sisa-sisa orgasme kami berdua sebelum akhirnya rebah disampingnya. Kembali kucium lembut bibir merahnya, kudengar desah nafas yang masih tersengal-sengal keluar dari mulutnya.

"Aku benar-benar lemas sekarang, mungkin tidak bisa jalan lagi" katanya.
"Kalau begitu menginaplah disini, kumpulkan tenagamu untuk besok pagi. Kamu libur kan besok?" tanyaku. Corrine tampak terdiam sesaat untuk berpikir.
"Untuk besok pagi itu maksudnya untuk pulang atau untuk ronde berikutnya?" tanyanya lagi sambil tersenyum nakal.
"Kalau kamu sanggup ya untuk ronde berikutnya, setelah itu baru pulang". Aku tertawa mendengar jawabanku sendiri.
"Baiklah aku akan menginap, beristirahat dan mengumpulkan tenaga untuk pulang". Ia terdiam sesaat seolah menunggu reaksiku.
"Yakin?" tanyaku menyelidik.
"Kalau besok ada ronde berikutnya ya berarti aku harus pulang lebih sore lagi". Kudengar tawanya tergerai mengakhiri perkataannya.

Aku juga tertawa tanpa bisa memberikan jawaban lagi. Kurengkuh kepalanya ke sisiku, kembali kami berciuman sesaat dan akhirnya terlelap sampai pagi menjelang.

Keesokan harinya kami masih meneruskan pergumulan kami sampai beberapa ronde lagi. Hampir seharian kami tidak keluar apartemen, bahkan hampir tidak pernah sempat memakai baju kembali. Setelah makan malam kuantar Corrine pulang kembali ke apartemennya dan berjanji untuk bertemu lagi minggu depan untuk melewati akhir minggu bersama.


E N D

Niken


Namaku Dedin, umurku sekarang 20 tahun, kejadian ini terjadi pada saat aku masih sekolah di STM di bilangan Jakarta Selatan yang terkenal dengan tawurannya. Waktu itu aku baru mulai semester 3, kelas 2. Seperti biasa sekolahku pulangnya lembur, jam 7.30 malam, dan biasa pulang nggak langsung pulang, aku nongkrong di terminal Blok M. Aku merasa capai banget makanya aku duduk saja sambil merokok, tiba-tiba di depanku lewat makhluk lawan jenisku, cewek itu anggun banget, kulitnya putih bersih, hidungnya bangir, rambutnya panjang tergerai. Wah, pokoknya perfect banget, aku bangkit dan coba menegurnya, ternyata aku nggak punya keberanian, aku cuma bisa diam melihat dia berlalu. Akhirnya kuputuskan untuk balik, aku calling teman-temanku untuk segera balik. Namanya basis, lalu aku dapat duduk santai. Eh, tapi tiba-tiba itu perempuan yang aku lihat tadi kok naik metro mini yang sama seperti yang aku tumpangi, dia naik eh berdiri lagi. Aku coba panggil dia untuk duduk di barisan belakang tempat di mana aku duduk. Dia samperi aku dan kuberi tempat dudukku, aku akhirnya berdiri. Teman-temanku pada menggodaku, aku cuek saja, dan gobloknya aku diam saja sambil melihati dia punya dada. Aku tersenyum dan dia membalas, tapi tetap saja aku nggak berani kenalan, kejadian itu terulang 2 hari berturut-turut.

