Sabtu, 15 September 2012

New Year Encounter


Sehari menjelang tahun baru, aku masih juga sibuk memilih-milih acara untuk bertahun baru. Ini adalah pertama kalinya aku akan melewatkan tahun baru di Singapura, jadi aku ingin melakukan sesuatu yang spesial, sesuatu yang dapat kukenang saat kembali ke Indonesia.

Ada beberapa acara yang sudah masuk dalam daftarku, tetapi yang paling menarik perhatianku adalah acara clubbing bersama teman-teman sekantor ke salah satu diskotik di daerah Mohammed Sultan. Kudengar daerah itu sangat terkenal sebagai daerah hiburan malam, selain itu pergi bersama teman-teman sekantor tentu lebih baik daripada pergi bersama orang-orang yang tidak begitu kukenal. Aku pun memantapkan diri pada pilihan ini dengan menghubungi temanku yang menjadi panitia acara guna mengkonfirmasi kehadiranku.

Singkat kata waktu yang ditunggu pun hampir tiba, kini aku tengah berjalan sepanjang jalan Mohammed Sultan bersama beberapa orang teman. Suasana di sekitar daerah ini benar-benar ramai, sepertinya hampir semua anak muda singapura datang ke daerah ini untuk berpesta. Kemana mata memandang hanya terlihat kerumunan orang dan antrian mobil.

Tak lama kemudian kami bergabung bersama teman-teman lainnya di tempat tujuan. Sambil sedikit bertegur sapa dengan yang lainnya, aku mengambil minuman dan mulai mencari tempat duduk yang strategis untuk menikmati suasana malam ini. Dan aku menemukannya di samping seorang temanku yang sedang asyik dengan teman wanitanya. Kutepuk pundak temanku perlahan sebelum duduk di sampingnya. Ia juga membalas menepuk pundakku sekilas kemudian meneruskan obrolannya kembali.

Untuk sesaat perhatianku terpaku pada lawan bicaranya, kelihatannya cukup manis dan sexy. Aku bisa melihat sedikit bagian atas buah dadanya karena ia mengenakan tanktop berdada rendah dan paha putihnya tampak mengintip dari sisi rok ketatnya. Alangkah indahnya apabila malam ini aku bisa memiliki pasangan seperti dia, pikirku.

Lamunanku buyar saat kurasakan ada tangan yang menepuk pundakku. Aku menoleh mencari sang pemilik tangan itu dan kutemukan seorang gadis manis lain yang sedang tersenyum kepadaku, kemudian kulihat bibirnya mengucapkan sesuatu yang tidak dapat kutangkap dengan jelas. Aku berdiri dengan maksud untuk memperjelas ucapannya saat teman di sebelahku juga berdiri dan berbisik-bisik sebentar di telinga gadis itu.

"Hey, kenalkan ini Corrine, dia roommate-nya pacarku" kata temanku sesaat setelah mereka selesai. Aku pun menjulurkan tangan untuk berkenalan dan langsung disambut oleh Corrine.
"Tadi dia bilang kalau kamu duduk di tempat dia. Aku sudah jelaskan bahwa kamu dari Indonesia dan tidak mengerti bahasa mandarin" kata temanku lagi.
"Oh, maaf sekali kalau begitu" jawabku sambil bergeser ke samping dan mempersilakan Corrine duduk kembali di tempatnya.

Ia pun berjalan melewatiku dan langsung duduk kembali di tempatnya. Sesaat aku tetap berdiri di sampingnya sambil bermaksud mencari tempat lain sampai Corrine kembali menepukku.

"Duduklah di sini saja" katanya sambil menepuk pinggiran sofa.
"Tidak apa-apa kok"
"Ok Thanks" jawabku sambil perlahan menempelkan pantatku ke pinggiran sofa yang cukup tebal itu.

Bermula dari situ obrolan antara kami terus bergulir. Ia banyak bertanya tentang Indonesia, khususnya tentang Jakarta. Rupanya ia juga pernah ke Indonesia tapi hanya ke Bali. Sebaliknya aku pun banyak bertanya tentang Singapura. Ia berkata suatu hari nanti ia bersedia mengajakku melihat-lihat kota Singapura.

Obrolan kami masih terus berlanjut ketika beberapa teman mengajak turun ke dance floor. Corrine pun langsung berdiri dan menarik tanganku untuk ikut turun. Kami bergandengan dengan yang lain membentuk kereta api dan mulai berbaur dengan orang-orang yang sedang asyik bergoyang. Karena dance floor sudah penuh sesak maka kamipun harus bergoyang sambil berdesakan.

Suasana semakin seru saat beberapa gadis berpakaian sexy mulai berani berjoget di atas meja bar. Semakin lama mereka bergoyang semakin sensual, seolah saling bersaing satu sama lain, semakin mengundang applause dan seruan pengunjung lainnya.

"Di indonesia tidak ada yang seperti itu?" tanya Corrine kepadaku saat aku tengah asyik menikmati pertunjukan itu.
"Ada, tetapi kurasa gadis-gadisnya lebih sexy di sini" jawabku tanpa mengalihkan perhatian dari meja bar.
"Pantas mata kamu tidak pernah lepas dari arah sana" katanya lagi sambil jemari lentiknya mencubit halus pinggangku. Aku pun tertawa mendengar sindirannya, kuraih tangannya dari pinggangku lalu kugenggam dengan kedua tanganku.
"Apakah kamu cemburu kalau aku terus memperhatikan mereka?" candaku. Kali ini mataku sudah kembali tertuju pada wajah manisnya, menunggu ekspresi apa yang akan keluar atas perkataanku tadi.
"Tidak, aku hanya takut bola matamu keluar dari tempatnya apabila kau terus seperti itu" balasnya sambil tertawa.
"Baiklah kalau begitu aku akan memperhatikan kamu saja sehingga kamu bisa menangkap bola mataku apabila mereka keluar dari tempatnya".

Ia tertawa semakin lepas kemudian menutup mataku dengan tangan satunya. Kembali kuraih tangannya dan kini kedua tangannya sudah berada dalam genggamanku. Semakin lama genggaman tangan kami semakin kuat seiring tubuh kami yang semakin merapat.

Tak lama kedua tanganku pun pindah ke pinggang rampingnya, mengiringi pinggulnya yang bergoyang dengan sexy, tak kalah sexy dengan yang berada di meja bar. Tanganku terus bergerak ke bawah dan bergerak perlahan meraba kedua belah pantat dibalik celana ketat putihnya. Tak kutemukan adanya garis CD di daerah pantatnya, maka aku pun terus bergerak keatas sampai kutemukan apa yang kucari. Rupanya ia memakai CD model g-string.

"Tangan kamu nakal ya" kata Corrine tiba-tiba. Tertangkap basah dengan aksiku, aku hanya bisa tersenyum manis, semanis mungkin agar ia tidak marah. Otakku bergerak cepat mencari jawaban.
"Maaf, aku tidak bisa melihat kemana tanganku bergerak karena mataku kan terus memperhatikan kamu, sampai mau lepas dari tempatnya nih". Ia tersenyum mendengar jawabanku dan kembali merapatkan tubuh kami.

Selang beberapa saat kami meninggalkan dance floor yang sudah semakin sesak untuk kembali bergabung bersama yang lain di meja. Ternyata meja kami juga sudah penuh sesak, di tempat duduk Corrine semula hanya tersisa tempat yang sempit sekali untuk diduduki. Akhirnya kami duduk bersama di pinggiran sofa, aku duduk agak mundur sementara Corrine duduk bersandar padaku. Kulingkarkan sebelah tanganku memeluk pinggangnya.

"Hey, sebentar lagi hitungan mundur akan dimulai, kita akan segera memasuki tahun baru dengan harapan yang baru dan meninggalkan tahun yang lama bersama semua kenangannya", kudengar suara DJ di antara hingar bingar musik yang memenuhi ruangan.

Hampir serentak semua berdiri, dan bersiap dengan berbagai macam atribut pesta seperti terompet, petasan kecil, topi dan topeng. Dan hitungan mundur pun dimulai, seisi ruangan seakan berteriak seiring dengan suara DJ yang melakukan hitungan mundur.

"3.. 2.. 1.. Happy New Year Semuanya".

Suara terompet dan petasan-petasan kecil segera terdengar dari segala penjuru, kadang diselingi teriakan-teriakan yang sayup-sayup terdengar tertelan suara musik. Banyak pasangan kemudian berciuman dengan mesra, beberapa bahkan terlihat ber-french kiss dengan seru.

Aku dan Corrine tersenyum melihat pasangan-pasangan di sekitar kami. Sesaat kemudian aku memandangnya, menatap tajam ke dalam kedua bola matanya dan perlahan wajahku bergerak maju bermaksud menciumnya. Tetapi sekian centi dari bibirnya yang merah merekah itu Corrine menahan bibirku dengan jari telunjuknya. Ia memandangku sambil tersenyum kemudian memalingkan muka ke arah lain. Aku pun ikut memalingkan muka ke arah lain sambil menahan malu.

Tak lama ia berdiri, merapikan celananya sedikit kemudian menarik tanganku untuk mengikutinya. Ia menuntunku membelah kerumunan orang di dance floor menuju ke bagian lain dari diskotik tersebut. Kami berhenti dekat sisi meja bar yang lain dimana kerumunan orang tidak begitu ramai. Aku tetap terpaku tidak mengerti saat Corrine kembali merapatkan tubuh kami, begitu rapat sampai dapat kurasakan buah dadanya menekan dadaku, kemudian memandangku penuh arti sambil mendekatkan wajah kami. Tanpa berpikir panjang aku kembali mendaratkan ciuman di bibirnya, dan kali ini ia tidak menolak bahkan menerima kecupanku dengan bibir yang terbuka. Hatiku bersorak gembira saat kurasakan ia mulai membalas kecupan-kecupanku.

"Selamat tahun baru cantik" kataku di sela-sela ciuman kami.
"Selamat tahun baru juga ganteng, tangannya jangan suka nakal lagi ya" balasnya.

Cukup lama kami memisahkan diri dari teman-teman yang lain, menikmati kesendirian kami sambil terus berpelukan dan berciuman. Sampai akhirnya ia mengajak kembali ke meja karena hari sudah mulai subuh dan ia harus segera pulang. Tak lupa kami saling bertukar nomor telepon sebelum akhirnya berpisah dan mengakhiri malam tahun baru itu.

Beberapa hari setelahnya, aku bertemu Corrine lagi untuk makan malam bersama sepulang kantor. Ia tampak begitu anggun dengan pakaian kerjanya, tanktop putih dipadu blazer biru dan rok selutut senada. Tampak begitu beda dengan penampilannya di malam tahun baru kemarin.

Acara makan malam berjalan dengan sempurna, dipenuhi dengan canda tawa dan obrolan kami tentang berbagai macam topik, semua obrolan mengalir begitu saja seolah kami tidak pernah akan bisa berhenti. Bahkan setelah makan malam selesai kami melanjutkan obrolan dengan berjalan kaki sambil bergandengan tangan. Kami berjalan sepanjang Orchard Road, melewati kompleks Esplanade sampai akhirnya ke salah satu cafe di Merlion Park.

Suasana di daerah itu benar-benar romantis, angin yang berhembus lembut, gemerlap lampu kota di kejauhan, dan kelip bintang di langit, semuanya seakan semakin menambah kehangatan di antara kami. Dan kami tidak sendiri, disekitar kami juga banyak pasangan lain yang sedang menikmati suasana romantis daerah ini.

Hari sudah semakin malam saat kami beranjak meninggalkan cafe menuju apartemenku untuk melanjutkan obrolan di sana. Tetapi begitu sampai di apartemenku, kami sudah tidak lagi bisa melanjutkan obrolan karena bibir kami sudah saling beradu, lidah kami saling bertaut, dan tangan kami sibuk saling melepaskan baju pasangannya.

Kudorong Corrine ke sofa setelah berhasil melepaskan baju luar nya, ia kini hanya memakai bra biru berenda dan CD g-string senada. Sesaat aku berdiri terpaku menikmati pemandangan indah di depanku, ia tampak begitu sexy dengan kulit putih mulusnya dan buah dadanya yang membusung.

Corrine pun tak tinggal diam, perlahan tangannya mengelus batangku dari luar CD, menempelkan pipinya dan mengecup ujungnya yang tersembul keluar. Kemudian ia menarik CD-ku ke bawah dan kembali mendaratkan ciuman-ciuman kecil di seluruh sisi batangku. Ia tampak begitu menikmati mainan barunya.

Kenikmatan yang kurasakan semakin bertambah saat kurasakan batangku perlahan memasuki mulutnya. Kupejamkan mataku untuk menikmatinya, terlebih saat ia mulai menghisap dan mengulum kejantananku. Kulingkarkan tanganku di belakang kepalanya, mengikuti gerakan maju mundurnya sambil mengelus lembut rambutnya. Tanganku terus turun ke bawah, yang sebelah bergerak ke depan untuk meremas-remas buah dadanya dan yang sebelah lagi berusaha menggapai kancing bra-nya.

Sekejap saja bra itu sudah terlepas dan kedua tanganku bebas bermain dengan buah dadanya, mengusap, meremas dan memilin putingnya. Kudorong Corrine rebah di sofa agar mulutku juga bisa ikut bermain di dadanya. Kucium lembut bergantian kiri dan kanan, lidahku bergerak menelusuri setiap sisinya dan membelit lembut putingnya yang berwarna pink itu.

Puas bermain di dadanya, mulut dan tanganku turun terus ke bawah, melewati perutnya yang datar dan bermain di sekitar selangkangannya yang tampak sudah basah. Permukaan CD-nya kutekan lembut dengan lidah, bergerak naik turun disepanjang celah basahnya. Kugeser satu sisi CD nya dan kembali mendaratkan lidahku di permukaan vaginanya.

Sesaat ia menahan aksiku dengan menarik kepalaku keatas, kami kembali berciuman sementara tangannya bergerak melepas CD yang telah basah itu. Setelah itu tangannya meraih batangku dan mengocoknya perlahan.

Lalu kami bertukar posisi, aku duduk bersandar di sofa sementara ia duduk di pangkuanku. Dengan perlahan ia menurunkan tubuhnya dan batangku perlahan memasuki liang vaginanya. Liangnya terasa begitu sempit dan hangat menelan batangku. Ia terdiam saat batangku telah masuk sepenuhnya, tersenyum nakal kepadaku kemudian tubuhnya bergerak kedepan dan kamipun kembali berciuman.

Ciuman kami semakin lama semakin bernafsu, seiring semakin cepatnya goyangan pinggul kami menyambut kenikmatan yang timbul di setiap gerakan. Selang beberapa menit ia pun mengejang, mendesah keras dan akhirnya jatuh dipelukanku. Ia telah mencapai orgasme pertamanya.

Kubiarkan ia beristirahat sebentar sebelum kugeser tubuhnya kesamping, kuatur tubuhnya menungging di sofa sementara kuposisikan tubuhku di belakangnya, siap untuk memasuki vaginanya kembali dari belakang. Kepalanya tersentak ke atas saat batangku kembali tertanam di dalam liangnya. Kugerakkan pinggulku makin lama makin cepat memompa liang sempitnya. Seolah tak mau kalah, Corrine juga mulai menggerakan pinggulnya, maju mundur seiring gerakanku dan kadang memutar.

Aku tak bertahan lama dalam posisi ini, kudorong batangku sedalam-dalamnya sambil memuntahkan semua muatanku dan kemudian ambruk ke sampingnya. Kami kembali berciuman sambil berpelukan di sofa.

"Aku lemas sekali, orgasmeku tadi benar-benar membuat seluruh tubuhku lemas" katanya memecah kesunyian diantara kami.
"Kalau begitu istirahatlah dulu, atau mau istirahat di kamar?" tanyaku.
"Baiklah, di kamar saja" lanjutnya sambil berdiri.

Aku menyusul berdiri dan memeluk pinggangnya agar ia bisa bersandar di tubuhku lalu perlahan menuntunnya ke kamar. Kududukan Corrine di tepi ranjangku, kemudian berlutut di depannya dan mulai mendaratkan ciuman-ciuman kecil lagi di wajahnya, perlahan kembali menuju bibir merahnya.

Corrine menyambut bibirku dengan bibirnya dan tak lama lidah kami sudah kembali beradu. Ia menarik kepalaku sambil merebahkan diri ke tempat tidur. Tanpa melepas tautan lidah kami, akupun ikut rebah di sampingnya. Tanganku kembali bergerak merayapi tubuh mulusnya, kembali bermain sejenak dengan buah dadanya, dan akhirnya kembali turun ke lembah liang vaginanya yang tidak ditumbuhi bulu sedikit pun. Kugerakan satu jariku naik turun celahnya yang terasa semakin basah lagi.

Sejenak kemudian mulutku sudah ikut turun ke vaginanya, dan kali ini aku bisa lebih lama bermain disana. Kukeluarkan hampir semua kemampuanku untuk semakin meningkatkan birahinya. Dan tampaknya usahaku berhasil saat kudengar desahan-desahan dari mulutnya semakin keras sambil tangannya terus meremasi rambut dan kepalaku, seolah mendorong agar semakin lekat dengan vaginanya.

Saat kurasakan cairan cintanya semakin banyak mengalir, ia menarik kepalaku dari daerah selangkangannya dan memberi tanda agar aku segera mengantarnya ke puncak yang tinggal sedikit lagi dicapainya. Segera kunaikkan kedua kakinya ke punggungku sambil berlutut di depannya, dan perlahan menuntun batangku kembali memasuki vaginanya. Dengan posisi ini aku bisa melihat bagaimana batangku bergerak keluar masuk liangnya. Rupanya liang vagina Corrine tetap terasa sempit meskipun sudah basah sekali dan sudah ronde kedua.

Kugerakkan pinggulku maju mundur, kadang berputar, berusaha memompa dan mencapai semua sisi bagian dalam dari vagina Corrine. Dan beberapa kali menyodok agak keatas agar menyentuh bagian sensitif g-spotnya. Sebentar saja kurasakan Corrine kembali mengejang sambil mendesah keras. Kurasakan liang vaginanya juga mengejang seakan mencengkeram batangku. Tak lama akupun menyusul mengejang seiring orgasmeku yang kedua. Untuk sepersekian detik kurasakan semua tulangku terlolosi dan aku berada di alam lain.

Aku masih menggerakkan batangku keluar masuk untuk beberapa saat, masih menikmati sisa-sisa orgasme kami berdua sebelum akhirnya rebah disampingnya. Kembali kucium lembut bibir merahnya, kudengar desah nafas yang masih tersengal-sengal keluar dari mulutnya.

"Aku benar-benar lemas sekarang, mungkin tidak bisa jalan lagi" katanya.
"Kalau begitu menginaplah disini, kumpulkan tenagamu untuk besok pagi. Kamu libur kan besok?" tanyaku. Corrine tampak terdiam sesaat untuk berpikir.
"Untuk besok pagi itu maksudnya untuk pulang atau untuk ronde berikutnya?" tanyanya lagi sambil tersenyum nakal.
"Kalau kamu sanggup ya untuk ronde berikutnya, setelah itu baru pulang". Aku tertawa mendengar jawabanku sendiri.
"Baiklah aku akan menginap, beristirahat dan mengumpulkan tenaga untuk pulang". Ia terdiam sesaat seolah menunggu reaksiku.
"Yakin?" tanyaku menyelidik.
"Kalau besok ada ronde berikutnya ya berarti aku harus pulang lebih sore lagi". Kudengar tawanya tergerai mengakhiri perkataannya.

Aku juga tertawa tanpa bisa memberikan jawaban lagi. Kurengkuh kepalanya ke sisiku, kembali kami berciuman sesaat dan akhirnya terlelap sampai pagi menjelang.

Keesokan harinya kami masih meneruskan pergumulan kami sampai beberapa ronde lagi. Hampir seharian kami tidak keluar apartemen, bahkan hampir tidak pernah sempat memakai baju kembali. Setelah makan malam kuantar Corrine pulang kembali ke apartemennya dan berjanji untuk bertemu lagi minggu depan untuk melewati akhir minggu bersama.


E N D

Niken


Namaku Dedin, umurku sekarang 20 tahun, kejadian ini terjadi pada saat aku masih sekolah di STM di bilangan Jakarta Selatan yang terkenal dengan tawurannya. Waktu itu aku baru mulai semester 3, kelas 2. Seperti biasa sekolahku pulangnya lembur, jam 7.30 malam, dan biasa pulang nggak langsung pulang, aku nongkrong di terminal Blok M. Aku merasa capai banget makanya aku duduk saja sambil merokok, tiba-tiba di depanku lewat makhluk lawan jenisku, cewek itu anggun banget, kulitnya putih bersih, hidungnya bangir, rambutnya panjang tergerai. Wah, pokoknya perfect banget, aku bangkit dan coba menegurnya, ternyata aku nggak punya keberanian, aku cuma bisa diam melihat dia berlalu. Akhirnya kuputuskan untuk balik, aku calling teman-temanku untuk segera balik. Namanya basis, lalu aku dapat duduk santai. Eh, tapi tiba-tiba itu perempuan yang aku lihat tadi kok naik metro mini yang sama seperti yang aku tumpangi, dia naik eh berdiri lagi. Aku coba panggil dia untuk duduk di barisan belakang tempat di mana aku duduk. Dia samperi aku dan kuberi tempat dudukku, aku akhirnya berdiri. Teman-temanku pada menggodaku, aku cuek saja, dan gobloknya aku diam saja sambil melihati dia punya dada. Aku tersenyum dan dia membalas, tapi tetap saja aku nggak berani kenalan, kejadian itu terulang 2 hari berturut-turut.

Pada hari yang ke-4 seperti biasa aku kasih dia tempat dudukku, pas hampir sampai ke tempat di mana dia biasa turun dia memanggilku kebetulan sampingnya kosong, dia bertanya,
"Siapa nama kamu?" aku bilang,
"Dedin", aku gugup,
"Oh, nama saya Niken",
"Oh.." eh dia tanya lagi,
"Boleh nggak niken main ke rumah kamu?"
Dalam pikiranku ini perempuan gila kali ya, baru kenal sudah mau ke rumah saja, aku jawab "Boleh", sudah deh aku diam saja. Pas sampai turun di ujung gang rumahku, eh mati lampu,
"Wah kayaknya bakalan asyik nih Ken",
"Iya ni De", aku terus telusuri gang ke arah rumahku, tetangga pada bertanya,
"Anak mana yang lu embat De?" aku memang terkenal playboy, tapi aku diam saja, sampai aku persilakan dia masuk. Aku kenali dia sama orang tuaku, sudah begitu aku ganti baju, cuci muka, menyiapkan minum, lilin 2 buah.
"Sorry ya agak lama",
"Ah nggak apa kok",
"Eh lu ngga apa-apa main ke sini?" tanyaku,
"Ah ngga apa-apa kok",
"Nanti pacar lo marah lagi",
"Niken belom punya kok", wah kesempatan nih.
"De ngomongnya jangan lo, aku aja ya, niken nggak bisa",
"Oke deh kalau itu maunya kamu."
"De kaki kamu nggak apa-apakan, soalnya tadi Niken lihat kamu jalannya pincang, kena batu ya pas tawuran tadi di sekolah kamu?"
Wah ini perempuan kok perhatian banget,
"Ah it's ok cuma bengkak saja sedikit",
"Niken pengen kamu jangan tawuran, kamu sayangin dong tubuh kamu",
Wah, aku jadi semakin.. dia perhatian banget. Akhirnya kita berdua ngobrol ngalor ngidul, sampai akhirnya dia tanya sesuatu yang bikin otakku ngeres,
"De kamu mau nggak tidur sama Niken?"
"Tidur gimana? bareng? kamu tidur di rumah kamu, dan Dedin tidur di rumah Dedin sendiri, begitu?"
"Nggak, tidur ya.. ML"
Wah, aku langsung menebak ini anak sudah sering gituan nih, soalnya aku juga. Aku coba jawab ngocol,
"Oke, kapan di mana?"
"Gimana kalau hari Jum'at"
"Kamu serius Ken?"
"Iya",
"Keperawanan kamu?"
Dia cerita kalau dulu dia jatuh dari sepeda, ah bagiku ceritanya klise, soalnya aku tahu banget kalau perempuan hiperseks, kepingin ditiduri,
"Oke deh aku bisa bolos, dan lagian ini rumah sepi nggak ada siapa-siapa dari pagi sampai sore",
"Ok Niken akan datang jam 8 pagi."

Hari yang aku nanti akhirnya eh dia datang tapi aku masih tidur, sebab malamnya aku habis mabok, "Dedin, Dedin, Dedin", aku kaget, lalu aku lari dari kamarku untuk membukakan pintu, aku persilakan dia masuk, lalu aku bilang,
"Eh Ken, De mandi dulu ya",
"Iya."
Sebelum itu aku sediakan dia minum, aku juga persilakan dia masuk ke kamarku, tapi dia bilang nanti saja. Aku mandi di kamar mandi kamarku, biasa aku nggak pernah kunci pintu, pas aku lagi mensabuni penisku, eh dia masuk sudah nggak terbungkus sehelai benang pun. Aku bisa lihat itu payudaranya, yang nggak begitu besar. Vaginanya yang ditumbuhi rambut kemaluannya yang rapih, clitoris-nya agak menyembul, aku diam saja waktu dia menghampiriku, dia pegang penisku. "Wow gede banget ni De", padahal penisku belum tegang, dia sentuh lalu dikocok-kocok. Dia jongkok dan dijilatnya penisku, kepala penisku dikulum, lalu langsung tegang sudah. "Wow indah sekali" dia bilang begitu, aku suruh dia terusi, "Aahh teerruuss Keenn", 5 menit berlalu kugendong dia keluar dari kamar mandi dalam keadaan basah. Aku rebahkan dia ke kasurku lalu kubuka kedua pahanya dan kujilati vaginanya, baunya sih bau vagina perawan, pokoknya aku terus saja jilati vaginanya sambil aku sodokkan jari tengahku. "Aahh Ddee Niikkeenn nnggaak kuuaat", Aku nggak peduli. Tidak lama kemudian aku bisa merasakan lendirnya yang keluar dari vaginanya, aku terus jilati, dia bilang, "Aahh Dee mmaassukkinn sekaarrangg!"

Aku bangkit, lalu kutindih badannya. Aku jilati dulu pentilnya dia semakin buas. Dia raih penisku, dia arahkan ke vaginanya, "Teken De", aku merasakan lubang vaginanya yang masih rada sempit, "Bless.." penisku masuk "Aahh", dia teriak. Aku genjot terus dia menggoyang pinggulnya, sementara aku naik turunkan pantatku, dia keluar lagi, "Aahh Dee Nnniikeenn kkelluuarr llaaggii", semakin licin saja kewanitaannya karena dibanjiri oleh lendirnya, dia mendekapku. Aku gulingkan badanku, bibirku nggak lepas, sekarang dia di atasku, "Ssshh", dia mendesis "Aahh", aku merasa kenikmatan yang hebat waktu dia keluar lagi. Sudah ketiga kali dia keluar, tiap kali dia keluar penisku serasa dikenyot di dalam vaginanya, "Aahh Kenn.." aku merasa hampir keluar. Aku ganti posisi doggy style, aku tekan perlahan, "Aahh.." kami berdua berteriak, nikmat sekali. Tanganku memainkan pentilnya, "De Niken capek kalau posisinya begini", aku ubah lagi, seperti pertama kali. Kakiku di jepit, nggak lama kami berdua mendesis "Ssshh.. Kkenn akkuu kkeelluuaarr.."
"Ssamaa.."

Kita keluar bersamaan, kumasukan semua air maniku di dalam vaginanya, kucabut penisku, dia bersihkan dengan cara menjilati penisku yang masih setengah berdiri, "Aahh, kamu kok pintar banget sih", aku bilang begitu, dia diam saja sambil terus menghisap. Akhirnya kami berdua main lagi, dan itu aku ulang sampai 4 kali sampai sore. sekarang semuanya tinggal kenangan, aku sekarang menetap di AS, dan aku tahu dari temanku yang satu kampus sama dia, dia itu memang "bispak", apalagi kalau lihat orang yang kaya. Biar bagaimana pun De masih "sayang" kamu.

TAMAT

Nice Job, Nurse!


Aku bernama Tomi, saat ini berumur 27 tahun, dibesarkan di lingkungan yang cukup baik, baik dalam hal norma-norma keagamaan ataupun budaya. Dari kecil sampai SMA aku tidak pernah yang namanya menonton blue film. Pokoknya bisa dikata aku ini anak yang baik dan patuh.

Namun semuanya berubah ketika aku mulai kuliah. Aku mulai bergaul dengan teman-teman yang cukup "gaul". Aku mulai sering ke diskotik, karaoke dan lain halnya yang berhubungan dengan dunia malam. Semua kisahku akan aku ceritakan nanti. Saat ini aku ingin menceritakan suatu kejadian yang cukup unik buatku. Yang sebenarnya adalah khayalan liarku ketika masih SMA. Maklumlah, masa itu adalah masa yang penuh dengan rasa keingintahuan.

*****

Suatu ketika aku terkena serangan demam berdarah yang cukup parah hingga mengharuskanku untuk masuk ke rumah sakit. Tadinya aku tidak ingin, sebisa mungkin jangan sampai masuk, namun keadaan kesehatanku sudah parah sehingga orang tuaku waktu itu memasukkanku juga ke rumah sakit. Aku ditempatkan di kamar kelas 2. Pada malam pertama aku di sana, keadaannya sungguh parah. Tanganku diinfus dan aku tidak bisa tidur karena ruangan itu banyak nyamuknya. Setengah mati aku berkeringat di tempat tidur tidak bisa bangun karena infus.

Di situ setiap pagi dan sore badanku dilap oleh suster-suster di sana. Ada juga beberapa orang suster cantik yang melap badanku. Namun yang namanya orang sakit, walau diberi rangsangan apapun tetap saja tidak ada reaksi sehingga malam pertama sampai dengan malam ketiga, aku tidak merasakan gairah walaupun dilap badanku oleh salah satu suster cantik itu.

Setelah malam pertama lewat dengan derita dikerubuti nyamuk, maka aku minta untuk dipindahkan di ruangan kelas 1. Di situ ruangannya lebih nyaman, dengan adanya AC aku jadi tidak keringatan lagi dan dalam ruangan itu aku hanya berempat dengan pasien yang sepenyakit denganku. Dan yang lebih istimewa lagi, setiap tempat tidur pasien dikelilingi oleh kain kelambu.

Selama hari kedua dan ketiga, aku berpikir bahwa tidak mungkin berjumpa dengan suster cantik yang di kamar kelas 2 itu, karena sepengetahuanku mereka berjaga sudah ditentukan tempatnya. Ternyata aku salah.

Ketika menjelang pagi hari keempat, datanglah suster cantik yang kumaksud itu. Dia tersenyum kepadaku, demikian juga aku. Saat itulah aku berkenalan dengannya ketika dia kembali melap badanku. Di situ aku tahu bahwa dia bernama Susan dan sudah kurang lebih 1 tahun bekerja sebagai suster di sana.