Pada hari yang ke-4 seperti biasa aku kasih dia tempat dudukku, pas hampir sampai ke tempat di mana dia biasa turun dia memanggilku kebetulan sampingnya kosong, dia bertanya,
"Siapa nama kamu?" aku bilang,
"Dedin", aku gugup,
"Oh, nama saya Niken",
"Oh.." eh dia tanya lagi,
"Boleh nggak niken main ke rumah kamu?"
Dalam pikiranku ini perempuan gila kali ya, baru kenal sudah mau ke rumah saja, aku jawab "Boleh", sudah deh aku diam saja. Pas sampai turun di ujung gang rumahku, eh mati lampu,
"Wah kayaknya bakalan asyik nih Ken",
"Iya ni De", aku terus telusuri gang ke arah rumahku, tetangga pada bertanya,
"Anak mana yang lu embat De?" aku memang terkenal playboy, tapi aku diam saja, sampai aku persilakan dia masuk. Aku kenali dia sama orang tuaku, sudah begitu aku ganti baju, cuci muka, menyiapkan minum, lilin 2 buah.
"Sorry ya agak lama",
"Ah nggak apa kok",
"Eh lu ngga apa-apa main ke sini?" tanyaku,
"Ah ngga apa-apa kok",
"Nanti pacar lo marah lagi",
"Niken belom punya kok", wah kesempatan nih.
"De ngomongnya jangan lo, aku aja ya, niken nggak bisa",
"Oke deh kalau itu maunya kamu."
"De kaki kamu nggak apa-apakan, soalnya tadi Niken lihat kamu jalannya pincang, kena batu ya pas tawuran tadi di sekolah kamu?"
Wah ini perempuan kok perhatian banget,
"Ah it's ok cuma bengkak saja sedikit",
"Niken pengen kamu jangan tawuran, kamu sayangin dong tubuh kamu",
Wah, aku jadi semakin.. dia perhatian banget. Akhirnya kita berdua ngobrol ngalor ngidul, sampai akhirnya dia tanya sesuatu yang bikin otakku ngeres,
"De kamu mau nggak tidur sama Niken?"
"Tidur gimana? bareng? kamu tidur di rumah kamu, dan Dedin tidur di rumah Dedin sendiri, begitu?"
"Nggak, tidur ya.. ML"
Wah, aku langsung menebak ini anak sudah sering gituan nih, soalnya aku juga. Aku coba jawab ngocol,
"Oke, kapan di mana?"
"Gimana kalau hari Jum'at"
"Kamu serius Ken?"
"Iya",
"Keperawanan kamu?"
Dia cerita kalau dulu dia jatuh dari sepeda, ah bagiku ceritanya klise, soalnya aku tahu banget kalau perempuan hiperseks, kepingin ditiduri,
"Oke deh aku bisa bolos, dan lagian ini rumah sepi nggak ada siapa-siapa dari pagi sampai sore",
"Ok Niken akan datang jam 8 pagi."

Hari yang aku nanti akhirnya eh dia datang tapi aku masih tidur, sebab malamnya aku habis mabok, "Dedin, Dedin, Dedin", aku kaget, lalu aku lari dari kamarku untuk membukakan pintu, aku persilakan dia masuk, lalu aku bilang,
"Eh Ken, De mandi dulu ya",
"Iya."
Sebelum itu aku sediakan dia minum, aku juga persilakan dia masuk ke kamarku, tapi dia bilang nanti saja. Aku mandi di kamar mandi kamarku, biasa aku nggak pernah kunci pintu, pas aku lagi mensabuni penisku, eh dia masuk sudah nggak terbungkus sehelai benang pun. Aku bisa lihat itu payudaranya, yang nggak begitu besar. Vaginanya yang ditumbuhi rambut kemaluannya yang rapih, clitoris-nya agak menyembul, aku diam saja waktu dia menghampiriku, dia pegang penisku. "Wow gede banget ni De", padahal penisku belum tegang, dia sentuh lalu dikocok-kocok. Dia jongkok dan dijilatnya penisku, kepala penisku dikulum, lalu langsung tegang sudah. "Wow indah sekali" dia bilang begitu, aku suruh dia terusi, "Aahh teerruuss Keenn", 5 menit berlalu kugendong dia keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah. Aku rebahkan dia ke kasurku lalu kubuka kedua pahanya dan kujilati vaginanya, baunya sih bau vagina perawan, pokoknya aku terus saja jilati vaginanya sambil aku sodokkan jari tengahku. "Aahh Ddee Niikkeenn nnggaak kuuaat", Aku nggak peduli. Tidak lama kemudian aku bisa merasakan lendirnya yang keluar dari vaginanya, aku terus jilati, dia bilang, "Aahh Dee mmaassukkinn sekaarrangg!"