Keadaanku pada hari keempat sudah mulai membaik. Aku sudah tidak demam lagi dan sudah bisa turun ranjang walaupun masih harus membawa-bawa kotak infus. Dalam pikiranku saat itu adalah ingin cepat sembuh dan ingin cepat pulang. Siapa yang tahan berlama-lama di rumah sakit? Makanannya tidak enak dan ruangannya ramai sekali. Namun keinginan ini cepat sekali berubah pada malam harinya. Mengapa? Begini ceritanya..

Ketika saatnya dilap pada sore hari keempat, ternyata suster itu datang lagi beserta dengan perawat yang lainnya. Ketika dia melap badanku, aku perhatikan wajahnya dengan seksama sambil terus berbincang-bincang sehingga tanpa sadar, "adikku" yang di bawah telah mengeras sehingga agak menggunung. Begitu aku sadar, aku langsung melihat ke arah suster Susan, ternyata dia sedang memperhatikannya juga dan saat itu dia sedang melap pahaku, pantas saja jadi terangsang begitu. Kulihat dia berlagak cuek namun aku terus perhatikan dia. Ternyata ia benar-benar sedang memperhatikan selangkanganku dan bukannya sekilas saja.

"Kenapa suster?" tanyaku berlagak bego.
"Ah, ga pa-pa kok.."

Hmm.. Gelagapan dia, pikirku. Aku mulai sengaja berpikiran yang jorok-jorok supaya "adikku" cepat bangun, dan ternyata berhasil. 'Adikku' makin besar saja sehingga menampakkan gundukan yang besar di celanaku. Kulihat Susan agak memerah mukanya melihat hal itu.

"Kenapa suster?", tanyaku sekali lagi.
"Itu.. Anu..", gelagapan lagi dia.
"Suster kenapa?" sambil bertanya, kuraih tangannya lalu kuusapkan di selangkanganku.
"Aduh, gak boleh begini.. Jangan sekarang", katanya.
"Lalu..? Nanti malam yah aku tunggu di sini", jawabku sambil berbisik dekat sekali ke telinganya.

Demikianlah awalnya kenapa kemudian suster cantik yang bernama Susan itu datang pada malan harinya ke kamarku. Pada saat itu aku sudah tertidur lelap, maklum lagi sakit, perlu istirahat. Dan sekeliling ranjangku sudah aku tutup dengan kain kelambu putih. Sehingga kedatangan suster Susan agak sedikit mengagetkanku.

Waktu itu pukul 1 pagi. Aku tersentak terbangun kaget karena merasa ada yang aneh di sekitar selangkanganku. Ternyata ketika aku sadar, Susan sudah asyik dengan pekerjaan barunya di situ, yaitu menjilati dan mengulum kontolku. Rupanya ini yang membuatku terbangun dan terasa nikmat. Susan mengulum kontolku sambil duduk di kursi di samping kiri ranjang. Kursi itu memang disediakan untuk pengunjung.

Sudah tidak dapat dielakkan lagi, malam itu akan terjadi permainan yang nikmat antara aku dan suster Susan. Dengan ranjang yang ditutup dengan kain putih, dengan tanpa suara, kami melakukan persetubuhan itu. Kami melakukannya dengan sangat pelan sekali supaya tidak menimbulkan suara-suara yang mencurigakan. Kami berdua sama-sama mengerti bahwa di sebelah masih ada pasien yang butuh istirahat.

Aku pun mengelus-elus kepala Susan dengan kedua tanganku sambil menikmati ciuman dan kuluman mulutnya pada kontolku. Saat itu perasaan yang kuterima sungguh sukar untuk dilukiskan. Betapa nikmatnya permainan oral yang dilakukan oleh Susan. Ia menjilati ujung kontolku dengan lidahnya lalu turun ke batang dan ke buah pelirku. Ia memainkannya dengan lembut dan penuh perasaan. Berkali-kali dia melakukan itu naik turun. Aku hanya bisa menerima sensasi nikmat itu dengan memejamkan mata sambil sekali-kali menggelinjang kegelian.

Kemudian ia memasukkan seluruh kontolku ke dalam mulutnya, sungguh rasa yang luar biasa, dengan tiba-tiba kontolku merasakan kehangatan yang berbeda sama sekali bercampur dengan rasa geli. Sungguh permainan yang luar biasa dari Susan. Tapi aku tidak mau kalah dengan dia, tanganku mulai berjalan di sekitar dadanya mencari-cari yang harus dicari yaitu payudara Susan. Begitu terasa, langsung saja aku remas-remas payudaranya dari luar bajunya. Agaknya dia memang sudah tidak tahan lagi sehingga sambil tetap mengulum kontolku, ia membuka baju susternya sendiri yang ternyata di dalamnya sudah tidak memakai alat pelindung dada yang bernama BH.

Ciuman Susan langsung berpindah tempat, berjalan ke atas menyusuri seluruh badanku dan membuka bajuku. Dadaku, perutku, putingku, semua dia cium dan jilat tanpa ada yang ketinggalan. Aku memeluk dia erat-erat karena rasa nikmat yang bercampur aduk yang ada dalam diriku. Sampailah akhirnya bibir kami berpadu menjadi satu. Ciuman kami begitu dahsyat dan membara. Lidah kami saling membelit, saling menyedot, sehingga menimbukan suara-suara berdecak kecil.

Sambil terus memeluk tubuh Susan, aku menjalankan tanganku ke daerah pantatnya. Aku meremas-remas pantatnya dan menekan-nekannya ke arah selangkanganku dan akhirnya aku membuka rok pakaian kebesaran seorang suster. Ternyata.. Dia juga tidak memakai celana dalam lagi! Langsung saja kontolku bergesekan dengan memeknya namun belum sampai masuk. Namun gesekan itu ternyata memberikan sensasi yang cukup membuat suster Susan terlihat menggelinjang keenakan. Tidak henti-hentinya suster Susan mendongakkan kepalanya dan membuka mulutnya namun tidak sampai menimbulkan suara yang menandakan bahwa ia telah sangat terbenam jauh dalam lautan kenikmatan yang sedang kami arungi.

Selama permainan tadi, posisi suster Susan menindih badanku sehingga aku kurang leluasa dalam mempermainkan payudaranya. Akhirnya kemudian aku menyudahi posisi itu dan meminta suster Susan untuk duduk di pinggiran ranjang. Kemudian aku turun dan mengangkat sebelah kaki suster Susan sambil memegang kontolku dan mencoba untuk menancapkan kontolku ke dalam memeknya.

Dapat aku lihat ekspresi suster Susan yang sayu dan pasrah menikmati suasana ketika kontolku telah aku tancapkan ke dalam selangkangannya, dan aku kocokkan dengan pelan-pelan. Untung saja ranjang yang aku tempati tidak menimbulkan bunyi berderit ketika kami saling menggoyangkan selangkangan kami. Meski demikian, kami tetap menjaga frekuensi goyangannya agar jangan sampai ketahuan. (Kami tidak mau mengambil resiko tertangkap basah waktu sedang melakukannya, kan?)

"Oh.. Tomi.. Damn its good..!" lirih suaranya di telingaku.
"Ohh.. Its good.. Baby.. Uhh.." Mendengar lirihan suaranya makin membuatku bertambah nafsu dan terus menggenjot selangkangannya.
"Ohh.. Shitt.. Achh.."
"Fuck me hard Tom, harder.. Achh"

Demikianlah lirih suara suster Susan di telingaku ketika kami sedang asyik menggoyang selangkangan kami dan saling berpelukan. Saat itu kami sudah tiduran lagi, kali ini posisiku di atas posisi suster Susan dan kedua tanganku memegang erat kedua tangannya dengan posisi tangannya di atas kepala. Di situ dapat aku lihat betapa suster Susan melempar kepalanya ke kiri dan kanan dan terkadang mendongakkan kepalanya tanpa menimbulkan suara dari mulutnya. Pemandangan ini sungguh membuat aku tambah bergairah dan terus menggenjot memek suster Susan dengan bersemangat.

Aku kemudian menciumi telinganya, dan seluruh mukanya aku jilat dengan lidahku tanpa terkecuali. Sampai akhirnya aku menciumi lehernya dan menggigit serta menjilat lehernya. Tanganku juga masih terus melancarkan serangan gerilya ke daerah dadanya. Dada suster Susan tetap aku remas-remas, dan aku pelintir dengan jari tanganku. Kadang-kadang aku usapkan saja tanganku di atas puting susunya. Hal itu tentunya menambah gairah suster Susan karena kemudian dia memintaku untuk mengulum puting susunya.

Aku memenuhi permintaan dia dan langsung mencium seluruh dadanya kedua-duanya. Berbagai macam hal aku lakukan pada payudaranya, aku cium, aku usap, aku jilat, aku kulum, bahkan aku gigit kecil. Seluruh payudara suster Susan aku coba masukkan ke dalam mulutku ? tidak muat memang ? lalu aku sedot dalam-dalam dengan sekuat tenaga sehingga mengakibatkan tubuh suster Susan bergetar dengan dahsyat.

Apakah dia sudah mencapai klimaksnya? Belum, ternyata reaksi itu timbul karena suster Susan amat sangat menikmati permainan yang aku berikan tersebut. Sekarang aku akan memasukkan kembali kontolku ke dalam liang memek suster Susan karena tadi sempat keluar akibat aku memainkan payudaranya dengan penuh nafsu.

Sensasi yang diberikan ketika kontolku mulai masuk ke dalam memeknya masih tetap sama yaitu sangat nikmat sekali. Langsung saja mulai dari situ aku tancap gas dengan menggoyang pinggulku dengan kecepatan yang tetap dan kadang-kadang aku percepat dan aku perdalam hunjaman kontolku ke dalam memek suster Susan sehingga tidak berapa lama kemudian..

"Ahh.. Im cumin!"
"Occhh.. Me too..", rupanya suster Susan juga telah mencapai hasratnya yang terpendam.

Akhirnya setelah kurang lebih satu jam, berakhirlah permainan itu dengan keluarnya cairan cinta kami berdua di dalam liang kenikmatan Susan. Badanku terasa lemas tapi lega sekali. Untuk sejenak aku berbaring menindih tubuh Susan. Beberapa menit kemudian aku bangun dan membersihkan tubuh dan memakai baju kembali, demikian juga dengan Susan yang segera memakai baju susternya kembali.

Selama hampir seminggu aku beristirahat di rumah sakit itu dengan ditemani oleh suster Susan pada malam harinya. Pada malam terakhir aku di rumah sakit, kami saling bertukar nomor HP karena kami sama-sama menyadari bahwa kami menginginkan hal itu terjadi lagi di lain kesempatan.

*****

Demikianlah kisahku ini yang sebelumnya hanya merupakan mimpi, namun mimpi itu bisa menjadi kenyataan yang sangat menyenangkan. Well, like everybody says, it's a dream come true. Semoga saja aku bisa mewujudkan beberapa mimpiku yang lainnya.


E N D

Nafsu yang Tak Tertahankan Lagi


Saya adalah salah satu wanita muda yang berumur 20-an bekerja pada satu perusahaan swasta yang ternama di Jakarta Barat, daerah Kota. Rambutku hitam sebahu. Wajahku lumayan, banyak orang yang mengatakan aku cantik. Sepanjang umur ini, terus terang aku senang melakukan masturbasi dan belum mempunyai pacar sampai sekarang ini. Aku sering nonton blue film dan sering membayangkan bagaimana rasanya disetubuhi itu, tapi aku masih belum berani ambil keputusan tapi rasanya gatal seks tiap malam tak kusadari aku membuka baju sampai telanjang bulat dan melakukan masturbasi dalam keadaan mengangkang di atas ranjang dengan bantal guling di gosokkan ke bibir vaginaku sampai mencapai orgasme.

Pada suatu hari aku berkunjung ke rumah seorang teman sekantorku, seorang pemuda yang umurnya kira-kira sebaya denganku sebut saja namanya Irwan. Ia adalah seorang yang sangat rajin di tempat kerjaku, aku sangat menyenangi dirinya, ingin jadi pacarnya. Aku suka merasa horny kalau membayangi disetubuhi oleh laki-laki itu. Nah waktu aku sampai pintu rumahnya di daerah Gajah Mada, yang membukakan adalah adiknya, terus aku tanya di mana kakakmu terus dia bilang di atas loteng kamar, adik laki-lakinya tidak mengantarku, dia lagi asyik nonton TV. Aku langsung bergegas ke atas. Aku melihat suatu pemandangan yang sangat membuatku merasa basah. Kulihat Irwan sedang dalam posisi senggama di atas membelakangiku, tangannya memeluk sesuatu dan badannya maju mundur dengan irama yang bersamaan. Aku langsung bengong tidak pernah saya lihat begituan, cuma pernah lihat di blue film. Rupanya dia sedang onani juga. Aku langsung tidak tahan rasanya kubuka baju kantorku dan rok ketatku kulepas dan kuhempaskan ke lantai.

Dadaku yang cukup indah dan vaginaku yang penuh bulu ini langsung terbuka tanpa sehelai baju yang menutupi. Aku langsung bergegas ke kamarnya kupanggil namanya dia menoleh. "Linda?" kuterjang dia, satu tanganku memegang batang penisnya dan ingin menghisapnya. Tapi entah kenapa penisnya itu sudah mengeras sekali dan mendadak keluar cairan berwarna putih karena masturbasi tadi. Aduh cairannya itu ke wajahku. Hidungku yang mancung merasakan bau yang menambah suasana nafsu. Kuhisap penisnya sampai bersih tak kupedulikan rasa sperma itu. Ini yang kutunggu-tunggu sejak berumur 15 tahun yaitu nge-seks sama orang yang aku suka dan berisi. Dari umur 16 tahun aku suka bikin laki-laki nafsu terhadapku. Dengan memainkan mata ke arah mereka dan melakukan action yang bikin mereka tegang dan aku sangat enjoy ini tapi mereka itu cuma laki-laki ABG yang seperti anak-anak kecil. Kuhisap penisnya, tangannya menjambak rambutku keras-keras. Rambutku jadi terurai berantakan. Dia menarik penisnya lalu menggencetku dan mengincar payudaraku dan menghisapnya dengan penuh nafsu seperti seorang bayi yang netek terhadap ibunya. Lidahnya menggeliat-geliat bikin aku merasa geli. Mataku terpejam kegelian rasanya nikmat sekali dibanding masturbasi. Tangannya yang satu lagi meraba vaginaku yang sudah basah, langsung aku mendesah pelan sambil memencet-mencet penisnya yang sudah seperti rudal scud yang siap diluncurkan. Dia menjilati pinggangku yang ramping juga selangkanganku. Aku mendesah pelan tak terasa suaraku keluar, "Sudah Irwan sudah.. aku tidak tahan nih", kupeluk tubuhnya erat-erat kugigit lehernya, aku mendesah rasanya nikmat sekali. Makin erat pelukanku tanpa kusadari penisnya yang siap meluncur itu masuk ke dalam vaginaku yang terbuka lebar. Bress, aku menjerit tanganku memeluk pinggangnya erat-erat. Satu tangan lagi mencakar cakar punggungnya. Dia memajukan penisnya maju-mundur maju-mundur terus aku merasa kenikmatan tiada tara, tanganku pasrah tidak memeluk pinggangnya lagi aku sudah dalam posisi setengah telentang. Dia langsung mencabut penisnya. Aku langsung terhempas di atas ranjang dengan bercak darah di selimut yang berwarna putih. Irwan langsung memegangku dengan tangannya yang kekar dia memintaku agar mengarahkan pantatku ke arahnya. Loh aku bingung kenapa? maklum saja blue film yang aku tonton biasanya tidak ada anal sexnya. Dia tanpa banyak bicara lagi menancapkan penisnya dari belakang. Aku menjerit keras sekali sambil teriak, "Ampunn Wan argh.. eeuhh." Aku merasakan sesuatu keluar dari penisnya, cairannya banyak sekali aduh nikmatnya.

Kami berdua mendengar suara kaki naik ke atas loteng siapa gerangan? "Adiknya!" yang umurnya kira-kira 20 tahun, wah dia kaget melihat posisi kita yang seperti begini, Irwan tetap tenang ia bertanya kepada adiknya, "Hey Johny, ini yang dinamakan ngewe beneran." Dia langsung melongo, Nafsuku tambah muncak lihat satu lagi jejaka muda didepanku ini. Mataku memandang tajam kearahnya tanganku memberikan hint supaya dia maju mendekatiku seperti terhipnotis. Kucoba memberikan dia senyum yang menantang, kudekati dia tapi aku sudah tidak kuat rasanya tenagaku banyak habis waktu sanggama sama Irwan tadi, langsung si Johnny tanya sama Irwan, "Boleh nih kak?" tapi Irwan masih terbaring lemas di ranjang tak berenergi lagi. Aku langsung berbisik, "Ayo say.. cobalah!" Dia lebih ganteng dari kakaknya sedikit dengan tubuhnya yang atletis. Johny meraba-raba tubuhku dari bahu, pinggang sampai selangkangan, waktu dia raba selangkanganku dia langsung bilang, "Wah Kakak baru main pertama kalinya ya." Aku langsung mengiyakan, tanganku tanpa basa-basi lagi meremas penis yang di balik celananya. Dia juga no mercy langsung melepaskan baju dan celananya, gila panjang penisnya, sayang saya tidak bawa penggaris. Dia tidur telentang juga di ranjang, aku berada di atasnya. Aku disetubuhi juga olehnya sampai habis basah semua ranjangnya. Aku mendesah keenakan waktu dia mengeluarkan maninya. Tak terasa sudah Irwan terbangun ia kaget sekali melihat adiknya menyetubuhiku. Dia langsung berteriak marah dan menyalahkan adiknya.

Aku membela adiknya walau kurasa diriku terlalu letih, aku berkata bahwa aku bersedia kawin dengan Irwan, aku mencintaimu sejak dulu aku senang keluargamu, aku senang melakukan ini. Dia memelukku menciumku membelai rambutku dan seluruh tubuhku. Dia juga senang sama aku sejak tahun lalu di ruang kantor, cuma dia seorang lelaki yang pemalu alias tidak berani first action, dia ingin sekali kawin dengan seorang wantia karir. Aku balik memeluknya dan menciumnya juga, "Aku sayang kamu, Linda", Johnny langsung minta maaf padaku katanya dia khilaf terhadap ini, ia berkata ia ingin sekali punya pacar. Setelah ini ia bergegas ke dapur dan memasak makanan malam dan kami makan malam bersama. Akhirnya Johnny kukenalkan dengan adik perempuanku yang umurnya sama dengannya mereka jatuh cinta dan mencintai satu sama lain dan hubunganku dengan Irwan sekarang adalah suami istri yang harmonis kami mempunyai seorang bayi laki-laki yang berumur 5 bulan.

Aku menulis ini bersama suamiku di tengah malam mengenang masa lalu yang indah yang penuh dengan kenangan yang selalu terbayang di hatiku.

TAMAT

One Piece: Woman Island


Setting cerita ini adalah pada saat Luffy, Zorro, Usopp, Tony Chopper, Sanji, Vivi dan Nami, sedang melanjutkan perjalanan menuju Arabasta. Pada suatu hari saat dalam perjalanan, Usopp mengatakan bahwa ia telah menemukan sebuah pulau yang penuh dengan kota, lalu Nami mengatakan bahwa itu adalah Woman Island, keterangannya tidak lengkap, kotanya lumayan besar, penduduknya semuanya adalah wanita, dan Nami mengatakan bahwa mereka tidak akan menemukan hal yang menarik disana, tetapi karena Sanji kekurangan bahan makanan ia merekomendasikan kepada Luffy agar mampir terlebih dahulu. (percakapan tokoh tokoh di cerita saya memakai sistem naskah drama).

Sanji: "Hey Luffy, kita kekurangan makanan apa sebaiknya kita mampir terlebih dahulu?"
Luffy: "Tidak masalah he he, aku juga mau bertualang. Nanti beli daging yang banyak ya Sanji, he he"
Zorro: "Dasar bodoh, kau mau bertualang kemana? Seluruh pulau itu dipadati kota".
Luffy: "Tidak masalah, yang penting bertualang!"
Zorro: "Memangnya kau mengerti apa yang kubicarakan?"
Chopper: "Sudahlah Zorro, aku juga mau beli obat obatan disana."

Chopper lalu mendekati Nami.

Chopper: "Nami, bisa minta 50.000 berry? Aku mau beli peralatan dokter sekaligus obatnya"
Nami: "Tentu saja boleh, tapi bunganya 3x lipat"
Chopper: "Apaa? Mentang mentang aku rusa, Bukankah ini untuk kita bersama?"
Nami: "Tugas dokter bukan urusanku, mau atau tidak?"

Setelah dengan berat hati chopper pun menerimanya.

Sanji: "Apa kau keberatan Vivi sayaang?" ^_^
Vivi: "Kalau Cuma sekedar membeli perbekalan sih tidak apa apa kok Sanji, lagipula kata Nami arabasta jaraknya tak begitu jauh lagi."
Sanji: "Oke Vivii ^_^!"

Merekapun merapat, tetapi disana tidak ada orang sama sekali. Sanji pergi ke toko bahan makanan, Usopp pergi bersama chopper ke toko peralatan. Nami tinggal dikapal, Luffy menemaninya untuk jaga jaga agar Nami aman dari musuh, Vivi pergi bersama Karuu dan Zorro berjalan jalan mengelilingi pulau tetapi mereka berpisah di tengah jalan karena Zorro tiba tiba mengantuk. Lalu tidur siang.

Karuu: "Kwek?" (sambil menujuk Zorro dengan sayapnya)
Vivi: "Biarkan saja Mr Bushido tidur (panggilan Vivi terhadap Zorro), lebih baik kita mencari seseorang dipulau ini."

Sementara itu dikapal, Luffy yang sedang bengong mulai menggerutu.

Luffy: "Huh.. Kenapa aku yang harus menemanimu?"
Nami: "Kenapa? Kau keberatan bersamaku?
Luffy: "Aku kan juga mau lihat lihat isi pulau itu."
Nami: "Kita harus waspada, siapa tahu disini banyak angkatan laut yang menunggu untuk menyergap kita."
Luffy: "Ah gampang, aku kan bisa menghajar mereka semua?"
Nami: "Kau benar benar susah diatur, anggap saja kau temani aku sebagai ganti kau merusakkan jaket dinginku dulu di drum island"
Luffy: "Waah (hu-uh).. Kau curang"
Nami: "Terserah apa katamu" Luffy pun duduk menunggu sambil cemberut.

Di bukit. Zorro yang sedang tertidur diangkat seseorang dan dibawa entah kemana. Dia tidak menyadarinya karena ia tidur pulas sekali. Di toko peralatan sebuah kerangkeng besi jatuh dan mengurung Chooper. Ia sangat terkejut sekali, Lalu sebuah boneka setan-setanan jatuh dari atap dan membuat Usopp jatuh pingsan dengan mulut berbuih. Mereka lalu dibawa seseorang di toko makanan, sekumpulan wanita mengepung Sanji dan menangkapnya, Sanji tidak bisa melawan wanita karena ia adalah orang yang sangat menghargai wanita, saat diseret ia malah kegirangan sambil berkata yang bukan bukan.

Vivi dan Karuu aman aman saja. Di kapal ada seorang ninja wanita memasuki dek diam diam lalu membuka sebuah botol aneh yang menyebarkan bau wangi. Saat Luffy menciumnya badannya terasa panas dan merasa ada perubahan yang aneh pada barang pribadinya, saat melihatnya ia pun panik.

Luffy: "Whuaa.. Namii!"

Luffy berlari ke arah Nami yang sedang duduk di dekat pohon jeruknya sambil minum teh dengan santai.

Nami: "Kenapa ribut ribut?"

Luffy membuka celananya lalu menarik penisnya hingga panjang sekali (dia kan manusia karet jadi wajar dong) lalu ditunjukkannya ke Nami.

Luffy: "Kenapa barangku menjadi keras begini Nami?"

Wajah Nami memerah saat Luffy menunjukkan penisnya.

Nami: "Singkir kan itu dari pandangan ku!"
Luffy: "Iya iya kok marah sih? Tapi apa kau tahu aku ini kenapa?"

Kata Luffy sambil menarik lagi celananya sambil merasa cemas.

Nami: "Masa begitu saja kau tak tahu? Kau kan sudah dewasa, itu tandanya kau terangsang Luffy."
Luffy: "Emangnya apa yang membuatku terangsang begini Nami?"
Nami: "Yah.. Macam macam bisa pikiran jorok atau jangan jangan kau melihat perempuan tanpa busana didekat sini ya? Dasar jahil"

Ninja wanita yang memberikan obat tersebut keheranan melihat Luffy masih bisa mengendalikan diri walau sudah terangsang, iapun menambah dosisnya. Tapi tanpa sengaja aroma obat itu juga mengenai Nami, muka Nami pun perlahan-lahan memerah.

Nami: "Haah.. Kenapa tiba tiba udara panas ya?"
Luffy: "Ah masa? Biasa saja kok! Jangan jangan sakit yang kemarin kambuh lagi? (bagi yang setia menonton anime one piece pasti tahu Nami dulu sakit apa), aku antar ya kekamar ya Nami."

Luffy lalu mengangkat Nami, Nami sedikit terkejut, jantungnya berdebar debar, dalam hatinya ia berpikir mengapa ia merasa begitu, tapi Luffy sama sekali tak bermaksud apa apa, dia hanya mau menolong Nami. Tanpa sengaja Luffy memegang pantat Nami yang membuat rangsangannya semakin menjadi jadi, vagina Nami sedikit demi sedikit mengalirkan cairan dari liang kewanitaannya, celana dalam Namipun menjadi lembab.

Nami: "Uhh ah.." Desahnya pelan.
Luffy: "Kenapa Nami?"
Nami: ".. Eng.. Tidak apa apa.."

Mereka akhirnya sampai ke kamar Nami, Luffy lalu menidurkan Nami, Nami terlihat menderita, dia memegang selangkangannya terus sambil merem melek menghembuskan nafas hangat, Luffypun heran.

Luffy: "Istirahat ya Nami, aku keluar dulu mencari rusa kutub (chopper), biar ia mengobatimu"

Saat Luffy mau beranjak keluar tiba tiba Nami bangkit dari kasur dan berlari menghalangi pintu.

Luffy: "Lho kok cepat sekali sembuhnya Nami?"

Luffy sedikit bingung wajah Nami yang merah dan menyipit itu terlihat haus akan sesuatu, dia lalu mendekati Luffy secara perlahan. Luffy yang melihatnya, berulang kali merasa heran. Nami lalu mencengkram kedua tangan Luffy menariknya dan merebahkannya ke ranjang.

Luffy: "Waa Nami, kau kenapa?"

Tanpa memberi aba aba Nami lalu mencium bibirnya Luffy secara bernafsu sekali dan membuat bibir manusia karet itu sedikit tertarik tarik, Luffy terkejut tapi ia membiarkan Nami bergerak bebas diatas tubuhnya. Setelah itu Nami membuka kancing baju Luffy dan celana pendeknya, dia mengambil topi jerami dari kepala Luffy lalu dilemparkan ke atas meja, Nami meraih penis Luffy dan mulai mengulumnya.

Luffy: "Ah ha ha ah haa haa! Nami geli nih ah ahaa ha ha! Aduh duh"

Luffy tertawa tawa kegelian akibat kuluman Nami yang mengilukan. Nami lalu mengocoknya hingga penis Luffy memanjang memendek seperti karet yang ditarik tarik tetapi Luffy menikmatinya sambil tertawa tawa, Nami membuka baju atasan nya dan celana roknya juga baju dalam nya. Dan akhirnya Namipun bugil dihadapan Luffy, mata Luffy mendongak melihat keadaan itu. Payudara Nami yang besar itu membuat rangsangan di penis Luffy semakin menjadi jadi.

Nami: "Peluk aku Luffy.."

Pinta Nami memelas. Luffy akhirnya memeluknya lalu Nami membalikkan badannya higga Nami berada dibawah sekarang, payudara Nami yang bergoyang goyang itupun diraih Luffy dan diremasnya, remasan Luffy membuat Nami menggigit jari kenikmatan, lalu Luffypun mengulum pentil dada Nami yang merah muda itu, Nami merintih dengan lembut, Nami mengambil penisnya Luffy lalu diarahkan ke arah vaginanya yang berbulu tipis itu, Luffy sedikit terkejut.

Nami: "Uhh teruskan Luffy jangan ditahan ahh."
Luffy: "Nami, dimasukin nih? Memangnya enggak apa apa?"

Luffy berkata begitu karena melihat Nami memejamkan mata sambil mengerutkan dahi serta mengeratkan gigi, Nami terlihat sakit dimata Luffy yang polos itu.

Nami: "Tidak, aku tidak apa apa.. Ahh.. Tekan Luffy, tekan.. Ah.."

Luffy pun menurut dia mengangkat kedua paha Nami sehingga kedua paha Nami berada dipundaknya sekarang, sambil menahan paha Nami, Luffy lalu menekan penis nya di vagina Nami, awalnya hanya kepala penisnya saja yang masuk tapi sedikit demi sedikit pun penis Luffy akhirnya masuk seluruhnya.

Luffy: "Eghh.. Hangat.. Nami"

Nami membuka mulutnya dan menghembus kan nafas seperti tersengal sengal.

Nami: "Hah.. Hah.. Hah.. Ah luf.. Fy hah.. Hah.."

Luffy pun menggenjotnya dengan penuh semangat, Nami mengelepar gelepar seperti ikan yang jatuh didarat, badan atas nya berkali kali berputar kekanan kiri, Nami menjerit keras dan akhirnya mengalami orgasme, cairan hangat mengalir di antara vaginanya, sedikit darah mencampuri cairan itu akibat selaput dara Nami yang robek. Sekitar 20 menit permainan itu berlangsung, Nami meminta Luffy terlentang dan ia memasukkan penis Luffy kembali ke dalam vaginanya, sekarang Nami yang menguasai permainan.

Sementara mereka asyik bermain, Zorro yang sedang terikat dengan tambang merasa dirinya terancam melihat sekumpulan prajurit wanita berusaha menelanjanginya ia lalu melepas sepatunya dan meraih pedangnya dengan kakinya, dan dengan pedang dikakinya Zorro membabat habis mereka. Setelah memotong tambang yang mengikat dirinya Zorro pun pergi dari situ. Sementara itu Usopp sedang diikat ditiang dan 3 orang wanita cantik sedang berebut membuka celananya bermaksud menelanjanginya tetapi Usopp berpikir lain.

Usopp: "Waa! Kalian mau apa? Waa! Dagingku tidak enak! Menyingkir sanaa! Rusa kecil yang disana lebih enak, dia masih muda!"

Chopper: "Apaa? Ti, tidak!, dagingku tercemar kutu urat, aku tidak enak dimakan, lagipula hidungku biru. Makan saja dia!"

Wanita 1: "Berisik! Aku tidak ada urusan denganmu rusa kecil, memangnya siapa yang mau memakan kalian? Tapii, mungkin teman kami yang satu ini mau."