Aku bangkit, lalu kutindih badannya. Aku jilati dulu pentilnya dia semakin buas. Dia raih penisku, dia arahkan ke vaginanya, "Teken De", aku merasakan lubang vaginanya yang masih rada sempit, "Bless.." penisku masuk "Aahh", dia teriak. Aku genjot terus dia menggoyang pinggulnya, sementara aku naik turunkan pantatku, dia keluar lagi, "Aahh Dee Nnniikeenn kkelluuarr llaaggii", semakin licin saja kewanitaannya karena dibanjiri oleh lendirnya, dia mendekapku. Aku gulingkan badanku, bibirku nggak lepas, sekarang dia di atasku, "Ssshh", dia mendesis "Aahh", aku merasa kenikmatan yang hebat waktu dia keluar lagi. Sudah ketiga kali dia keluar, tiap kali dia keluar penisku serasa dikenyot di dalam vaginanya, "Aahh Kenn.." aku merasa hampir keluar. Aku ganti posisi doggy style, aku tekan perlahan, "Aahh.." kami berdua berteriak, nikmat sekali. Tanganku memainkan pentilnya, "De Niken capek kalau posisinya begini", aku ubah lagi, seperti pertama kali. Kakiku di jepit, nggak lama kami berdua mendesis "Ssshh.. Kkenn akkuu kkeelluuaarr.."
"Ssamaa.."

Kita keluar bersamaan, kumasukan semua air maniku di dalam vaginanya, kucabut penisku, dia bersihkan dengan cara menjilati penisku yang masih setengah berdiri, "Aahh, kamu kok pintar banget sih", aku bilang begitu, dia diam saja sambil terus menghisap. Akhirnya kami berdua main lagi, dan itu aku ulang sampai 4 kali sampai sore. sekarang semuanya tinggal kenangan, aku sekarang menetap di AS, dan aku tahu dari temanku yang satu kampus sama dia, dia itu memang "bispak", apalagi kalau lihat orang yang kaya. Biar bagaimana pun De masih "sayang" kamu.

TAMAT

Nice Job, Nurse!


Aku bernama Tomi, saat ini berumur 27 tahun, dibesarkan di lingkungan yang cukup baik, baik dalam hal norma-norma keagamaan ataupun budaya. Dari kecil sampai SMA aku tidak pernah yang namanya menonton blue film. Pokoknya bisa dikata aku ini anak yang baik dan patuh.

Namun semuanya berubah ketika aku mulai kuliah. Aku mulai bergaul dengan teman-teman yang cukup "gaul". Aku mulai sering ke diskotik, karaoke dan lain halnya yang berhubungan dengan dunia malam. Semua kisahku akan aku ceritakan nanti. Saat ini aku ingin menceritakan suatu kejadian yang cukup unik buatku. Yang sebenarnya adalah khayalan liarku ketika masih SMA. Maklumlah, masa itu adalah masa yang penuh dengan rasa keingintahuan.

*****

Suatu ketika aku terkena serangan demam berdarah yang cukup parah hingga mengharuskanku untuk masuk ke rumah sakit. Tadinya aku tidak ingin, sebisa mungkin jangan sampai masuk, namun keadaan kesehatanku sudah parah sehingga orang tuaku waktu itu memasukkanku juga ke rumah sakit. Aku ditempatkan di kamar kelas 2. Pada malam pertama aku di sana, keadaannya sungguh parah. Tanganku diinfus dan aku tidak bisa tidur karena ruangan itu banyak nyamuknya. Setengah mati aku berkeringat di tempat tidur tidak bisa bangun karena infus.

Di situ setiap pagi dan sore badanku dilap oleh suster-suster di sana. Ada juga beberapa orang suster cantik yang melap badanku. Namun yang namanya orang sakit, walau diberi rangsangan apapun tetap saja tidak ada reaksi sehingga malam pertama sampai dengan malam ketiga, aku tidak merasakan gairah walaupun dilap badanku oleh salah satu suster cantik itu.

Setelah malam pertama lewat dengan derita dikerubuti nyamuk, maka aku minta untuk dipindahkan di ruangan kelas 1. Di situ ruangannya lebih nyaman, dengan adanya AC aku jadi tidak keringatan lagi dan dalam ruangan itu aku hanya berempat dengan pasien yang sepenyakit denganku. Dan yang lebih istimewa lagi, setiap tempat tidur pasien dikelilingi oleh kain kelambu.

Selama hari kedua dan ketiga, aku berpikir bahwa tidak mungkin berjumpa dengan suster cantik yang di kamar kelas 2 itu, karena sepengetahuanku mereka berjaga sudah ditentukan tempatnya. Ternyata aku salah.

Ketika menjelang pagi hari keempat, datanglah suster cantik yang kumaksud itu. Dia tersenyum kepadaku, demikian juga aku. Saat itulah aku berkenalan dengannya ketika dia kembali melap badanku. Di situ aku tahu bahwa dia bernama Susan dan sudah kurang lebih 1 tahun bekerja sebagai suster di sana.

Keadaanku pada hari keempat sudah mulai membaik. Aku sudah tidak demam lagi dan sudah bisa turun ranjang walaupun masih harus membawa-bawa kotak infus. Dalam pikiranku saat itu adalah ingin cepat sembuh dan ingin cepat pulang. Siapa yang tahan berlama-lama di rumah sakit? Makanannya tidak enak dan ruangannya ramai sekali. Namun keinginan ini cepat sekali berubah pada malam harinya. Mengapa? Begini ceritanya..

Ketika saatnya dilap pada sore hari keempat, ternyata suster itu datang lagi beserta dengan perawat yang lainnya. Ketika dia melap badanku, aku perhatikan wajahnya dengan seksama sambil terus berbincang-bincang sehingga tanpa sadar, "adikku" yang di bawah telah mengeras sehingga agak menggunung. Begitu aku sadar, aku langsung melihat ke arah suster Susan, ternyata dia sedang memperhatikannya juga dan saat itu dia sedang melap pahaku, pantas saja jadi terangsang begitu. Kulihat dia berlagak cuek namun aku terus perhatikan dia. Ternyata ia benar-benar sedang memperhatikan selangkanganku dan bukannya sekilas saja.

"Kenapa suster?" tanyaku berlagak bego.
"Ah, ga pa-pa kok.."

Hmm.. Gelagapan dia, pikirku. Aku mulai sengaja berpikiran yang jorok-jorok supaya "adikku" cepat bangun, dan ternyata berhasil. 'Adikku' makin besar saja sehingga menampakkan gundukan yang besar di celanaku. Kulihat Susan agak memerah mukanya melihat hal itu.

"Kenapa suster?", tanyaku sekali lagi.
"Itu.. Anu..", gelagapan lagi dia.
"Suster kenapa?" sambil bertanya, kuraih tangannya lalu kuusapkan di selangkanganku.
"Aduh, gak boleh begini.. Jangan sekarang", katanya.
"Lalu..? Nanti malam yah aku tunggu di sini", jawabku sambil berbisik dekat sekali ke telinganya.

Demikianlah awalnya kenapa kemudian suster cantik yang bernama Susan itu datang pada malan harinya ke kamarku. Pada saat itu aku sudah tertidur lelap, maklum lagi sakit, perlu istirahat. Dan sekeliling ranjangku sudah aku tutup dengan kain kelambu putih. Sehingga kedatangan suster Susan agak sedikit mengagetkanku.

Waktu itu pukul 1 pagi. Aku tersentak terbangun kaget karena merasa ada yang aneh di sekitar selangkanganku. Ternyata ketika aku sadar, Susan sudah asyik dengan pekerjaan barunya di situ, yaitu menjilati dan mengulum kontolku. Rupanya ini yang membuatku terbangun dan terasa nikmat. Susan mengulum kontolku sambil duduk di kursi di samping kiri ranjang. Kursi itu memang disediakan untuk pengunjung.