Wanita 3: "(slrpp) Rusa kecil yang bisa bicara, tampaknya lezat! sini maniss.."

Chopper lalu menjerit jerit karena prajurit wanita yang bertubuh gemuk berusaha memasaknya dikuali yang mendidih. Chopper yang ketakutan pun berubah menjadi wujud manusianya dan menghancurkan kerangkeng lalu menghajar semua wanita dan menyelamatkan Usopp.

Mereka pun pergi dari situ sementara itu Sanji sibuk melayani 6 wanita. Sanji kelihatan sangat senang sekali.

Sanji: "Kalian sungguh mempesona dan menggairahkan ha ha ha, apa tidak sebaiknya aku memanggil teman temanku kesini? gadis gadis?"
Wanita: "Kau tinggal saja disini sayang, temanmu yang dikapal itu sedang diincar pembunuh kami, tinggal saja bersama kami, kau akan mendapat kepuasan setiap dan sepanjang hari"

Sanji yang terkejut mendengar perkataan itu segera mencabut penisnya dari wanita keempat dan membuat mereka semua pingsan dengan memukul leher mereka secara perlahan.

Sanji: "Sial! mudah-mudahan Nami tidak apa apa, jangan-jangan Luffy bodoh itu meninggalkannya sendirian.

Sanji pun segera menuju kekapal setelah memakai busananya.

E N D

Adu Kepiting


Aku Anis, kembali akan menyumbangkan suatu kisah tentang sepasang suami istri yang baru saja menikah lalu tinggal di suatu daerah pegunungan yang jauh dari keramaian dengan harapan agar mereka bisa terhindar dari pergaulan, bahaya lalu lintas dan kesalahpahaman dengan orang lain. Di samping itu, ia juga menghindarkan istrinya dari gangguan laki-laki lain yang menyukainya karena istrinya sangat cantik sehingga jadi rebutan di kampung asalnya.

Mereka berdua hidup dalam kesunyian, namun ia tidak kesulitan makanan karena selain ia berkebun dan bertani, juga ia rajin ke sungai untuk menangkap ikan sebagai lauknya. Beberapa bulan kemudian, sang istri mulai mengidam, sehingga membutuhkan makanan tertentu sesuai selera dan keinginannya sebagaimana layaknya perempuan lainnya yang mengidam.

Suatu hari, sang istri tampak tidak enak perasaannya dan selalu emosi akibat pengaruh dari janin yang dikandungnya.

"Mas, boleh ngga minta tolong sama kamu?" tanya sang istri lembut.
"Soal apa dinda?" sang suami balik bertanya dengan lembut pula.
"Aku ingin sekali makan kepiting, Mas. Boleh ngga Mas mencarikan aku?"
"Wah, wah, wah, bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan kepiting di puncak gunung seperti ini?" kata sang suami.
"Tolong cari donk. Berusahalah. Pasti Mas bisa menemukannya. Kalau aku nggak masalah, tapi yang ini nih," desak sang istri sambil menunjuk janin yang ada dalam perutnya.

Setelah lama didesak, akhirnya sang suami pergi juga meninggalkan rumah untuk mencari kepiting. Dia berjalan mengelilingi hutan dan naik turun dari gunung yang satu ke gunung yang lainnya, bahkan menelusuri beberapa sungai-sungai kecil yang ada di tengah hutan. Ketika ia menemukan sebuah sungai yang agak deras airnya, ia lalu turun dan mencoba mencari lubang-lubang yang ada di pinggirnya.

Setelah ia menemukan suatu lubang yang agak besar dan dalam, ia lalu memasukkan tangannya ke dalam lubang itu. Bahkan mencoba mengeluarkan air dan lumpurnya hingga lubang itu bertambah besar dan dalam, sampai-sampai seluruh badannya bisa masuk. Suluruh tubuhnya basah kuyup dengan lumpur bercampur keringat karena ia merasa penasaran dan yakin sekali kalau dalam lubang itu ada kepitingnya.

Dalam keadaan bermandikan keringat bercampur lumpur, ia mengkonsentrasikan diri hanya pada isi lubang itu, ia lalu membuka seluruh pakaiannya yang basah lagi kotor itu. Tiba-tiba ia mendengar suara kaki berjalan di air. Semakin lama kedengarannya semakin dekat, bahkan terdengar ada suara manusia yang sedang bicara, sehingga ia merasa sangat ketakutan karena selama ia tinggal di daerah itu belum pernah bertemu dengan orang lain kecuali hanya istrinya. "Jangan-jangan orang itu adalah penjahat atau orang hutan", demikian pikirnya. Ia lalu masuk sekalian ke dalam lubang itu unutk bersembunyi dengan tanpa busana sehelaipun. Dalam keadaan menungging dengan pantat mengarah ke pintu lubang tersebut, ia melihat melalui selangkangannya, ternyata ada 4 betis berdiri hanya kurang lebih berjarak 30 cm dari pantatnya.

Ia gemetar sangat ketakutan sehingga dengan tanpa sengaja kencingnya menetes keluar melalui kontolnya yang tergantung lemas.

"Wah, ini ada buah-buahan langka dan kelihatan indah sekali" sang suami itu mendengar suara dari salah seorang yang kakinya kelihatan itu. Bahkan orang itu sempat meraba dan menarik-narik kontol sang suami yang disangkanya buah-buahan, sehingga sang suami itu semakin ketakutan hingga menyebabkan air kencingnya tambah banyak keluar. Ia tak mau bergerak karena takut diketahui kalau ia adalah manusia.

"Buah apa itu teman?" tanya salah seorang dari mereka yang berdiri itu sambil ikut memegang dan menarik-narik buah tergantung itu.

Tiba-tiba pantat sang suami mengeluarkan suara kentut sehingga kedua orang hutan yang berdiri itu mencium bau busuk. Lalu temannya menjawab..

"Mungkin inilah yang dinamakan buah busuk-busuk" lalu kedua orang itu sepakat meninggalkan tempat itu dan bermaksud memetik buah busuk-busuk itu setelah ia kembali dari menebang kayu di hutan.

Setelah kedua orang hutan itu pergi, maka sang suami yang masuk ke lubang tadi segera keluar dan pulang terburu-buru ke rumahnya sambil menjinjing pakaiannya. Sesampainya di rumah, sang istri heran karena suaminya berlari terengah-engah tanpa mengenakan pakaian.

"Kok begitu Mas. Ada apa? Kenapa lari seperti orang ketakutan? Mana kepitingnya?" Pertanyaan sang istri bertubi-tubi pada sang suami, namun ia tetap belum mampu menjawab karena sangat lelah dan ketakutan.
"Mm.. maaf dinda, aku tidak berhasil menangkap kepitingnya" jawab sang suami dengan nafas terengah-engah.
"Kenapa Mas? Ada masalah apa di sungai?" desak sang istri.
"Anu.. Anu dinda. Sulit ditangkap karena lubangnya terlalu dalam. Besok saja yah," rayu sang suami pada istrinya.
"Masa hanya kepiting tak bisa ditangkap. Kalau gitu kita gantian saja. Mas jaga rumah dan saya yang akan menangkap kepitingnya" ujar sang istri tidak sabar

Menjelang sore hari, sang istri berangkat ke sungai setelah mendapat petunjuk dari sang suami mengenai tempatnya. Meskipun sang suami tidak mengizinkan istrinya pergi agar jangan sampai bertemu dengan kedua orang hutan tadi, tapi karena tak mau cekcok dan membuat marah istrinya, maka dengan terpaksa dan was-was akhirnya ia mengizinkannya.

Sesampainya di sungai tersebut, sang istri turun dan akhirnya menemukan lubang yang baru saja dimasuki suaminya. Ia juga merasa penasaran dan yakin kalau dalam lubang itu ada kepitingnya, sehingga buru-buru ia melepaskan seluruh pakaiannya agar tidak kotor lalu masuk ke lubang itu dengan posisi seperti posisi suaminya tadi sewaktu dalam lubang. Belum sempat ia memasukkan tangannya ke luang-lubang kecil yang ada dalam lubang besar itu, tiba-tiba ia mendengar suara orang sedang bicara, bahkan kedengarannya berjalan menuju ke arahnya.

"Wah, celaka teman. Kita didahului orang lain. Buah busuk-busuk itu sudah tidak ada di tempatnya. Rasanya baru saja dipetik orang lain dengan menggunakan pisau tajam. Ini buktinya" kata salah seorang dari mereka yang berdiri persis di dekat pantat sang istri itu sambil meraba, mengelus dan menusuk-nusuk lubang kemaluan sang istri karena dianggapnya sebagai bekas petikan/potongan buah tadi.

Kedua orang hutan itu tidak ragu lagi kalau baru 'buah' itu baru saja dipetiknya karena sewaktu ia meraba tempatnya, ia merasakan sedikit basah, berlubang dan halus seperti bekas potongan pisau tajam.

"Untung saja vaginaku halus, mulus, putih tanpa ditumbuhi bulu sehelaipun, sehingga mereka tidak curiga kalau itu adalah daging montok wanita yang sedang basah karena ketakutan sehingga mengeluarkan air kencing", demikian pikir sang istri.
"Ayo teman, kita cari dan kejar si pemetik buah impian kita itu. Ia pasti belum jauh dari tempat ini, karena bekas petikannya masih basah dan getahnya masih menetes" ajak salah seorang dari orang hutan itu.

Akhirnya mereka segera pergi dan sepakat mencari orang yang dicurigai telah memetik buah busuk-busuk impian mereka itu.

"OK, kita bagi sasaran. Kamu ke kiri dan aku ke kanan. Ia pasti masih berada di sekitar sini karena bau buah-buahan itu masih sangat terasa busuknya". Kata orang hutan yang satunya lagi seperti yang didengar oleh sang istri ketika keduanya baru saja meninggalkan lubang kepiting itu.

Pikir sang istri, bau busuk itu tentunya adalah bau kentut. Setelah itu, sang istri terburu-buru keluar lalu pergi meninggalkan lubang itu sambil berlari menjinjing pakaiannya. Sesampainya di rumah, keadannya persis sama dengan keadaan suaminya ketika mengalami hal serupa. Ia tak mampu berkata-kata dan sulit ia menjelaskan kejadian tadi. Mereka saling menyembunyikan apa yang dialaminya di sungai tadi, meskipun dalam hati mereka saling curiga tentang kemungkinan kejadian yang sama.

Keesokan harinya, sang suami bersama sang istri sepakat untuk berangkat bersama-sama ke sungai mencari kembali kepiting dengan keyakinan kalau kedua orang hutan kemarin itu tidak bakal lewat di situ lagi karena buah impiannya sudah dianggap tidak ada lagi. Keduanya langsung menuju ke lubang yang masih diyakini ada kepitingnya.

"Mas, coba sekali lagi. Kamu saja yang masuk biar saya yang jaga di luar kalau-kalau ada orang yang melihat kita. Sebaiknya buka saja pakaiannya Mas biar tidak kotor" kata sang istri ketika mereka sampai di dekat lubang itu.

Setelah sang suami masuk dengan posisi seperti semula dalam keadaan telanjang bulat, sang istri menyaksikan kontol suaminya sedang tergantung di selangkangannya sambil berpikir bahwa mungkin kontol suamiku inilah yang dikatakan oleh kedua orang hutan kemarin itu sebagai buah busuk-busuk, sehingga setelah ia melihat kemaluanku, ia lalu beranggapan kalau buah itu sudah dipetik.

"Bagaimana Mas? Sudah dapat kepitingnya?" tanya sang istri pada suaminya sambil membungkuk untuk melihat keadaan suaminya dalam lubang.
"Belum dinda, tapi sudah hampir kutemukan. Sabarlah sebentar dinda"
"Ini kepitingnya Mas. Saya sudah menangkapnya" canda sang istri sambil memegang dan menarik-narik benda yang tergantung di selangkangan sang suami sambil tertawa terbahak-bahak.

Nampaknya sang istri tak mau melepas 'kepiting' yang ditangkapnya itu, malah ia semakin memainkannya, mengelus dan mengocoknya hingga kepitingnya itu semakin keras, membengkak dan membuat pinggul sang suami bergerak-gerak.

"Sudahlah dinda. Jangan ganggu aku dulu. Kepitingku itu tak sulit ditangkap karena akan datang sendiri ke rumah, bahkan sebentar di rumah pasti kuserahkan untuk kamu makan sepuasnya" canda sang suami.

Karena sang suami sudah tak tahan lagi dipermainkan kontolnya sementara sang istri tak mau berhenti memainkannya, malah nampak menginginkannya saat itu, maka sang suami memutuskan keluar dulu.

"Kalau gitu kita gantian cari kepitingnya dinda. Aku kecapean" kata sang suami sambil keluar dari lubang itu dan digantikan oleh si istri setelah ia juga menelanjangi dirinya karena takut akan kotor pakaiannya.
"Kamu yang jaga di luar yah Mas. Bilang kalau ada orang lain yang melihat kita, tapi jangan macam-macam loh..," kata sang istri.

Setelah posisi sang istri sama dengan posisi sang suami tadi, tiba-tiba sang suami meraba-raba pantatnya lalu turun ke selangkangan dan terus ke kemaluan sang istri dan memainkannya seperti halnya ia dipermainkan tadi.

"Wah, ini 'kepiting' betinanya sudah kutangkap dinda. Indah sekali dan pasti nikmat dimakan. Boleh aku makan dinda?" tanya sang suami sambil mengelus dan menusuk-nusuk lubang kemaluan istrinya yang sedang menungging dalam lubang.

Sang istri tampak menikmatinya dengan menggerak-gerakkan pinggulnya dalam lubang. Sementara sang suami yang sejak tadi terangsang dari dalam lubang tak mau berhenti memainkan, bahkan sesekali mencium dan menjilatinya lalu mengatakan kalau ia sedang memakan kepitingnya mentah-mentah.

"Ayo Mas. Mana kepitingnya? Adu donk 'kepiting'nya dengan 'kepiting'ku" canda sang istri tapi tampak serius karena memang ia betul-betul sudah terangsang.

Sang suami segera mengarahkan mulut 'kepiting'nya ke mulut 'kepiting' sang istri lalu mengadunya. Perlahan tapi pasti, kedua buah langka itu saling bersentuhan di mulut lubang kepiting. Mula-mula amat sulit masuknya karena 'kepiting' sang istri agak masuk ke dalam, namun karena sang istri mengerti dan memang membutuhkannya, maka pantatnya pun terdorong sedikit keluar sehingga berada di luar lubang hingga sang suami sangat mudah memasukkan kepala 'kepiting'nya ke dalam mulut 'kepiting' sang istri. Suara yang ditimbulkan dari pertarungan antara kedua 'kepiting' langka itu, sangat indah dan jelas terdengar karena berada di mulut lubang, apalagi sedikit basah karena percampuran antara air khas 'kepiting' dengan air sungai serta air lumpur.

"Akhh.. Uuhh.. Ikkhh.. Ookkhh.. Eennakk. Nikkmat sekali kepitingnya Mas. Terus.. Teruss.. Ayo hantam teruss Mass" erang si istri tersentak-sentak sambil menggerak-gerakkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan. Si suami juga mengerang hal yang serupa.