Sudah tidak dapat dielakkan lagi, malam itu akan terjadi permainan yang nikmat antara aku dan suster Susan. Dengan ranjang yang ditutup dengan kain putih, dengan tanpa suara, kami melakukan persetubuhan itu. Kami melakukannya dengan sangat pelan sekali supaya tidak menimbulkan suara-suara yang mencurigakan. Kami berdua sama-sama mengerti bahwa di sebelah masih ada pasien yang butuh istirahat.

Aku pun mengelus-elus kepala Susan dengan kedua tanganku sambil menikmati ciuman dan kuluman mulutnya pada kontolku. Saat itu perasaan yang kuterima sungguh sukar untuk dilukiskan. Betapa nikmatnya permainan oral yang dilakukan oleh Susan. Ia menjilati ujung kontolku dengan lidahnya lalu turun ke batang dan ke buah pelirku. Ia memainkannya dengan lembut dan penuh perasaan. Berkali-kali dia melakukan itu naik turun. Aku hanya bisa menerima sensasi nikmat itu dengan memejamkan mata sambil sekali-kali menggelinjang kegelian.

Kemudian ia memasukkan seluruh kontolku ke dalam mulutnya, sungguh rasa yang luar biasa, dengan tiba-tiba kontolku merasakan kehangatan yang berbeda sama sekali bercampur dengan rasa geli. Sungguh permainan yang luar biasa dari Susan. Tapi aku tidak mau kalah dengan dia, tanganku mulai berjalan di sekitar dadanya mencari-cari yang harus dicari yaitu payudara Susan. Begitu terasa, langsung saja aku remas-remas payudaranya dari luar bajunya. Agaknya dia memang sudah tidak tahan lagi sehingga sambil tetap mengulum kontolku, ia membuka baju susternya sendiri yang ternyata di dalamnya sudah tidak memakai alat pelindung dada yang bernama BH.

Ciuman Susan langsung berpindah tempat, berjalan ke atas menyusuri seluruh badanku dan membuka bajuku. Dadaku, perutku, putingku, semua dia cium dan jilat tanpa ada yang ketinggalan. Aku memeluk dia erat-erat karena rasa nikmat yang bercampur aduk yang ada dalam diriku. Sampailah akhirnya bibir kami berpadu menjadi satu. Ciuman kami begitu dahsyat dan membara. Lidah kami saling membelit, saling menyedot, sehingga menimbukan suara-suara berdecak kecil.

Sambil terus memeluk tubuh Susan, aku menjalankan tanganku ke daerah pantatnya. Aku meremas-remas pantatnya dan menekan-nekannya ke arah selangkanganku dan akhirnya aku membuka rok pakaian kebesaran seorang suster. Ternyata.. Dia juga tidak memakai celana dalam lagi! Langsung saja kontolku bergesekan dengan memeknya namun belum sampai masuk. Namun gesekan itu ternyata memberikan sensasi yang cukup membuat suster Susan terlihat menggelinjang keenakan. Tidak henti-hentinya suster Susan mendongakkan kepalanya dan membuka mulutnya namun tidak sampai menimbulkan suara yang menandakan bahwa ia telah sangat terbenam jauh dalam lautan kenikmatan yang sedang kami arungi.

Selama permainan tadi, posisi suster Susan menindih badanku sehingga aku kurang leluasa dalam mempermainkan payudaranya. Akhirnya kemudian aku menyudahi posisi itu dan meminta suster Susan untuk duduk di pinggiran ranjang. Kemudian aku turun dan mengangkat sebelah kaki suster Susan sambil memegang kontolku dan mencoba untuk menancapkan kontolku ke dalam memeknya.

Dapat aku lihat ekspresi suster Susan yang sayu dan pasrah menikmati suasana ketika kontolku telah aku tancapkan ke dalam selangkangannya, dan aku kocokkan dengan pelan-pelan. Untung saja ranjang yang aku tempati tidak menimbulkan bunyi berderit ketika kami saling menggoyangkan selangkangan kami. Meski demikian, kami tetap menjaga frekuensi goyangannya agar jangan sampai ketahuan. (Kami tidak mau mengambil resiko tertangkap basah waktu sedang melakukannya, kan?)

"Oh.. Tomi.. Damn its good..!" lirih suaranya di telingaku.
"Ohh.. Its good.. Baby.. Uhh.." Mendengar lirihan suaranya makin membuatku bertambah nafsu dan terus menggenjot selangkangannya.
"Ohh.. Shitt.. Achh.."
"Fuck me hard Tom, harder.. Achh"

Demikianlah lirih suara suster Susan di telingaku ketika kami sedang asyik menggoyang selangkangan kami dan saling berpelukan. Saat itu kami sudah tiduran lagi, kali ini posisiku di atas posisi suster Susan dan kedua tanganku memegang erat kedua tangannya dengan posisi tangannya di atas kepala. Di situ dapat aku lihat betapa suster Susan melempar kepalanya ke kiri dan kanan dan terkadang mendongakkan kepalanya tanpa menimbulkan suara dari mulutnya. Pemandangan ini sungguh membuat aku tambah bergairah dan terus menggenjot memek suster Susan dengan bersemangat.

Aku kemudian menciumi telinganya, dan seluruh mukanya aku jilat dengan lidahku tanpa terkecuali. Sampai akhirnya aku menciumi lehernya dan menggigit serta menjilat lehernya. Tanganku juga masih terus melancarkan serangan gerilya ke daerah dadanya. Dada suster Susan tetap aku remas-remas, dan aku pelintir dengan jari tanganku. Kadang-kadang aku usapkan saja tanganku di atas puting susunya. Hal itu tentunya menambah gairah suster Susan karena kemudian dia memintaku untuk mengulum puting susunya.

Aku memenuhi permintaan dia dan langsung mencium seluruh dadanya kedua-duanya. Berbagai macam hal aku lakukan pada payudaranya, aku cium, aku usap, aku jilat, aku kulum, bahkan aku gigit kecil. Seluruh payudara suster Susan aku coba masukkan ke dalam mulutku ? tidak muat memang ? lalu aku sedot dalam-dalam dengan sekuat tenaga sehingga mengakibatkan tubuh suster Susan bergetar dengan dahsyat.

Apakah dia sudah mencapai klimaksnya? Belum, ternyata reaksi itu timbul karena suster Susan amat sangat menikmati permainan yang aku berikan tersebut. Sekarang aku akan memasukkan kembali kontolku ke dalam liang memek suster Susan karena tadi sempat keluar akibat aku memainkan payudaranya dengan penuh nafsu.

Sensasi yang diberikan ketika kontolku mulai masuk ke dalam memeknya masih tetap sama yaitu sangat nikmat sekali. Langsung saja mulai dari situ aku tancap gas dengan menggoyang pinggulku dengan kecepatan yang tetap dan kadang-kadang aku percepat dan aku perdalam hunjaman kontolku ke dalam memek suster Susan sehingga tidak berapa lama kemudian..

"Ahh.. Im cumin!"
"Occhh.. Me too..", rupanya suster Susan juga telah mencapai hasratnya yang terpendam.

Akhirnya setelah kurang lebih satu jam, berakhirlah permainan itu dengan keluarnya cairan cinta kami berdua di dalam liang kenikmatan Susan. Badanku terasa lemas tapi lega sekali. Untuk sejenak aku berbaring menindih tubuh Susan. Beberapa menit kemudian aku bangun dan membersihkan tubuh dan memakai baju kembali, demikian juga dengan Susan yang segera memakai baju susternya kembali.

Selama hampir seminggu aku beristirahat di rumah sakit itu dengan ditemani oleh suster Susan pada malam harinya. Pada malam terakhir aku di rumah sakit, kami saling bertukar nomor HP karena kami sama-sama menyadari bahwa kami menginginkan hal itu terjadi lagi di lain kesempatan.

*****

Demikianlah kisahku ini yang sebelumnya hanya merupakan mimpi, namun mimpi itu bisa menjadi kenyataan yang sangat menyenangkan. Well, like everybody says, it's a dream come true. Semoga saja aku bisa mewujudkan beberapa mimpiku yang lainnya.