Mungkin karena sang istri telah merasa lelah menungging, ia meminta sang suami untuk berhenti bergerak sejenak, tapi sang suami tidak menghiraukannya. Akhirnya sang istri menarik pantatnya masuk lebih dalam sehingga 'kepiting' sang suami dengan sendirinya keluar dan lepas dari lubang 'kepiting' sang istri, bahkan perut sang suami dengan keras menghantam mulut lubang yang dimasuki sang istri tersebut. Namun tak lama setelah itu, sang istri kembali menjulurkan keluar pantatnya dalam keadaan terbalik yakni telentang dalam lubang, sehingga memudahkan sang suami memasukkan kembali 'kepiting'nya ke dalam mulut 'kepiting' sang istri. Pertarungan pun dimulai kembali yang diiringi dengan musik khas yang keluar dari pertarungan kedua 'kepiting' itu.

"Decak.. Decukk.. Decikk.. Plagg.. Plugghh.. Pologg" suara itulah yang mewarnai kesunyian di sungai itu yang dibarengi pula dengan suara nafas saling mengejar dari kedua mulut pasangan suami istri yang sedang mengidamkan kepiting itu.
"Maass.. Mass, 'kepiting'ku mau pipis" kata sang istri ketika sang suami dengan gencarnya menghentakkan 'kepiting'nya keluar masuk ke mulut 'kepiting' sang istri tanpa menghiraukan kata-kata sang istri.
"Biar saja pipis, karena 'kepiting'ku juga mau pipis, biar bersamaan saja" kata sang suami sambil tetap mempercepat kocokannya dan meraba-raba serta meremas-remas kedua benda kenyal yang ada di dada sang istri, meskipun tanpa melihatnya karena letaknya agak ke dalam.
"Nnikkmatnnya kepitingnya yach" secara serentak kedua pasangan itu tiba-tiba mengucapkan kalimat yang sama saat 'kepiting' keduanya bersamaan mengeluarkan cairan hangat yang dianggapnya sebagai air pipis 'kepiting'.

Akhirnya keduanya tergeletak di tempatnya masing-masng. Sang suami tergeletak di luar lubang sementara sang istri di dalam lubang. Setelah terdiam sejenak, sang istri lalu keluar dan mencium pipi dan bibir sang suami yang masih tergeletak di pinggir sungai.

"Mas, ayo bangun. Kita pulang aja yuk. Kita sudah tangkap dan nikmati kepitingnya. Aku sudah puas sekali dan tak bergairah lagi mencari kepiting beneran" kata sang istri sambil membangunkan suaminya dengan suara sedikit berbisik di telinganya.
"Wah kita terlalu jauh mencari kepiting dinda, padahal ada kepiting yang kita bawa masing-masing. Lebih nikmat lagi memakannya, bahkan tak pernah habis. Ayo dinda, nanti di rumah kita makan lagi kepiting ini.. Ha.. Hha.. Hha" kata sang suami sambil merapikan kembali pakaiannya bersama sang istri lalu keduanya tertawa terbahak sambil berpelukan dan berciuman, lalu kembali ke rumah.

Setibanya di rumah, mereka kembali mengadu 'kepiting'nya beberapa kali dengan posisi yang lebih membuatnya leluasa bergerak. Sejak saat itu, sang istri tak pernah lagi meminta suaminya untuk mencari kepiting di sungai dan sejak itu pula keinginannya terhadap kepiting sungguhan hilang.

Bagi pembaca yang penasaran ingin tahu lebih banyak pengalamanku atau ceritaku ini, maka silakan hubungi aku via email.


E N D

Asmara Dewi Laut


Pada suatu hari aku bersama temanku, Siska sedang bersantai-santai di pantai Carita. Kami ingin menikmati keindahan pantai dan menunggu terbenamnya matahari. Aku dan Siska sudah lama berkenalan karena kami satu kelas di Fakultas MIPA tetapi beda jurusan. Kalau Siska berasal dari jurusan Fisika sedangkan aku aberasal dari jurusan Matematika.

Setelah bersantai-santai kami berjalan-jalan menyusuri pantai sambil menikmati indahnya ombak yang saling berkejar-kejaran di permukaan laut. Saat kami jalan-jalan tiba-tiba kami melihat ada seekor ikan berwarna keemasan yang sedang megap-megap di suatu kubangan kecil. Lalu kami menghampiri ikan itu dan aku memegangnya. Sesaat setelah aku pegang ikan itu suatu keanehan terjadi, ikan itu berkedip-kedip dan mengeluarkan air mata seperti menangis.

"Wah, ikan ini aneh sekali. Kok bisa berkedip-kedip ya?"

"Iya ya, itu bukan ikan sembarangan atau jangan-jangan itu ikan siluman."

"Mungkin pendapatmu betul juga, Sis. Soalnya seumur-umur aku belum pernah melihat ada ikan bisa berkedip-kedip bahkan menangis."

"Sebaiknya taruh saja ikan itu di laut, Yas. Aku tidak mau terjadi hal yang tidak-tidak kalau kita membawa ikan ini."

Setuju atas saran temanku akhirnya aku berjongkok untuk melepaskan ikan itu ke laut. Kemudian hal aneh terjadi lagi, setelah aku lepas, kami melihat ikan itu melompat-lompat setinggi kurang lebih 10 meter sebanyak 7 kali.

Aku pun berdecak kagum.

"Wah, luar biasa baru kali ini aku melihat ikan bisa melompat setinggi itu. Mungkin pendapatmu benar juga ya, Sis. Ikan itu mungkin ikan siluman."

Kami cukup lama terpana melihat keanehan tersebut. Setelah terdiam cukup lama akhirnya Siska membuka pembicaraan.

"Yas, kamu mau ikut aku nggak ke Kalimantan pas liburan nanti, sekalian berkenalan dengan orang tua dan nenekku?"

Aku berpikir sejenak.

"Ya, boleh juga sekalian aku mau menikmati suasana di luar Jawa."

Setelah kami berbincang-bincang cukup lama, tak lama kemudian matahari pun terbenam dan kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Saat liburan yang dinantikan pun tiba. Aku bersama Siska pergi ke Kalimantan dengan menggunakan kapal laut. Kami mendapatkan tempat di dek 3.Dan mendapatkan pinjaman kasur lipat yang merupakan fasilitas dari pihak kapal. Kapal itu berangkat dari Tanjung Priok sekitar pukul 6 sore yang kira-kira akan tiba di Kalimantan 36 jam kemudian. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 10 malam dan kami pun memgantuk setelah ngobrol cukup lama.

Tak lama kemudian aku terbangun dan merasakan gelisah. Kemudian aku berjalan-jalan di sekitar kapal tetapi aku melihat semua penumpang di kapal ini tertidur pulas. Aku berjalan sendirian di kapal itu. Sampai aku berniat untuk pergi menuju pinggir kapal untuk melihat-lihat air laut. Kemudian tibalah aku di pinggir kapal tetapi sesaat setelah itu aku merasakan ada sepasang tangan kokoh yang mengangkatku dan melemparkanku ke laut. Pada saat itu aku tak bisa berbisa apa-apa. Dan aku tercebur ke laut sambil berteriak-teriak minta tolong, tetapi hal iti sia-sia karena tak seorang pun yang mendengar teriakanku. Karena percuma saja aku berteriak kemudian aku mencari-cari benda di sekitarku untuk di jadikan pelampung. Dan lagi-lagi usahaku sia-sia karena permukaan laut itu sangat bersih dan tak di jumpai benda apapun untuk di jadikan pelampung dan kapal yang aku tumpangi semakin jauh dari pandanganku. Setelah semuanya sia-sia akhirnya aku kelelahan dan tak sadarkan diri.

Pada saat aku siuman aku mendapatkan diriku berada di kamar yang sangat indah dan mewah dan aku terbaring di sebuah dipan berukir indah dengan tilam yang tebal dan empuk serta bersepreikan kain sutera halus yang dihiasi dengan benang dari emas. Saat aku bangun aku menjumpai seorang wanita yang sangat cantik luar biasa yang mengenakan mahkota emas di kepalanya dan memakai pakaian seorang ratu yang dihiasi dengan emas intan permata yang melekat di bagian tertentu.

"Di mana aku ini dan siapakah anda?"

"Sekarang engkau berada di istanaku dan akulah penguasa di isatana ini. Kalau engkau ingin tahu namaku panggil saja aku Asmarani dan siapakah namamu?" Tanya Asmarani seraya mengulurkan tangannya.

Aku sangat terpesona memandang kecantikannya yang tak dapat di tandingi oleh seluruh wanita cantik di dunia ini. Kemudian sambil mengulurkan tanganku aku memperkenalkan diri kepadanya.

"Namaku Yasir dan aku masih kuliah. Lalu mengapa engkau membawaku kesini?"

"Aku membawamu kesini karena engkaulah yang telah menolongku."

"Kita kan baru berkenalan bagaimana caranya aku telah menolongmu?" tanyaku dengan heran.

"Kau masih ingat saat engkau bersama temanmu di pantai Carita dan menemukan seekor ikan yang megap-megap?"

Kemudian aku berpikr sejenak.

"Ya, saya ingat menemukan seekor ikan di pantai itu. Lalu apa hubungannya denganmu?" tanyaku.

"Karena akulah ikan itu."

Aku sangat terkejut mendengar pengakuannya.

"Bagaimana ceritanya engkau menjadi seekor ikan?"

"Pada intinya begini, suatu saat iblis pengusa laut Cina Selatan ingin merampas daerah kekusaanku. Kemudian aku bertarung dengannya dan berhasil mengalahkan iblis tersebut tetapi setelah itu aku kehabisan tenaga sehingga tidak dapat berjalan menuju ke laut. Maka dari itu aku berubah menjadi ikan dengan harapan ada orang yang mau memindahkanku ke laut. Dan saat itu aku punya nazar barang siapa yang menaruh ikan itu ke laut jika dia laki-laki maka akan kujadikan pendamping hidupku."

Aku sangat terkejut mendengar ucapannya pada kalimat terakhir.

"Berarti aku akan menjadi suamimu. Dan setelah menjadi suamimu apakah aku bisa kembali ke dunia?"

"Bisa, tetapi setelah engkau kembali ke dunia aku harap engkau menjengukku di sini secara rutin."

Akhirnya aku pun menyetujui permintaannya. Setelah itu kami pun keluar kamar untuk melaksanakan akad nikah di sekitar istana tersebut. Saat diluar kamar aku sangat mengagumi kemegahan dan keindahan istana itu. Tak ada satu istanapun di dunia ini yang dapat menandingi istana milik Asmarani.

Pelaksanaan akad nikah berjalan dengan lancar dan disertai dengan pesta yang sangat mewah dan meriah selama sebulan penuh. Kami pun duduk di singgasana pelaminan yang sangat indah sambil menikmati hiburan yang di selenggarakan oleh istana.

Setelah cukup lama menikmati hiburan tersebut Asmarani menggandengku untuk menuju ke kamar pengantin yang telah di persiapkan semenjak pesta di mulai. Akhirnya kami tiba di kamar pengantin dan Asmarani mengunci pintu kamar.

Aku berdecak kagum atas keindahan dan kemewahan kamar pengantin itu. Kamar yang cukup luas bahkan lebih luas daripada rumah kontrakanku dan aroma wewangian kamar yang sangat harum semerbak.

Kemudian Asmarani membimbingku untuk menuju ke ranjang pengantin. Aku kembali kagum atas keindahan ranjang pengantin itu. Ranjang itu bersepreikan kain sutera halus mengkilat dan berwarna merah muda dan dihiasi dengan aneka ragam bunga surgawi.

"Hai Yasir, sekarang kita telah resmi menjadi suami istri."

"Ya, Aku telah resmi menjadi suamimu."

"Kalau begitu ayolah tunggu apalagi?"

Kemudian aku mendekati Aamarani dan duduk berhadapan diatas ranjang pengantin. Aku menatapnya sambil membelai-belai rambutnya yang panjang hitam mengkilap dan sangat bagus sekali.

"Asmarani..

"Ya?"

"Rambutmu bagus sekali."

"Ah, Yasir. Nanti dari ujung rambut sampai ujung kaki diriku semuanya akan menjadi milikmu karena aku resmi menjadi istrimu."

Kami terdiam sejenak.

"Yasir..

"Ya?"

"Apakah engkau mencintaiku?"

"Ya, selain kecantikanmu tak ada yang dapat menandingi, engkau telah resmi menjadi istriku. Makanya aku sangat mencintaimu."

"Sungguh?"

"Ya."

Kami saling menatap dan aku tahu apa yang sangat diharapkan oleh Asmarani. Lalu aku mendekati wajahnya dan melabuhkan ciuman ke bibirnya yang lembut itu. Dan Asmarani pun menyambut ciuman itu dengan hangat. Kemudian kami saling melumat bibir, saling memilin lidah dan saling menggelitik di rongga mulut masing-masing. Hingga kami larut dalam ciuman yang cukup panjang. Asmarani begitu agresif dalam permainan itu, membuat nafsu birahiku sedikit memuncak. Dan kami saling melepas ciuman itusetelah hampir kehabisan nafas dan terengah-engah.

Kami saling menarik nafas dan menghempaskannya berlahan.

"Ahh..!desah Asmarani.

Lalu aku merebahkan tubuh Asamarani dan memeluknya di atas ranjang pengantin. Dan Asmarani pun balas memelukku dengan hangat.

"Yasir..

"Ya?"

"Aku sangat bahagia berada di pelukanmu."

"Oh ya?"

"Ya, aku tak mau lepas dari pelukan hangatmu."

"Tidak, sayang. Aku tak akan melepaskan pelukanku yang membuatmu begitu hangat."

Kami saling menatap dan saling melabuhkan ciuman lagi. Kali ini cumbuan begitu dahsyat dan keduanya melepaskan pakaian. Asmarani melepaskan pakaianku dan aku melepaskan pakaian pengantin Asmarani beserta atribut keratuannya. Kami sama-sama membiarkan tubuh telanjang tanpa sehelai benangpun yang melekat, hingga dalam beberapa saat saja kedua pakaian pengantin kami sudah berserakan di atas permadani yang sangat indah.

Asmarani sangat menikmati sentuhan-sentuhan bibirku, dan berulang kali aku mencumbunya dengan bibirku. Setelah itu aku mengalihkan ciuman ke leher jenjang Asmarani, menjilati, mencium di balik telinga, dan lidahku menggelitik di lubang telinganya yang bersih dan harum, Asmarani mendesah karena kenikmatan yang menggelora dalam tubuhnya mengalir deras.

"Ouuhh.."desah Asmarani.

Aku mengalihkan ciuman agak ke bawah dan menatap dua buah payudara yang lembut bagai salju dan masih kencang, meremas dengan tangan secara berlahan dan mulutku mencucup puting susu yang mungil yang membuatku gemas untuk mempermainkannya. Asmarani makin menggelinjang dan menggeliat-geliat.

"Oouuhh.." desah Asmarani lirih.

Lalu aku menjilati seluruh tubuhnya yang putih mulus tanpa cacat itu, hingga sampai ke bawah pusar dan menatap vagina Asmarani yang di tumbuhi bulu-bulu lembut. Aku terus menatap vaginanya yang belum di jamah oleh siapapun, dan baru kali ini Asmarani menyerahkan kesuciannya kepadaku yang telah resmi menjadi suaminya.

"Oh Yasir lakukanlah, aku sudah tak tahan lagi."

Lalu aku menelentangkan tubuh Asamarani di atas ranjang pengantin. Dan dan aku siap menghujamkan senjata andalanku yang sudah menegang ke dalam gua pribadi Asmarani yang sudah lembab.

Kemudian aku merangkak naik dan menindih tubuh Asmarani yang susah sangat bergairah itu. Kemudian Asmarani membantu penis milikku untuk masuk ke vaginanya dengan nerenggangkan pahanya., tetapi senjata milikku itu tidak bisa langsung menembus benteng bertahanannya, dan sesekali terpeleset. Asmarani memang masih suci dan belum pernah melakukan itu, dan wajar jika aku agak kesulitan memasukkan senjataku ke gua pribadinya.