E N D

Nafsu yang Tak Tertahankan Lagi


Saya adalah salah satu wanita muda yang berumur 20-an bekerja pada satu perusahaan swasta yang ternama di Jakarta Barat, daerah Kota. Rambutku hitam sebahu. Wajahku lumayan, banyak orang yang mengatakan aku cantik. Sepanjang umur ini, terus terang aku senang melakukan masturbasi dan belum mempunyai pacar sampai sekarang ini. Aku sering nonton blue film dan sering membayangkan bagaimana rasanya disetubuhi itu, tapi aku masih belum berani ambil keputusan tapi rasanya gatal seks tiap malam tak kusadari aku membuka baju sampai telanjang bulat dan melakukan masturbasi dalam keadaan mengangkang di atas ranjang dengan bantal guling di gosokkan ke bibir vaginaku sampai mencapai orgasme.

Pada suatu hari aku berkunjung ke rumah seorang teman sekantorku, seorang pemuda yang umurnya kira-kira sebaya denganku sebut saja namanya Irwan. Ia adalah seorang yang sangat rajin di tempat kerjaku, aku sangat menyenangi dirinya, ingin jadi pacarnya. Aku suka merasa horny kalau membayangi disetubuhi oleh laki-laki itu. Nah waktu aku sampai pintu rumahnya di daerah Gajah Mada, yang membukakan adalah adiknya, terus aku tanya di mana kakakmu terus dia bilang di atas loteng kamar, adik laki-lakinya tidak mengantarku, dia lagi asyik nonton TV. Aku langsung bergegas ke atas. Aku melihat suatu pemandangan yang sangat membuatku merasa basah. Kulihat Irwan sedang dalam posisi senggama di atas membelakangiku, tangannya memeluk sesuatu dan badannya maju mundur dengan irama yang bersamaan. Aku langsung bengong tidak pernah saya lihat begituan, cuma pernah lihat di blue film. Rupanya dia sedang onani juga. Aku langsung tidak tahan rasanya kubuka baju kantorku dan rok ketatku kulepas dan kuhempaskan ke lantai.

Dadaku yang cukup indah dan vaginaku yang penuh bulu ini langsung terbuka tanpa sehelai baju yang menutupi. Aku langsung bergegas ke kamarnya kupanggil namanya dia menoleh. "Linda?" kuterjang dia, satu tanganku memegang batang penisnya dan ingin menghisapnya. Tapi entah kenapa penisnya itu sudah mengeras sekali dan mendadak keluar cairan berwarna putih karena masturbasi tadi. Aduh cairannya itu ke wajahku. Hidungku yang mancung merasakan bau yang menambah suasana nafsu. Kuhisap penisnya sampai bersih tak kupedulikan rasa sperma itu. Ini yang kutunggu-tunggu sejak berumur 15 tahun yaitu nge-seks sama orang yang aku suka dan berisi. Dari umur 16 tahun aku suka bikin laki-laki nafsu terhadapku. Dengan memainkan mata ke arah mereka dan melakukan action yang bikin mereka tegang dan aku sangat enjoy ini tapi mereka itu cuma laki-laki ABG yang seperti anak-anak kecil. Kuhisap penisnya, tangannya menjambak rambutku keras-keras. Rambutku jadi terurai berantakan. Dia menarik penisnya lalu menggencetku dan mengincar payudaraku dan menghisapnya dengan penuh nafsu seperti seorang bayi yang netek terhadap ibunya. Lidahnya menggeliat-geliat bikin aku merasa geli. Mataku terpejam kegelian rasanya nikmat sekali dibanding masturbasi. Tangannya yang satu lagi meraba vaginaku yang sudah basah, langsung aku mendesah pelan sambil memencet-mencet penisnya yang sudah seperti rudal scud yang siap diluncurkan. Dia menjilati pinggangku yang ramping juga selangkanganku. Aku mendesah pelan tak terasa suaraku keluar, "Sudah Irwan sudah.. aku tidak tahan nih", kupeluk tubuhnya erat-erat kugigit lehernya, aku mendesah rasanya nikmat sekali. Makin erat pelukanku tanpa kusadari penisnya yang siap meluncur itu masuk ke dalam vaginaku yang terbuka lebar. Bress, aku menjerit tanganku memeluk pinggangnya erat-erat. Satu tangan lagi mencakar cakar punggungnya. Dia memajukan penisnya maju-mundur maju-mundur terus aku merasa kenikmatan tiada tara, tanganku pasrah tidak memeluk pinggangnya lagi aku sudah dalam posisi setengah telentang. Dia langsung mencabut penisnya. Aku langsung terhempas di atas ranjang dengan bercak darah di selimut yang berwarna putih. Irwan langsung memegangku dengan tangannya yang kekar dia memintaku agar mengarahkan pantatku ke arahnya. Loh aku bingung kenapa? maklum saja blue film yang aku tonton biasanya tidak ada anal sexnya. Dia tanpa banyak bicara lagi menancapkan penisnya dari belakang. Aku menjerit keras sekali sambil teriak, "Ampunn Wan argh.. eeuhh." Aku merasakan sesuatu keluar dari penisnya, cairannya banyak sekali aduh nikmatnya.