Setelah berkali-kali mencoba dengan bersusah payah akhirnya senjata andalanku bisa melesak ke dalam secara perlahan-lahan.

"Ouuhh.." desah Assamarani lirih karena merasa sedikit nyeri pada kedua pahanya.

Kami berhenti sejenak saat kepala penisku sudah berada dirahimnya. Lalu dengan gerakan perlahan aku menggerakkan pantat naik turun teratur, dan Asmarani membantu dengan menggoyangkan pantatnya. Cukup lama kami memacu dalam birahi kenikmatan di atas ranjang pengantin itu. Hal itu terus kami lakukan sampai suatu saat Asmarani yang berada di bawah tubuhku dengan memeluknya sangat ketat mendorongku ke samping sampai aku terlentang diatas ranjang pengantin itu, kemudian Asmarani menindih tubuhku dan memeluknya dengan ketat seakan tak mau lepas, dalam posisi itu kami kembali memacu dalam birahi dan Asmarani menggyangkan pantatnya sambil melumat bibirku.

Kami melakukan itu berulang-ulang selama semalam suntuk sampai kami berkeringat dan puncak kepuasan akan kami rengkuh. Kami melenguh puas sambil terkulai di atas ranjang pengantin yang sepreinya sudah acak-acakan tak karuan karena kebinalan Asmarani dan aku juga. Dan saat itu letupan spermaku meleleh karena cukup lama menyetubuhi Asamarani, istriku. Serta kami sama-sama merasakan kepuasan dan kenikmatan yang begitu dahsyat yang baru kami dapatkan.

E N D

Memperdaya Artis Idola


Jay berjalan menyusuri lorong lokasi syuting. Ia adalah salah satu figuran dalam sinetron ini, yang berkisah tentang dunia kampus. Ketika ia melintasi sebuah ruangan berwarna kuning yang menarik perhatiannya, ia melongok ke dalam dan melihat ada kursi sofa kulit warna hitam dan meja kecil dengan kotak donat diatasnya. Disebelah kanan sofa tersebut terdapat lemari pakaian, dan disebelah kiri ada cermin panjang.

"Ooo..donat..!!" kata Jay dalam hati. Diambilnya beberapa buah, lalu disambarnya sebuah majalah dan iapun membaringkan diri di sofa tersebut. Tak beberapa lama iapun mengantuk dan tertidur di sofa tersebut.

Feby Febiola bergegas masuk ke dalam ruangan ganti pribadi yang disediakan untuknya dan suaminya, Bruce, yang berkebangsaan Perancis. Karena sibuknya shooting sinetron, Feby dan suaminya jarang mempunyai waktu luang untuk mereka, sehingga Bruce sering datang ke lokasi shooting agar bisa mendapatkan waktu untuk bercinta dengan Feby Febiola, istrinya yang cantik. Bagi Feby, Bruce adalah pria pertama dan satu-satunya yang pernah menikmati kemulusan tubuh Bintang Lux tersebut. Bruce sangat pandai dalam bercinta, dan hampir tiap kali membuat Feby merasakan nikmatnya sex. Bruce piawai menggunakan lidahnya, menyapu bibir vagina dan klitoris Feby, membuat istrinya itu menggelinjang dan merintih-rintih kenikmatan. Walaupun demikian, Feby tidak pernah mau mengulum penis Bruce, apalagi melakukan anal sex seperti yang sering diminta oleh pria Perancis itu.

Feby adalah tokoh utama dari sinetron ini, dimana ia memerankan seorang mahasiswi kembang kampus yang juga seorang cheerleader. Pada pengambilan gambar sebelumnya, ia menggunakan rok cheerleader yang tingginya 4 cm diatas lutut, sehingga mempertontonkan kemulusan pahanya, serta t-shirt putih ketat yang tak mampu menyembunyikan keindahan buah dadanya. Feby melihat bahwa "Bruce" (atau orang yang disangkanya sebagai Bruce) sedang tertidur lelap diatas sofa. "Kasihan..dia pasti lelah menunggu syuting. Aku harus memberikan alasan yang bagus agar dia terbangun. " pikir Feby. Feby pun kemudian membuka lemari pakaian untuk berganti.

Tepat pada saat itu, Jay terbangun, dan melihat bahwa ada orang sedang berganti pakaian. "Waduh..gawat!! " pikirnya. Ia kemudian melihat bahwa pintu kamar mandi terbuka, dan cepat-cepat ia masuk bersembunyi di dalamnya. Dari kamar mandi Jay kemudian mengintip keluar, dan ia tidak bisa mempercayai matanya.

Feby Febiola!! Bintang sinetron yang sering menghiasi mimpi-mimpi seksual Jay, kini sedang melepas pakaiannya satu persatu di hadapan mata pria itu. T-shirt ketat Feby Febiola sudah ditanggalkan, dan sekarang bintang cantik itu melepaskan BH-nya. Feby lalu mengagumi buah dadanya sendiri di kaca, buah dada yang bulat dan penuh, dengan puting yang kemerahan. Feby tahu bahwa Bruce-pun menyukai payudaranya, asal ia tidak terlalu keras meremas-remasnya, Feby senang dengan perlakuan Bruce pada buah dadanya itu. Sementara itu di kamar mandi, Jay tak henti-hentinya mengocoki kemaluannya melihat adegan telanjang Feby Febiola.

Lalu Feby mengenakan t-shirt tanpa bra, dan kembali ke dalam ruangan untuk menemui "Bruce". Tetapi didapatinya sofa tersebut kosong. "Kemana dia?" tanya Feby dalam hati. "Padahal aku ingin memberikan pelayanan untuknya"
Jay yang ada di kamar mandi sudah tidak kuat lagi menahan nafsunya. "Aku harus bisa meniduri Feby Febiola" katanya. Pelan-pelan ia keluar, dan mendekati Feby Febiola dari belakang. "Sekarang atau tidak sama sekali" tekad Jay. Ia memeluk Feby dari belakang dan mencium lehernya yang jenjang nan mulus.

"Oh..dari mana saja kamu..? Tanya Feby sambil kegelian ketika lidah Jay menyapu leher hingga belakang telinganya. Tangan Jay telah berada pada payudara bulat dan montok milik Feby. Ia seakan bermimpi ketika meremasi buah dada bintang pujaannya itu. Keindahan buah dada Feby Febiola mungkin hanya kalah dari Tamara Blezinski.

"Ooohh..Bruce.." Feby mendesah merasakan nikmatnya payudaranya diremas-remas oleh Jay. "Ayo sayang..aku sudah kepingin.." pinta Feby. Jay kemudian mendorong tubuh Feby hingga Feby berlutut di sofa, dan menarik turun celana dalamnya. Pantat Feby yang bulat indah itupun tampak di hadapan mata Jay, menyebabkan kemaluan Jay yang sudah tegang seakan mau meledak. Tanpa berlama-lama Jay membuka celananya sendiri dan segera menaruh kemaluannya di depan liang vagina Feby.

"Ooohh.." Desah Feby dan Jay bersamaan ketika penis Jay menembus liang vagina Feby Febiola. Jay dengan cepat menggenjot Feby doggie style. Liang vagina Feby masih rapat walaupun sudah setahun lebih menikah. Karena nafsunya sudah di puncak, Jay mulai merasakan penisnya berdenyut-denyut, siap menumpahkan air maninya dalam lubang kemaluan Feby. Dipercepatnya kocokan dalam kemaluan artis cantik itu, dan dalam sekejap Jay pun menumpahkan spermanya dalam kemaluan Feby Febiola. Tapi Jay terus memompa penisnya keluar masuk vagina Feby sehingga tak lama kemudian, Feby pun mencapai orgasme.

Feby terkapar lemas di sofa menikmati sisa-sisa orgasmenya setelah digarap Jay. Sperma Jay sebagian mengalir keluar dari vaginanya. Tapi Jay sepertinya belum puas karena penisnya kembali mengeras.
"Dia cantik sekali!!" seru Jay dalam hati. Iapun berkeinginan untuk merasakan jepitan payudara Feby yang montok itu. Matanya mencari-cari di sekeliling dan ia menemukan sehelai selendang yang kemudian diambilnya. "Ini harusnya cukup" pikirnya. Ia lalu menutup mata Feby Febiola dan membalikkan tubuh mulus artis pujannya itu. Jay kemudian meremas-remas payudara Feby dengan lembut. Kemudian ia menciumi bongkahan payudara yang montok itu. Feby menggelinjang-gelinjang kegelian: " Ooohh..Bruce.." rintih Feby manja.

Jay kemudian mengangkangi tubuh Feby dan meletakkan penisnya yang sudah tegang itu di belahan dada montok yang selalu dimimpikannya. Feby menekan kedua buah dadanya sehingga penis Jay terjepit erat ditengah. Jay tidak membuang waktu dan segera memaju mundurkan penisnya di tengah jepitan payudara Feby. Dalam sekejap penis Jay memuntahkan sperma yang mengalungi leher jenjang Feby. Dengan tiba-tiba Jay memasukkan penisnya kedalam mulut Feby tepat ketika penisnya menyemprotkan muntahan sperma kedua. Mau tak mau Feby Febiola menelan sperma Jay dan membuat bintang film cantik itu ingin muntah. Seumur hidup belum pernah ada kemaluan lelaki, bahkan suaminya sekalipun, yang masuk ke mulutnya. Kini ia harus menelan spermanya pula.

Feby cepat-cepat bankit berdiri berusaha memuntahkan sperma di mulutnya. Namun Jay menangkap tubuh mulus Feby dan melempar kemabli ke sofa. Jay kemudian menunggingkan Feby sehingga pantatnya yang padat itu terangkat ke atas. Ia kemudian menyibakkan belahan pantat Feby dan menaruh ujung penisnya di depan anus perawan Feby Febiola.

"Bruce!! Jangan!! Kamu kan tahu saya tidak mau..AAHH!!" Feby Febiola menjerit keras kesakitan ketika anusnya ditembus oleh penis Jay. Lubang pantatnya yang sempit dan masih perawan itu diperkosa dengan kasar oleh Jay.

"KELUARKAN BRUCE!! SAKIITT!! OOHH!! " Feby berteriak-teriak merasakan anusnya robek oleh kemaluan Jay. Wanita cantik itu menangis sambil meremasi sofa tempat ia digagahi melalui anus oleh "suaminya". Tak lama kemudian, Jay memuntahkan spermanya dalam lubang anus Feby.

"Ooohh..Bruce..kamu tega sekali.." tangis Feby kesakitan. Darah bercampur sperma mengalir keluar dari liang anus Feby yang baru saja diperawani Jay. Jay kemudian mengambil celana dalam Feby. Diusapnya darah dan sperma dari pantat bintang Lux yang cantik itu dengan celana dalamnya. Dan kemudian Jay pun keluar meninggalkan kamar Feby Febiola dengan senyum kepuasan.

Di Balik Runtuhnya Quel'thalas


Episode rahasia dari runtuhnya Quel'thalas oleh kekuatan Undead yang disensor dari game Warcraft 3 oleh pembuatnya, Blizzard Entertainment. Anda akan tahu sendiri mengapa. Berikut backgound info bagi yang tak main game-nya (kasihan deh loe..).

*****

Ketika itu kerajaan Human (manusia) dan Elf (peri) membentuk persekutuan (The Alliance) melawan bangsa Orc yang menyerbu daerah mereka. Secara fisik Elf mirip manusia, namun lebih tinggi dan kurus. Kaum prianya rata-rata 190-200 cm dan wanitanya 170-180 cm. Kulit elf lebih halus dan putih sehingga banyak kaum wanitanya lebih cantik dan menarik dibanding wanita Human. Karena kemiripan diantara mereka serta hubungan baik diantaranya, tak jarang adanya perkawinan antar kedua ras tersebut. Keturunan pria human dengan gadis elf atau sebaliknya disebut Half Elf (setengah elf).

Setelah pasukan Sekutu (The Alliance) berhasil mengalahkan Orc, sisa-sisa Orc diperbolehkan tinggal di daerah mereka asal tidak berbuat keonaran lagi. Namun perdamaian tak berlangsung lama karena munculnya pasukan Undead (bangsa hantu, makhluk mati yang hidup abadi) yang sangat kuat entah darimana asalnya. Mereka menguasai daerah perbatasan dan membunuhi penduduk Human, Elf, maupun Orc. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, bangsa Orc setuju berjuang bersama pasukan Sekutu melawan musuh bersama, Undead. Merasa kuat, pasukan Undead langsung menyerbu jantung pertahanan pasukan Sekutu.

Namun ternyata tentara Sekutu berhasil menghancurkan sebagian besar kekuatan Undead. Semua ini berkat superioritas strategi jenderal-jenderal Sekutu, diantaranya Pangeran Arthas (putra mahkota kerajaan Human, Lordaeron), Lord Uther (pemimpin Orde Paladin, pasukan elit berkuda Lordaeron), Jaina Proudmoore (penyihir putih atau Archmage, putri dari mendiang Admiral Proudmoore), Sylvanas Windrunner (pahlawan wanita elf yang muda dan berani), serta pahlawan baru Thrall (pemimpin muda bangsa Orc dengan ilmu sihir petirnya yang menyambar musuh-musuhnya, Chain Lightning spell).

Sementara pemimpin pasukan Undead, Lich King, yang tanpa jasad berkomunikasi lewat Necromancer (penyihir jahat) bernama Kelth'uzad. Lich King menyadari meski pasukannya lebih kuat dibanding Sekutu, namun mereka tidak memiliki pemimpin perang yang handal seperti musuhnya. Akhirnya ia menjebak pahlawan muda yang emosional, Pangeran Arthas untuk bertempur di pihaknya. Ia memprovokasi Pangeran Arthas ke daerah Frostmourne yang dingin bersalju dan disana ia mengontrol jasad dan keahlian si pangeran. Kini Arthas bukanlah dirinya sendiri namun Lich King yang berada didalamnya.

Pasukan sekutu yang tidak menyangka bahwa Arthas berbalik mengkhinati mereka, dengan mudah dapat dihancurkan. Arthas mendatangi ibukota Lordaeron, membunuh ayahnya sendiri dan mengklaim kerajaan Lordaeron sebagai miliknya. Lord Uther, walau mengalahkan Arthas dalam pertempuran satu lawan satu, akhirnya terbunuh setelah Arthas mengeroyok rame-rame dengan pasukan Undead-nya. Sementara Jaina dan Thrall masing-masing melarikan diri entah kemana.

Sisa tentara Elf segera mundur ke wilayahnya sendiri membuat pertahanan yang kuat. Kuatnya magic elf serta kegigihan perlawanan Sylvanas awalnya mampu merepotkan tentara Undead dan membuat kesal Arthas. Namun sehebat apapun, berkat keunggulan jumlah dan kualitas tentara Undead, akhirnya Undead berhasil mendesak musuh sampai ke ibukotanya. Kini Arthas sedang menyiapkan pasukannya untuk habis-habisan menggempur ibukota Quel'thalas, pertahanan terakhir bangsa Elf.

Sylvanas dan pasukannya yang sedang berpatroli di luar batas kota mengetahui rencana Arthas untuk menyerbu ibukota itu. Ia mengirim pasukannya untuk secara periodik mengganggu persiapan Arthas dan mengirim beberapa pelari-pelari unggulannya ke ibukota untuk memperingatkan mereka. Namun Arthas mengetahui rencana Sylvanas, ia menggunakan pasukan gargoyle-nya membunuhi semua utusan di jalan. Arthas takut para tetua elf di ibukota mengaktifkan sumber magic utama elf, yang kekuatan sucinya bisa jadi membuat pasukannya tak berdaya. Sementara Sylvanas yang yakin kekuatan magic bangsanya mampu mengalahkan Undead dan salah satu dari pelarinya mampu mencapai ibukota, terus melancarkan serangan-serangan yang mengganggu pasukan Undead.

Arthas yang telah sering dibuat kesal oleh Sylvanas menjadi marah dan bersumpah akan membalas Sylvanas. Ia menunda penyerangan ibukota dan membawa sebagian pasukannya menyerang pos Sylvanas. Terjadilah pertempuran yang berat sebelah, karena bantuan yang diharapkan dari ibukota tak kunjung datang sementara pasukan Undead demikian banyaknya. Sementara pasukannya satu persatu habis dibantai musuh, ia bertarung hebat dengan Arthas. Ia memanahi musuh besarnya itu namun tak ada satupun yang mengenainya sampai anak panahnya habis semua. Namun ia tidak takut, ia telah siap menerima kematian. Tapi ternyata Arthas tidak berencana segera membunuhnya.

"Arthas terkutuk, engkau yang telah membunuh ayahmu sendiri dan mengkhianati bangsamu. Engkau boleh membunuhku sekarang, aku tidak takut mati. Mati dalam perjuangan adalah suatu kehormatan bagi elf."
"Hi perempuan elf, berkali-kali engkau merepotkanku, kini saatnya aku membalas dendam kepadamu. Aku tidak akan langsung membunuhmu, namun aku akan merusakmu dan membuatmu terhina selamanya."
"Apa.. Apa yang akan kau lakukan?" Sylvanas mulai bergidik ngeri membayangkan apa yang akan dilakukan Arthas.
"Ha.. Ha.. Ha. Engkau bangsa elf sok suci. Merasa hebat dengan kekuatan magic-mu, menganggap Undead adalah terkutuk. Kini engkau akan kubuat menjadi seperti kami yang terkutuk selamanya. Namun aku akan melakukannya dengan cara yang khusus yang akan membuatmu merasa terhina selamanya. Ha.. Ha.. Ha.."
"Oh, tidak. Jangan. Arthas, kumohon, bunuhlah aku saja. Tapi jangan membuatku terhina untuk selamanya. Aku mohon Arthas. Bukankah kita dulu pernah berjuang bersama-sama. Dimana jiwa ksatria dan rasa belas kasihanmu?"
"Ha.. Ha.. Ha.. Ha. Aku kini bukanlah Human lagi melainkan Undead yang tidak mengenal nilai-nilai itu. Sudah jangan banyak bicara lagi."

(**Bagian yang di-cut oleh Blizzard Entertainment**)

Lalu Arthas mengeluarkan sebotol magic potion (ramuan ajaib) yang berwarna tiga lapis hitam, coklat, dan abu-abu.

"Hmm minuman ini akan segera membuatmu bergairah dan lupa diri. Engkau akan segera melupakan nilai-nilai bangsamu yang sok suci itu."
"Tidak.. Ohh.. Jangan.. Ehmm.. Ehmm.. Glek.. Glek.. Glek."

Mula-mula Sylvanas mencoba meronta melawan tapi apa daya akhirnya terminum juga ramuan yang dituangkan ke mulutnya oleh Arthas.

"Ohh.. Ohh.. Apa yang terjadi pada diriku. Oh dingin sekali, Arthas peluklah aku. Aku kedinginan," kata Sylvanas sambil memeluk Arthas.
"Heheheh. Nah, kini prosesmu menjadi terkutuk dimulai," kata Arthas sambil memeluk Sylvanas dan melumat bibirnya yang merah dengan bibirnya sendiri.
"Ohh," keluh Sylvanas sambil membalas dengan ciuman yang tak kalah hangatnya.

Beberapa saat mereka saling berpagutan, bibir bertemu bibir, lidah bertemu lidah sambil bergulingan di atas rumput. Lalu Arthas merobek baju perang Sylvanas, terlihatlah pakaian khas elf yang berwarna putih. Sekali tarik, lepaslah semua kancing bajunya. Kini tampaklah sebagian kemulusan tubuhnya yang hanya ditutup oleh pakaian dalam yang minim. Sekali lagi, ditariknya pakaian dalam itu, kini tidak ada lagi yang menutupi tubuh Sylvanas.

Tubuhnya yang telanjang bulat itu sangatlah menggiurkan. Terpaan angin pagi membuat wajahnya yang cantik menjadi kemerahan membuatnya makin menarik. Kulitnya yang putih mulus. Rambutnya yang hitam panjang dan lurus itu tertiup angin yang menerpanya. Kedua payudaranya cukup besar meski tubuhnya tinggi langsing. Payudaranya begitu kencang dan kenyal bergerak-gerak dengan bebasnya. Kedua putingnya yang kelihatan sensitif akan sentuhan itu menonjol menantang. Rambut-rambut di sekitar kemaluannya begitu lebatnya juga bergerak-gerak tertiup angin. Melihat ini semua, Arthas menjadi sangat bernafsu sekali. Sejak kecil Sylvanas dibesarkan di bangsa yang menganggap seks sebagai hal yang sakral. Namun ramuan yang diminumnya mengubah unsur magic yang ada dalam dirinya sejak awal itu menjadi energi yang membangkitkan nafsu seks yang menggelora.

Arthas, yang awalnya berjiwa baik, setelah dikuasai oleh Lich King menjadi berubah. Ia kini berdarah dingin tak kenal kasihan dan menggunakan segala cara untuk memenuhi ambisinya. Sementara fisiknya pun juga berubah. Sebelumnya ia adalah orang yang tegap tampan, kulitnya putih, hidungnya mancung. Kini setelah menjadi Undead, kulitnya berubah menjadi hitam, garis-garis wajahnya yang tampan berubah menjadi jelek, kulitnya berkeriput seperti orang tua, urat-uratnya muncul semua, hidungnya yang mancung menjadi bengkok. Saat melihat Sylvanas telanjang bulat, nafsu seksnya menjadi menggelora, terutama karena Lich King yang menguasai tubuhnya begitu lama tak bisa menyalurkannya karena tanpa jasad. Arthas segera melepaskan seluruh pakaiannya sendiri. Nampak penisnya yang hitam dan besar berdiri dengan tegaknya. Urat-uratnya nampak menonjol.

Langsung Arthas menyergap tubuh putih yang telanjang itu, membelainya, menciumi lehernya yang mulus, dadanya menempel ke dada Sylvanas yang empuk. Ia mengecup kedua sisi lehernya dengan ganas, sampai meninggalkan bekas merah di lehernya yang putih. Kemudian ia segera meremas kedua payudaranya, memainkannya, menggesek-gesek pentilnya dengan jari-jarinya. Bibirnya yang hitam segera mengecupi payudara Sylvanas yang putih. Lidahnya yang merah kehitaman menjilati seluruh bagian payudara itu, sampai berakhir di puncaknya, memainkan lidahnya di kedua pentilnya bergantian. Tubuh Sylvanas mengejang, kedua tangannya menjambak rambut Arthas yang kumal itu.

"Oooh Arthas, ooh, ohh, nikmat sekali."

Lalu tangan Arthas meraba-raba paha Sylvanas, merasakan kemulusan kulitnya di sekitar vaginanya, menjamah bulu kemaluannya kemudian menggesek-gesekkan liang vaginanya.

Lalu Arthas berbaring telentang di rumput, penisnya berdiri dengan tegak 90 derajat. Ia menyuruh Sylvanas untuk memuaskannya. Sylvanas mengikutinya dengan patuh. Ia tidur di atas tubuh Arthas, ternyata tingginya sama persis dengannya. Ia menciumi bibir dan memaguti seluruh muka Arthas, dadanya yang putih menonjol menempel di dada Arthas. Perlahan tapi pasti tubuhnya digerakkan ke bawah, menciumi leher, dada, membalas mengecupi dada dan puting Arthas yang berbulu, turun ke perut sampai menjilati daerah kedua pahanya. Sementara bergerak kebawah, dadanya terus menempel di tubuh Arthas, kedua payudaranya bergerak turun dari dada sampai ke bagian kaki Arthas.

Ketika di tengah jalan sampai di penisnya, digesek-gesekkan payudaranya yang montok ke penis itu, lalu dijepit di tengah-tengah payudaranya. Terakhir, dijilatinya batang penis hitam berurat yang berdiri tegak itu. Kepala penisnya yang membesar dimasukkan ke dalam mulutnya dan diemutnya. Lidahnya dengan tangkas dimainkan di kepala penis Arthas. Karena tidak tahan dengan keliaranSylvanas, akhirnya Arthas menyuruhnya berhenti. Kini giliran Arthas yang membalas. Bibirnya yang kehitaman segera menjilati liang vagina Sylvanas, menggerak-gerakkan klitorisnya dan merangsangnya di bagian G-spotnya. Sementara kedua tangannya tak mau tinggal diam segera merengkuh meremas-remas dan merangsang kedua puting Sylvanas yang telah mengeras tanda ia telah terangsang. Badan Sylvanas menggelinjang dibuatnya.

"Ohh.. Ohh.. Ahh.. Ahh.. Ehhmm.. Ahh.. Ahh.. Ahh.. Ahh.. Ahh.. Ahh.. Ahh.. Ohh"

Sampai sini Sylvanas tidak tahan akhirnya ia mengalami orgasme, vaginanya basah kuyup. Bulu-bulu kemaluannya menempel.

Puas karena berhasil "membalas" Sylvanas, Arthas tidur tengkurap, menyuruh Sylvanas"me-massage" punggungnya dengan kedua payudaranya yang montok itu. Setelah bermain beberapa saat, Arthas membuka kedua kaki Sylvanas yang jenjang itu lebar-lebar hampir 180 derajat (kelebihan elf adalah otot-ototnya yang lemas jadi mereka lebih ahli dalam beberapa posisi yang akrobatik). Dengan kekuatan penuh Arthas menyodokkan penisnya masuk seluruhnya ke dalam vagina Sylvanas. Terdengar erangan Sylvanas ketika keperawanannya akhirnya ditembus oleh Arthas.

"Ahh"

Dengan persetubuhan ini proses Sylvanas menjadi Undead telah dimulai karena unsur magic suci dalam tubuh Sylvanas berubah menjadi 'hitam'. Lalu Arthas segera mengocok penisnya di dalam vagina Sylvanas. Tubuh Sylvanas bergetar hebat karenanya, sampai payudaranya berputar-putar mengikuti irama sodokan Arthas.

"Ohh ahh ahh aduh enak ahh ahh ahh ohh enak sekali ahh"

Sylvanas kegelian merasakan kenikmatan yang sebelumnya belum pernah ia rasakan itu, kedua tangannya yang panjang memeluk tubuh Arthas. Ia menerima dengan pasrah dan menikmati kocokan Arthas di dalam tubuhnya itu. Demikianlah kedua orang yang sebelumnya berusaha saling membunuh itu kini saling menikmati satu sama lain. Sementara Arthas (Lich King) merasakan sensasi yang luar biasa karena dirinya yang kotor berhasil menikmati dan memerawani Sylvanas yang suci itu.

Kekuatannya segera bertambah saat ia menyetubuhi Sylvanas, karena magic dalam tubuh Sylvanas berpindah ke tubuh Arthas. Ia menyerap magic dalam tubuh Sylvanas dalam beberapa posisi karena setelah itu berubah jadi doggy style, lalu woman on top, lalu satu kaki diangkat di atas pohon, sambil berdiri, di dalam sungai, di bawah air terjun, dll. Sampai akhirnya setelah semua magic diserapnya, ia menumpahkan spremanya di dalam mulut Sylvanas yang segera ditelannya semua dan dijilati penisnya sampai benar-benar habis. Unsur Undead kini telah mengalir di dalam darah Sylvanas.

Karena kesal dengan perbuatan Sylvanas sebelumnya, dan untuk lebih mencemari lagi, Arthas memanggil lima orang acolyte-nya (acolyte adalah human pemuja Lich King, yang karena kepercayaannya, diperbolehkan melayani Lich King sebagai budaknya. Mereka adalah kelompok terendah di barisan Undead). Lalu Arthas menyuruh mereka untuk menikmati tubuh putih mulus Sylvanas yang telentang telanjang bulat di atas rumput. Kini tubuh Sylvanas yang putih mulus itu dikeroyok rame-rame oleh lima acolyte yang tubuhnya juga telah berubah menjadi hitam itu. Mereka sangat bernafsu sekali karena biasanya mereka hanya boleh menambang emas atau memperbaiki bangunan saja.

Kini mereka boleh menikmati mulusnya pahlawan wanita musuh yang cantik jelita. Dengan semangat yang meluap-luap mereka melampiaskan nafsu mereka ke tubuh mulus Sylvanas. Demikianlah nasib Sylvanas yang sebelumnya adalah gadis pahlawan terhebat elf kini menjadi permainan lima orang buruh kasar pihak undead, jadi pelampiasan nafsu angkatan terendah pihak musuhnya. Namun ia dengan pasrah melayani keliaran permainan mereka bahkan menikmatinya. Kemudian, Arthas memanggil kesepuluh Abominationnya yang terjelek. (Abomination adalah tentara perang elite Undead. Perawakannya mirip manusia, namun lebih tinggi dan besar. Tampangnya jelek. Perutnya buncit dan gerakannya lamban, namun tenaganya sangat kuat. Kulitnya putih kemerahan. Ternyata penisnya besar sekali). Kembali Sylvanas digauli oleh kesepuluh abomination itu yang sebelumnya tidak pernah merasakan nikmatnya wanita. Dengan penuh nafsu mereka menggauli gadis yang telah beberapa kali menyusahkan mereka itu. Aksi balas dendam mereka diwujudkan dengan permainan liar mereka yang bergantian menggilir pahlawan wanita muda elf itu sampai mereka semua puas.

Sylvanas menjadi semakin ternoda oleh unsur Undead namun ia menikmati permainan seks mereka akibat ramuan yang diberikan oleh Arthas itu. Total ia mengalami orgasme 18 kali. Tiga kali oleh Arthas, lima kali oleh para acolyte, dan sepuluh kali dengan para abomination. Sementara Sylvanas mulai sadar kembali dari pengaruh ramuan. Ia menyadari dirinya sudah ternoda begitu banyak dan kesaktiannya sudah lumpuh sama sekali. Namun kini semuanya sudah kepalang basah. Lalu Arthas berkata kepadanya.

"Kini tiba saatnya untuk menggenapi kenistaanmu."

(**Akhir dari bagian yang disensor oleh Blizzard Entertainment)

Lalu Arthas menusukkan pedang pusakanya ke tubuh Sylvanas (tentu saja digambarkan berpakaian lengkap. Namun kini anda tahu apa yang sebenarnya terjadi).

Sehingga terlepaslah roh Sylvanas dari tubuhnya. Dengan begitu Sylvanas akhirnya menjadi Undead yang tidak bisa mati dan terkutuk selamanya. Ia juga merasakan penghinaan selamanya karena jiwanya abadi. Itulah sebabnya mengapa ia begitu membenci Arthas dan menjadi Dark Ranger yang begitu terobsesi membunuh Arthas (Hanya anda, para pembaca www.17Tahun.com yang tahu alasan yang selengkapnya).

Epilog

Beberapa waktu kemudian, Arthas memerintahkan pasukannya untuk segera menyerbu Quel'thalas yang rupanya tidak siap karena tak ada utusan Sylvanas yang sampai ke ibukota. Dengan mudah dihancurkannya kota tua yang indah itu. Seluruh bangunan dibikin rata dengan tanah, penduduknya dibantai habis dan hancurlah kebudayaan elf yang tua dan luhur itu.

E N D