Kami berdua mendengar suara kaki naik ke atas loteng siapa gerangan? "Adiknya!" yang umurnya kira-kira 20 tahun, wah dia kaget melihat posisi kita yang seperti begini, Irwan tetap tenang ia bertanya kepada adiknya, "Hey Johny, ini yang dinamakan ngewe beneran." Dia langsung melongo, Nafsuku tambah muncak lihat satu lagi jejaka muda didepanku ini. Mataku memandang tajam kearahnya tanganku memberikan hint supaya dia maju mendekatiku seperti terhipnotis. Kucoba memberikan dia senyum yang menantang, kudekati dia tapi aku sudah tidak kuat rasanya tenagaku banyak habis waktu sanggama sama Irwan tadi, langsung si Johnny tanya sama Irwan, "Boleh nih kak?" tapi Irwan masih terbaring lemas di ranjang tak berenergi lagi. Aku langsung berbisik, "Ayo say.. cobalah!" Dia lebih ganteng dari kakaknya sedikit dengan tubuhnya yang atletis. Johny meraba-raba tubuhku dari bahu, pinggang sampai selangkangan, waktu dia raba selangkanganku dia langsung bilang, "Wah Kakak baru main pertama kalinya ya." Aku langsung mengiyakan, tanganku tanpa basa-basi lagi meremas penis yang di balik celananya. Dia juga no mercy langsung melepaskan baju dan celananya, gila panjang penisnya, sayang saya tidak bawa penggaris. Dia tidur telentang juga di ranjang, aku berada di atasnya. Aku disetubuhi juga olehnya sampai habis basah semua ranjangnya. Aku mendesah keenakan waktu dia mengeluarkan maninya. Tak terasa sudah Irwan terbangun ia kaget sekali melihat adiknya menyetubuhiku. Dia langsung berteriak marah dan menyalahkan adiknya.

Aku membela adiknya walau kurasa diriku terlalu letih, aku berkata bahwa aku bersedia kawin dengan Irwan, aku mencintaimu sejak dulu aku senang keluargamu, aku senang melakukan ini. Dia memelukku menciumku membelai rambutku dan seluruh tubuhku. Dia juga senang sama aku sejak tahun lalu di ruang kantor, cuma dia seorang lelaki yang pemalu alias tidak berani first action, dia ingin sekali kawin dengan seorang wantia karir. Aku balik memeluknya dan menciumnya juga, "Aku sayang kamu, Linda", Johnny langsung minta maaf padaku katanya dia khilaf terhadap ini, ia berkata ia ingin sekali punya pacar. Setelah ini ia bergegas ke dapur dan memasak makanan malam dan kami makan malam bersama. Akhirnya Johnny kukenalkan dengan adik perempuanku yang umurnya sama dengannya mereka jatuh cinta dan mencintai satu sama lain dan hubunganku dengan Irwan sekarang adalah suami istri yang harmonis kami mempunyai seorang bayi laki-laki yang berumur 5 bulan.

Aku menulis ini bersama suamiku di tengah malam mengenang masa lalu yang indah yang penuh dengan kenangan yang selalu terbayang di hatiku.

TAMAT